Watuk ana tambané, watak digawa mati?

Watuk ana tambané, watak digawa mati. Kalau dalam bahasa Indonesia kira-kira artinya adalah “batuk itu ada obatnya, tetapi watak dibawa sampai mati”. Saya berulang mendengar kalimat ini, terutama kalau ada orang yang kesal dengan karakter orang lain begitu menjengkelkan. Saya tidak setuju dengan pernyataan ini. Bagi saya karakter itu bisa diubah.

Eh, bukannya watak dan karakter berbeda ya? Tidak tahu juga, ada yang membedakannya memang. Tetapi kalau dalam KBBI, keduanya disinonimkan.

Watak: sifat batin manusia yang memengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku; budi pekerti; tabiat.

Karakter: sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain; tabiat; watak.

Nah, saya nurut saja dengan KBBI ya, bahwa watak bersinonim dengan karakter.

Kalimat di atas muncul karena anggapan bahwa karakter itu bawaan sejak lahir, tidak bisa diubah, dan akan terus seperti itu sampai dibawa ke liang kubur. Ini yang saya tidak sepaham. Benar bahwa ada faktor genetika yang mempengaruhi karakter seseorang. Artinya memang benar bahwa sejak lahir kita membawa karakter-karakter tertentu.

Tetapi menurut hemat saya, ada faktor lain yang bisa mempengaruhi karakter kita. Paling tidak lingkungan adalah faktor yang sangat penting membentuk karakter kita. Ketika saya berbicara tentang lingkungan, saya sedang menunjuk kepada interaksi kita dengan orang-orang di sekeliling kita, kepada apa yang kita tangkap, dengar, lihat, pahami, baik melalui pendidikan formal maupun melalui kehidupan kita sehari-hari.

Bisa diperhatikan gambar berikut ini.

Yang lebih rapi lebih enak dipandang kan?
yang lebih rapi lebih enak dipandang kan?

Ini adalah gambar tempat parkir salah satu instansi di mana saya mengabdi. Memang tidak ada petugas khusus yang mengatur parkir. Gambar bagian atas adalah contoh penataan motor sehari-hari. Sekali waktu saya tata supaya lebih enak dilihat seperti gambar yang bawah. Dua gambar itu kemudian saya bagikan ke grup WA. Besoknya, masing-masing orang berusaha setiap kali datang menata motor serapi mungkin. Berapa hari hal semacam ini bisa bertahan? He … he … he. Tidak sampai seminggu sudah kembali seperti kondisi semula. Banyaklah alasannya, terburu-burulah, sudah terlambat, tidak sempat, dan alasan yang lainnya.

Menurut Anda, apakah memang ada orang-orang yang punya karakter menyukai hal yang berantakan, sementara ada orang-orang yang memang memilih kerapian? Kalau karakter itu tidak bisa berubah dan dibawa sampai mati, betapa susahnya hidup ini.

Begini ya, saya kok punya prinsip ini. Hal-hal yang kita kerjakan berulang dalam keseharian kita akan membentuk kebiasaan. Kebiasaan yang dilakukan terus-menerus dalam hidup akan mencipta karakter kita.

Maka, saya kembali menyatakan tidak setuju jika dinyatakan bahwa karakter tidak bisa diubah dan akan dibawa sampai mati. Meski, saya juga mengakui bahwa setiap hari saya menemukan orang-orang yang ndableg setengah mati. Orang-orang yang sepertinya tidak mau berubah menjadi lebih baik. Yang saya takutkan sih sebenarnya mereka ini sudah terlambat untuk berubah.

Apa iya kita mau menjadi pemalas sepanjang hidup kita? Apa iya anak cucu kita akan mengenang kita sebagai pemarah? Apa iya kenangn yang kita tinggalkan kepada rekan-rekan kerja kita adalah tentang seorang bertabiat buruk? Ayolah, mumpung masih ada waktu, berubah jadi lebih baik yuk.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.