Toleran dan dewasa dalam berinteraksi di internet

Pertama kali berkenalan dengan internet sekitar tahun 90-an, kondisinya jauh berbeda dengan dengan sekarang ini. Dulu hanya tahu yang namanya surfing dan browsing. Internet hanya saya gunakan untuk mencari informasi atau jurnal-jurnal yang khusus. Bahkan e-mail pun sangat jarang digunakan. Dulu ke warnet (warung internet) paling sebulan sekali atau dua kali saja.

Saya rasa waktu itu – bagi saya – internet persis hanya salah satu jenis media massa yang menyediakan informasi secara satu arah, seperti koran, majalah, televisi, radio; bedanya internet ada dalam format digital, itu saja. Sekarang ini internet sudah bertransformasi sedemikian rupa dalam waktu relatif singkat. Hanya kurang dari sepuluh tahun, internet menjadi media komunikasi, media interaksi di mana dua atau lebih pihak saling berhubungan. Sosial media internet sungguh memegang peranan yang besar di sini.

Sekarang ini, internet sudah menjadi televisi yang baru. Dulu satu keluarga bisa berada di depan sebuah kotak yang mengeluarkan gambar bergerak dan suara dari dalamnya, sebuah kondisi yang mungkin sudah lagi jarang ditemui. Setiap orang lebih suka berada di depan komputer/laptopnya sambil mengakses internet untuk mendapatkan informasi terbaru yang memang lebih update daripada televisi. Bahkan ada yang mengatakan Twitter adalah televisinya, di mana tweeps adalah pembawa berita, narasumber, dan reporternya.

Facebook sudah menjadi “masyarakat” yang baru. Tahun ini katanya pengguna Facebook lebih dari 550 juta orang. Itu berarti sekitar 1/12 populasi dunia. Sistem masyarakat baru sudah terbentuk oleh internet. Tidak perlu bertemu dengan sahabat-sahabat kita untuk sekedar tahu bagaimana kabar mereka, sedang di mana mereka, dan apa yang mereka sedang lakukan. Diperkirakan ada 81% pengguna Facebook yang mengecek dan meng-update statusnya setiap hari. Wow! Ini sungguh cara berinteraksi yang baru.

Dulu, di saat kita membutuhkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di pikiran, kita bertanya kepada guru, dosen, atau profesor kita. Sekarang internet menawarkan “mbah Google” sebagai mentor baru. Hal ini tidak bisa disanggah, bahwa Google seperti paranormal/dukun yang tahu segala sesuatu, bahkan saat kita baru mengetik dua tiga huruf, dia sudah tahu apa yang akan kita tanyakan. Mungkin … mungkin mbah Google ini sudah menggantikan peran mentor di banyak bidang.

Dalam bukunya “Generation iY”, Tim Elmore menyebutkan generasi ini sebagai generasi iY. Generasi yang jauh berbeda dengan generasi Y (generasi milenium). Generasi iY adalah generasi kelahiran milenium yang tidak bisa terlepas dari “i”. Lihat saja betapa banyaknya “i” ini digunakan, mulai dari iPad, iPhone, iMobile, iLearning, dll. Yup, ini adalah generasi yang dipengaruhi dan bergantung kepada internet. Ada yang menyebutnya sebagai generasi gadget, di mana gadget bukan lagi sebagai alat, melainkan sudah menjadi anggota tubuh. Lihat saja bagaimana anak-anak dan remaja-remaja kita, kalau sampai gadget mereka ketinggalan, hal itu seperti hilangnya separuh nyawa 🙂

Indonesia tidak ketinggalan berada dalam atmosfer perubahan yang sama oleh internet ini. Menurut film Linimas(s)a (http://linimassa.org/) didapat data sebagai berikut:

  1. Pengguna internet di Indonesia – dengan berbagai macam alat – sebanyak 45 juta
  2. Pengguna Facebook di Indonesia sebanyak 30,1 juta, itu nomor 2 di dunia
  3. Pengguna Twitter di Indonesia sebanyak 6,2 juta (nomor 3 di dunia) dengan aktivitas tweets tertinggi di dunia sebesar 20,8%
  4. Sementara di Indonesia paling tidak ada 2,7 juta blogger

Dalam statistik kasar saja, hal ini berarti dari seluruh pengguna internet di Indonesia, ada hampir 67%-nya yang berinteraksi lewat sosial media internet. Untuk negara yang dikatakan internet cost-nya mahal, dan kecepatan akses internet yang lambat, aktifitas internet di Indonesia mengagumkan lho.

Cuma, menurut saya kesadaran dan kedewasaan berinternet di Indonesia belum cukup tinggi. Untuk menggolongkan pengguna internet di Indonesia, saya suka membuat dua kelompok sederhana. Yaitu, mereka yang masuk golongan subjek internet dan mereka yang masuk golongan objek internet. Bahasa sederhananya adalah ada kelompok yang memang benar-benar menggunakan dan memanfaatkan setiap aspek internet, tapi juga ada kelompok yang hanya menjadi penikmat atau bahkan hanya jadi korban internet saja.

“… kalau orang pakai Facebook, belajar Facebook, dan segala macam itu mungkin hal yang biasa, tapi pada saat belajar Facebook kemudian dia bisa menggali manfaatnya … itu adalah kombinasi yang dahsyat …” – film Linimas(s)a

Ada seorang kawan yang ke mana-mana bawa BlackBerry. Sekali waktu saat saya bawa laptop dia tanya, “mas, laptopnya bisa buat akses internet kan, tolong bukakan email saya ya!”. Wotz … buat apa dia bawa BB ke mana-mana. Nah, kalau yang seperti ini tidak disebut sebagai korban internet, apa coba?

Kalau saya menuliskan tentang memanfaatkan internet, itu bukan hanya berarti menghasilkan uang lewat internet lho. Memang bisa saja uang dihasilkan dari memanfaatkan internet. Tetapi yang lebih ingin saya tekankan adalah memanfaatkan internet untuk kebaikan diri sendiri dan kebaikan orang lain. Saya rasa @jalinmerapi dan gerakan “Blood4Life”, adalah contoh yang baik di mana internet dimanfaatkan untuk kebaikan, tanpa maksud komersial. Belum lagi dengan banyaknya fenomena kultwit. Banyak tweeps yang dengan senang hati membagikan keahlian dan informasi khusus yang dimilikinya melalui kultwit kepada orang lain tanpa memungut bayaran. Atau bisa juga saya contohkan berapa banyaknya blogger yang menyediakan tutorial dan ilmu-ilmu gratis di blog-nya.

Hukum di Indonesai dan hukum internasional menjamin kebebasan berekspresi sebagai hak bagi semua orang, termasuk kebebasan berekspresi via internet. Meskipun ada UU ITE yang beberapa pasalnya kontroversial dan memungkinkan multi-tafsir, harus diakui bahwa netter Indonesia memiliki kebebasan berekspresi yang cukup luas. Meski pernah ada ancaman pembatasan penggunaan Twitter oleh wakil pemerintah, tetap saja ini tidak menghalangi netter-netter yang vokal menyuarakan pendapatnya.

Dalam postingan sebelumnya tentang jenis-jenis tweet/status berdasarkan tujuannya, saya menyebutkan ada lima kelompok tweet/status.

1. Tweet/status Informatif
Tweet/status ini memiliki tujuan untuk memberikan informasi, baik berupa berita, ilmu, atau yang lainnya. Pemilik akun ini contohnya adalah stasiun berita, ilmuwan, organisasi keilmuan, bloger, dll. Ciri lain dari tweet/status informatif adalah adanya tautan/link ke sebuah website/blog. Di dalamnya termasuk aktifitas kultwit di Twitter.

2. Tweet/status Kritik Sosial
Tujuannya sangat jelas di sini, memberikan kritik sosial terhadap berbagai bentuk permasalahan, baik di tingkat masyarakat, bangsa, negara, bahkan juga lintas negara. Berbagai macam khotbah keagamaan termasuk ada di sini. Penulis tweet/status ini biasanya adalah para politikus, tokoh masyarakat, filsuf, tokoh-tokoh agama. Ada tren baru yang saya amati akhir-akhir ini, bahwa tweet/status macam ini seringkali menjadi bahan bagi beberapa media massa.

3. Tweet/status Curhat
Saya rasa kalau di Indonesia, jenis ini yang paling banyak. Tujuannya jelas, mencurahkan isi hati dan perasaan di sosial media internet. Tweet/status ini biasanya berisi kondisi hati, pengalaman yang baru saja/sedang dialami, tempat yang sedang dikunjungi, dll.

4. Tweet/status “Trolling”
Trolling adalah istilah dalan netiket (etika internet) yang mengacu kepada tweet/status yang memang ditujukan untuk memprovokasi. Biasanya tweet/status macam inilah yang membuat emosi orang. Ciri khususnya adalah menghina, menghujat, mencela, orang tertentu; baik menuliskan nama orang itu ataupun tidak menyebutkan namanya. Seringkali juga tweet/status ini bersifat OOT (out of topic) dari apa yang sedang diperbincangkan.

5. Tweet/status Tidak penting
Tweet/status inilah yang saya tidak jelas apa tujuan sebenarnya. Di dunia sosial media internet, tweet/status ini seringkali dikategorikan sebagai status tidak penting.

Baik lewat sosial media seperti Facebook, Twitter, dll, atau lewat blog, atau forum online, atau komunitas online, netter Indonesia mendapatkan kebebasan berekspresi. Hanya saja, menurut saya masih banyak yang terlanjur kebablasan menggunakan kebebasan ini. Ungkapan “kebebasan yang bertanggungjawab” tidak banyak dimengerti oleh pengguna internet. Bagi beberapa orang, bebas itu berarti bebas sebebas-bebasnya.

Lihat betapa banyaknya tindakan “trolling” di internet yang mengarah kepada pribadi-pribadi. Hujatan dan celaan saling dilontarkan lewat sosial media. Meskipun, saya akui ada banyak orang juga yang tidak mudah terpancing dengan hal-hal macam ini, dan menanggapi dengan santun. Masalahnya adalah, masih banyak netter Indonesia yang tidak siap menerima perbedaan pendapat dari netter yang lain. Pakdhe Blontank Poer dalam buku Linimas(s)a menuliskan demikian “Konstitusi memang menjamin kita bebas menyampaikan pendapat, bahkan itu termasuk hak asasi manusia. Tapi asal mencela atau memaki juga akan berhadapan dengan undang-undang pidana”.

Saya rasa masalah utamanya adalah karena banyak pengguna internet yang hanya sekedar menjadi objek atau korban internet saja, dan tidak mau lebih banyak belajar untuk menjadi netter yang lebih baik. Coba kalau kita tanya kepada 45 juta pengguna internet di Indonesia, berapa banyak yang pernah dengar tentang Netiquette karya Virgina Shea – sebuah panduan etika tidak resmi dalam berinternet. Atau berapa banyak yang sudah membaca buku Linimas(s)a atau melihat filmnya – meskipun diakui bukan primbon sakti netter Indonesia – yang paling tidak bisa memberikan gambaran tentang bagaimana berinternet secara sehat dan dewasa.

Sebenarnya aturan main berinteraksi di internet itu mudah, selama kita menyadari bahwa di balik komputer/laptop di depan kita ada seorang manusia lain yang juga mempunyai perasaan. Seharusnya para netter Indonesia siap untuk berbeda pendapat, tetapi juga siap untuk bersikap toleran dan dewasa terhadap perbedaan yang mungkin muncul. Jangan kalau beda pendapat langsung “jothakan” (Jawa: bermusuhan), itu kekanak-kanakan ah.

Kalau ada 45 juta netter Indonesia, itu artinya ada 45 juta otak, 45 juta pemikiran, 45 juta perasaan, yang sangat mungkin berbeda satu dengan yang lain toh. Toleran tidak berarti selalu menyetujui pendapat orang lain, tetapi menerima dan menghargai pendapat yang berbeda. Kalau saya berbeda pendapat dengan kawan-kawan, maka biasanya kalimat ini yang muncul, “Okay, kita sepakat untuk berbeda pendapat ya!”.

Saya rasa sudah waktunya netter Indonesia menjadi lebih baik. Mengembangkan sifat toleran dan dewasa dalam berinteraksi di internet.

Referensi:

  • Film Linimas(s)a
  • Buku Linimas(s)a
  • http://blog.growingleaders.com/

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

1 thought on “Toleran dan dewasa dalam berinteraksi di internet

  1. Pingback: Affluenza: epidemic of overconsumtion | Celathuné MartianusWB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.