Pandangan saya terhadap pernyataan pastoral PGI tentang LGBT

Sebelum saya membahas Pernyataan Pastoral PGI tentang LGBT, ada yang musti saya ceritakan. Mengapa ini saya rasa perlu adalah supaya kita bisa mengerti sedikit latar belakang paradigma Majelis Pekerja Harian PGI tentang isu LGBT ini.

Awal Juni 2016 kemarin, sempat bertemu dengan Sekum PGI bapak Pdt. Gomar Gultom di Grha Oikoumene kantor pusat PGI Jakarta. Waktu itu kami berbicara tentang Saksi Yehovah. Sepenggal pernyataan bapak Sekum adalah seperti ini.

“PGI itu tidak punya dan tidak bisa mengeluarkan semacam fatwa. Kekristenan tidak punya tradisi fatwa semacam itu. Gereja saya pasti mengatakan Saksi Yehovah itu ajaran sesat. Tetapi jika anggota Saksi Yehovah didiskriminasi dan dibatasi hak-haknya sebagai manusia dan sebagai warga negara, maka PGI akan berdiri paling depan membela hak-hak mereka.”

Nah, saya harap dari paradigma semacam itu, kita dengan cermat membaca dan menelisik Pernyataan Pastoral PGI tentang LGBT tersebut. Saya sudah mendengar bahwa Pernyataan Pastoral dari PGI ini menimbulkan kontroversi tersendiri di antara gereja-gereja dan pendeta-pendeta. Ada yang menyebut kalau PGI mendukung LGBT, ada yang mengatakan kalau PGI tidak tegas, bahkan sampai ada yang mengusulkan mengganti MPH PGI.

Saya tidak sedang membela PGI, saya juga tidak sedang menjelaskan Pernyataan Pastoral PGI ini. Siapa saya coba? Yang sedang saya lakukan adalah menuliskan penafsiran saya tentang Pernyaataan Pastoral PGI. Sekali lagi, ini bukan fatwa, artinya memang tidak ada keharusan mengaminkan atau menjalankan sebagaimana sebuah keputusan. Hal ini sebenarnya sudah tertulis dengan jelas dalam surat pengantarnya.

Disadari bahwa sikap dan ajaran gereja mengenai hal ini sangat beragam, dan pertimbangan-pertimbangan ini tidaklah dimaksudkan untuk menyeragamkannya. Pertimbangan-pertimbangan ini justru sebuah ajakan kepada gereja-gereja untuk mendalami masalah ini lebih lanjut. MPH-PGI akan sangat berterima kasih jika dari hasil pendalaman itu, gereja-gereja dapat memberikan pokok-pokok pikiran sebagai umpan balik kepada MPH-PGI untuk menyempurnakan Sikap dan Pandangan PGI mengenai masalah ini. Mari kita doakan semoga Roh Tuhan menganugerahkan kebijaksanaan-Nya kepada kita dalam menggumuli masalah ini.

Beberapa nilai penting dari hal ini adalah:

  • Ini bukan fatwa, hanya pertimbangan-pertimbangan pokok pikiran.
  • Bukan untuk menyeragamkan pandangan dan pengajaran.
  • Diharapkan ada umpan balik dari gereja dan umat Kristen.

Maka, saran saya adalah baca baik-baik, jangan reaktif, jika Anda punya masukan ya sampaikan dengan santun. Saya tidak bisa setuju semua yang menjadi pernyataan pastoral PGI ini, tetapi saya berusaha memahaminya. Tidak akan saya bahas setiap pointnya karena menurut saya sebenarnya penyataan ini disusun dengan sistematis dengan penjelasan sederhana, sehingga seharusnya cukup mudah dipahami.

Membicarakan kaum LGBT adalah membicarakan manusia yang merupakan ciptaan Allah yang sangat dikasihi-Nya. (Point 4)

Yang harus dipahami dari pernyataan pastoral PGI ini adalah fokus utamanya tentang manusianya. LGBT adalah manusia, sama seperti Anda dan saya. Dari sini titik tolak dari Pernyataan Pastoral ini harus dipahami. Maka bagian pengantar (point 1-3) menjadi penting untuk diperhatikan. PGI mengakui bahwa LGBT adalah salah satu dari sekian banyak keragaman, lebih spesifik lagi adalah dalam hal orientasi seksual (point 2). Dalam menghadapi keragaman seperti ini, saran dari PGI adalah bersikap positif dan realistis.

Bersikap positif dan realistis itu bagaimana?

  • Saling menerima, saling mengasihi, saling menghargai, dan saling menghormati satu sama lain.
  • Berupaya memahami dan menerima dalam kasih segala perbedaan yang ada.
  • Melawan segala bentuk kebencian, ketidakadilan, diskriminasi, eksploitasi, dan penindasan terhadap sesama manusia, segala makhluk dan segenap ciptaan Allah.
  • Berupaya mendialogkan segala perbedaan tanpa prasangka negatif.
  • Menjaga dan memelihara persekutuan manusia yang beranekaragam ini agar mendatangkan kebaikan bagi umat manusia, bagi segala makhluk, dan bagi bumi ini.

Tentu saja PGI tetap menggunakan Alkitab sebagai patokan utama berkenaan dengan LGBT. Hanya saja, PGI meminta untuk Gereja melakukan interpretasi dan penafsiran ulang teks Alkitab berkenaan dengan LGBT. Dalam surat pernyataan ini, PGI bahkan memberikan contoh ayat-ayat yang diinterpretasikan kurang tepat untuk menghakimi kaum LGBT (point 6-7).

Nah, salah satu point yang saya angkat topi untuk PGI adalah keberanian untuk memasukkan hasil penelitian Sains tentang LGBT dalam point 8. Silakan dicermati sendiri ya. Lebih salut lagi saat point 8 disimpulkan dengan kalimat ini, “menjadi LGBT … bukanlah suatu dosa, karena itu kita tidak boleh memaksa mereka bertobat … tidak boleh memaksa mereka untuk berubah … harus menolong agar mereka bisa menerima dirinya sendiri sebagai pemberian Allah.”

Jelas, ini pernyataan yang memancing pro dan kontra dari banyak kalangan. Tetapi sebagaimana saya tulis di atas, titik pangkal utama pernyataan pastoral PGI ini adalah LGBT sebagai manusia. PGI tidak menyatakan homoseksualitas sebagai bukan dosa. Saya membaca banyak kalangan mendesak supaya PGI menyatakan bahwa homoseksualitas adalah dosa, tetapi sekali lagi saya tegaskan bahwa PGI tidak punya hak untuk membuat fatwa semacam itu. Bukan itu tujuan dari dikeluarkannya surat pernyataan pastoral ini.

Melalui surat pernyataan pastoral ini, PGI meminta Gereja – khususnya di Indonesia – untuk melakukan beberapa hal berkenaan dengan kaum LGBT.

  1. Belajar menerima kaum LGBT sebagai bagian yang utuh dari persekutuan kita sebagai Tubuh Kristus.
  2. Memberikan kesempatan agar mereka bisa bertumbuh sebagai manusia yang utuh secara fisik, mental, sosial dan secara spiritual.
  3. Mempersiapkan dan melakukan bimbingan pastoral kepada keluarga agar mereka mampu menerima dan merangkul serta mencintai keluarga mereka yang berkecenderungan LGBT.
  4. Bukan saja harus menerima mereka, tetapi bahkan harus berjuang agar kaum LGBT bisa diterima dan diakui hak-haknya oleh masyarakat dan negara, terutama hak-hak untuk tidak didiskriminasi atau dikucilkan, perlindungan terhadap kekerasan, hak-hak untuk memperoleh pekerjaan, dan sebagainya.

Mengenai pernikahan sesama jenis dalam point 12, saya merasa bahwa PGI tidak mengatakan mendukung. PGI menghormati tuntutan kaum LGBT bahwa pernikahan adalah hak asasi. Tetapi bagi PGI, pernikahan adalah domain gereja dan negara, bukan hak PGI untuk mendukung atau tidak mendukung. PGI merasa untuk pernikahan sesama jenis ini, masih diperlukan diskusi dan percakapan teologis yang mendalam.

Tentu tidak semua pernyataan pastoral PGI saya sepakat. Tetapi, saya hormat atas keberanian, ketulusan, dan kasih dari MPH PGI dalam mengeluarkan pernyataan pastoral ini. Boleh dibaca tulisan saya tahun 2010 sebagai referensi, Pandangan Alkitab tentang homoseksualitas, gay, dan lesbian. Kalaupun ada saran saya adalah ada baiknya PGI mendengarkan kelompok yang kontra dengan pernyataan pastoral ini. Mempertimbangkan keberatan-keberatan mereka, dan jika diperlukan memberikan jawaban teologis atas hal ini.

Untuk gereja dan umat Kristen di Indonesia, empat saran PGI di atas sudah selayaknya kita perhatikan. Saya masih berpegang pada prinsip bahwa homoseksualitas adalah dosa – mungkin Anda sama dengan saya – tetapi dalam empat hal di atas, saya sepaham dengan PGI dan berusaha melakukannya dalam pelayanan saya.

Akhirnya, saya mengamini kalimat penutup surat penyataan pastoral PGI, kiranya kita terus mengarahkan diri pada tuntunan Roh Kudus untuk memperdalam pemahaman dan memperkuat komitmen iman menyangkut penerimaan kaum LGBT.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.