Karunia Allah tidak dapat dibeli dengan uang

Izinkan saya mengucapkan selamat memperingati hari Pentakosta. Roh Kudus yang dicurahkan di hari Pentakosta pada waktu itu adalah Roh Kudus yang sama yang dicurahkan-Nya kepada orang Kristen di masa ini. Kiranya kita semua terus berjuang untuk hidup dan berjalan di dalam Roh.

Bacaan kita di atas mengisahkan tentang Simon, seorang mantan tukang sihir yang bertobat saat menerima pemberitaan Injil oleh Filipus. Saya ingin menunjukkan dari kisah tersebut tentang bagaimana seorang Kristen yang belum dewasa memandang kuasa Roh Kudus itu.

Perhatikan Kisah Para Rasul 8:13, di sana dikatakan bahwa Simon takjub melihat tanda-tanda dan mujizat-mujizat besar. Lhoh apa salahnya memang takjub terhadap tanda-tanda heran dan mujizat-mujizat besar, bukankah itu berasal dari Tuhan? Tidak salah memang, tetapi menjadi salah saat mujizat dan tanda-tanda menjadi dasar dari iman kita.

Banyak orang Kristen sekarang ini terjebak di dalam hal ini. Kita selalu mengharapkan — dengan tanpa sadar — Tuhan Allah membuktikan diri-Nya kepada kita dengan mengadakan mujizat dan tanda-tanda heran. Dia sungguh Allah yang berkuasa, tetapi jika iman kita kepada-Nya berdasarkan ada tidaknya mujizat yang dikerjakan-Nya dalam hidup kita, ah … saya rasa kita ini masih kekanak-kanakan dalam kekristenan kita. Jika ketaatan dan ketundukan kita hanyalah karena kita melihat mujizat-mujizat yang dikerjakan Tuhan, ah … saya tidak tahu apakah kita masih layak disebut orang Kristen.

Mau Kristus lakukan mujizat ataupun tidak dalam hidup saya, Dia tetaplah Tuhan dan Juruselamat saya. Kalaupun seandainya sampai akhir hidup saya, tidak pernah Yesus kerjakan mujizat besar dan tanda-tanda heran, saya akan tetap jadi orang Kristen yang mengikut Dia selalu.

Berhati-hatilah, jika iman kita hanya berdasar kepada tanda-tanda dan mujizat-mujizat, kita akan sampai pada suatu keadaan yang dikatakan bahwa hati kita “seperti empedu yang pahit dan terjerat dalam kejahatan” (Kisah Para Rasul 8:23). Ciri berikutnya dari orang Kristen yang belum dewasa adalah mereka berpikir bahwa karunia Tuhan bisa dibeli dengan kekayaan.

Lihat bagaimana sekarang ini orang Kristen berlomba-lomba mempersembahkan kekayaannya dan uangnya. Tidak salah jika dilakukan dengan motivasi dan hati yang murni. Tetapi saat kita menjadi seperti Simon, dan berpikir bahwa semakin banyak kita mempersembahkan, maka semakin besar karunia yang kita terima adalah sebuah dosa yang layak dihukum dengan kebinasaan (Kisah Para Rasul 8:20-21).

Saya pernah berdoa saat memimpin persembahan dan mengatakan, “balaskanlah kepada umatmu ini 30 kali lipat, 60 kali lipat, dan 100 kali lipat”, dan saya yakin semua orang Kristen akan senang mendengar doa macam ini. Tetapi saya salah … sangat salah. Di mana ada ayat yang mengatakan kalau kita mempersembahkan sesuatu di gereja, maka Tuhan akan membalaskan 30, 60, atau 100 kali lipat? Tidak ada! Maafkan saya jika Anda pernah mendengar saya mengatakan hal itu, sekarang saya bertobat.

Lihat juga bagaimana Alkitab penuh dengan kisah orang-orang yang berusaha membeli karunia Allah. Lihat bagaimana Saul berusaha “menyuap” Tuhan dengan kambing, domba, ternak yang terbaik yang siap dikorbankan. Hal ini diperparah oleh para pengajar dan pengkhotbah zaman ini yang seenaknya mengambil ayat dan mengajarkan kepada orang Kristen.

Banyak yang mengutip Kejadian 8:21 “Ketika TUHAN mencium persembahan yang harum itu …“, dan mengatakan bahwa saat kita membawa persembahan kepada Tuhan, Dia berkenan kepada kita. Sesat! Bukan karena persembahan itu Tuhan berkenan, melainkan oleh hati Nuh yang mempersembahkan korban itu, hati yang taat tepat seperti yang diperintahkan Allah (Kejadian 6:22).

Saya tidak sedang mengatakan bahwa kita tidak perlu mempersembahkan uang dan kekayaan kita kepada Tuhan. Yang saya katakan adalah kalau saya dan Anda mempersembahkan uang kita, hendaklah itu dengan hati yang lurus di hadapan Allah (Kisah Para Rasul 8:21).

Mari bertobat bersama-sama, bukankah ini yang dikatakan Alkitab, “Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan” (1 Samuel 15:22)

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.