Apakah iblis mau berdiam di benda mati?

Beberapa waktu yang lalu saya terlibat percakapan dengan seorang sahabat saya.

Demetrius : “Pak Martianus, terima kasih lho buat tulisan-tulisannya di blog. Saya dan istri sering membacanya dan semakin bertumbuh dalam kebenaran firman.”

Martianus : “O’ya, terima kasih juga pak”

Demetrius : “Apalagi kami sekeluarga sudah tidak ke gereja 5 bulan terakhir ini, tulisan di blog itu jadi makanan kami.”

Martianus : “Lhoh, kenapa pak? Kok sampai lama banget tidak ke gereja.”

Demetrius : “Yah … ada sedikit ganjalan saja pak.”

Martianus : “Segera diselesaikan to pak, tidak baik lho nantinya.”

Demetrius : “Kami sekeluarga sedang tidak enak hati dengan gembala di gereja kami.”

Martianus : “Kan masih bisa diomongkan to pak, jangan jadi orang Kristen yang ngambekan gitu ah.”

Demetrius : “Bukannya ngambek, pak. Kejadiannya sih saat omanya anak-anak sakit di rumah sakit sampai kritis gitu. Yah … sebagai jemaat saya minta gembala kami untuk mendoakannya. Nah, waktu itu gembala kami bilang dalam pandangan rohnya ada kuasa kegelapan di rumah kami.”

Martianus : “Hmmmmm, lalu?”

Demetrius : “Tahu sendiri pak, akhirnya kami adakan doa peperangan di rumah. Terus semua barang-barang yang katanya berhubungan dengan kuasa kegelapan musti dibakar. Saya dan istri kan tidak paham masalah kayak gini ya nurut saja.”

Martianus : “O… barang apa saja yang diserahkan untuk dibakar?”

Isteri dari pak Demetrius yang baru saja datang langsung menimpali

Istri : “Ya sebenarnya ndak ada yang saya serahkan, yo eman-eman to pak.”

Demetrius : “Mami ini lho … Semua patung-patung, guci-guci antik koleksi opanya anak-anak, bahkan foto-foto kami dengan latar belakang pemandangan di Bali juga ikut dibakar pak, CD musik koleksi anak-anak juga tidak luput. Nah, yang jadi masalah semua boneka milik anak bungsu kami juga dibakar.”

Istri : “Padahal koleksi guci itu baru minggu kemarin ada yang ditawar ratusan juta lho pak.”

Martianus : “O … jadi tidak relanya karena harganya yang ratusan juta itu to?”

Istri : “Bukan begitu pak … ah pak Martianus ini kok malah membela gembala kami itu to.”

Demetrius : “Mantan gembala, Mam!”

Martianus : “Okay-okay, saya hanya bercanda.”

Demetrius : “Masalah sebenarnya baru muncul setelah itu, pak. Omanya anak-anak memang akhirnya meninggal, kami sudah merelakan hal itu. Tetapi efeknya ke anak bungsu kami, si nonik ini kan baru 5 tahun. Waktu dia sadar semua bonekanya hilang dibakar, dia nangis sejadi-jadinya.”

Istri : “Mungkin ngambek, pak. Nah, dia jadi tidak mau makan apa-apa sampai tiga hari lebih. Ya tahu sendiri to pak. Sampai kami bawa ke rumah sakit, harus dirawat dan diinfus, kasihan pak. Kami sempat dimarahi oleh dokter di sana.”

Demetrius : “Waktu kami cerita ke gembala, dia bilang itu bukti bahwa iblis sudah mengikat anak kami, dan dibilang supaya anak kami dikasih pengertian saja.”

Istri : “Anak usia segitu mana mudeng, pak, dikasih tahu tentang jurusan perklenikan kayak gitu. Karena kami kuatir, akhirnya kami janjikan untuk belikan boneka baru.”

Demetrius : “Parahnya, itu ketahuan sama gembala kami. Terus di mimbar kami disebut-sebut sebagai jemaat yang bebal, murtad, tidak mau dengar suara Tuhan. Nah, gitu lhoh pak ceritanya.”

Istri : “Dengar-dengar dulu pak Martianus juga pernah ya melakukan doa pelepasan macam itu, bakar-bakar keris dan jimat. Sebenarnya sisi alkitabiahnya bagaimana pak?”

Martianus : *tersipu-sipu* Ya … dulu saya juga melakukannya, cuma saya akan jujur kalau saya juga tidak tahu pasti dasar Alkitabnya. Dulu sih waktu saya tanya ke pendeta, dibilang itu lambang pemutusan hubungan dengan kuasa kegelapan. Benda yang sudah dibakar itu sudah tidak bisa ditinggali lagi. Saya akan coba cari tahu dulu, kapan kita ketemu lagi akan kita lanjutkan ya.

Demetrius : “Bener lho ya pak, kami tunggu, supaya jelas begitu lho.”

Akhirnya selama seminggu terakhir ini, saya coba cari tahu, belajar dan juga bertanya kepada beberapa sahabat, termasuk menyebar pertanyaan di sosial media. Dan ini jawaban beberapa sahabat saya.

Demetrius : “Bagaimana pak, saya lihat di wall dan timeline bapak sudah ada tanggapan.”

Istri : “Iyo pak, bagaimana?”

Martianus : “Okay, tapi kita musti sepakat dulu ya kalau apa yang dihasilkan perbincangan kita ini bukan untuk menghakimi hamba Tuhan tertentu.”

Demetrius : “Siplah!”

Martianus : “Memang ada praktik bakar-membakar macam itu di Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.”

Demetrius : “Jadi memang iblis bisa berdiam di benda-benda mati macam itu ya pak?”

Martianus : “Nah, kalau itu pertanyaannya, saya tidak bisa memberikan jawabannya, karena sampai sekarang saya belum menemukan ayat Alkitab yang menunjukkan kalau iblis bisa … eh apa itu istilahnya … merasuki “possess” sebuah benda.

Istri : “Tapi pak, saya juga sempat googling di yahoo, bukannya yang dibakar itu yang berkaitan dengan pemujaan berhala, tugu-tugu, macam itu?”

Martianus :”Hi…hi…hi. Googling kok di yahoo to bu, kalau di yahoo ya namanya yahooing to.”

Istri : “Eh …”

Martianus : “Nah, itu yang saya juga akan tambahkan. Praktik bakar-membakar di Alkitab hanya menunjuk kepada pemujaan berhala, dewa-dewa, praktek-praktek pernujuman, macam itu. Bahkan kalau di Perjanjian Lama tidak sekedar dibakar, tetapi dihancurkan sampai tinggal abunya dan dibuang.”

Demetrius : “Kalau dalam tulisan pak Martianus itu bersangkutan dengan memberikan nilai tinggi kepada sesuatu atau seseorang melebihi kepada Tuhan? Konsep penyembahan itu ya, pak?”

Martianus : “Yup …”

Istri : “Kalau begitu mengapa bukannya uang gembala kita yang dibakar saja, atau gedung gereja itu dibakar sampai habis?”

Demetrius : “Hush … Mami ini lho!”

Martianus : “Waduh … kok persis seperti F** yang senang ngancam bakar gereja.”

Istri : “Lha wong kelihatan jelas bagaimana gembala kita itu menghamba sama uang kok. Papi ini apa tidak sadar, kita ini yang beri persepuluhan besar ke gereja sering banget dikunjungi, lihat tuh jemaat-jemaat miskin. Mereka itu sering curhat sama mami lho, iri karena tidak diperhatikan gembala.”

Demetrius : “Ah … itu kan perasaan mereka saja.”

Istri : “Papi ini terlalu naif sih, dengar saja apa yang sering dibangga-banggakan gembala kita itu, gedung gerejanya yang paling indah di kota ini, bisa bangun gereja milyaran. Bukannya itu sudah menggantikan posisi Tuhan Yesus.”

Martianus : “Okay … stop dulu ya. Kita tadi sudah sepakat untuk tidak menghakimi hamba Tuhan tertentu kan?”

Istri : “Waduh … maaf pak, jadi emosi gini.”

Demetrius : “Eh, pak kita lanjutkan yang tadi ya. Saya pernah baca, bukannya Alkitab menjelaskan bahwa patung, berhala, benda-benda macam itu tidak punya kuasa apapun, tidak ada rohnya? Tapi di mana ya ayatnya, lupa saya.”

Martianus : “Benar pak, kalau tidak salah itu ada di kitab Habakuk[1]

Istri : “Jadi sebenarnya ritual bakar membakar itu tidak ada dasar Alkitabiahnya pak? Tidak Alkitabiah dong pak, sesat kalau begitu.”

Martianus : “Saya tidak berani mengatakan begitu, bu. Begini, saya sangat setuju dengan pandangan sahabat-sahabat saya bahwa iblis itu pasti lebih memilih bertengger di pikiran kita. Jadi sepertinya yang lebih perlu diusir adalah iblis yang ada di pikiran kita, yang sering menyesatkan paradigma kita.”

Demetrius : “Seperti Petrus yang dirasuki iblis itu ya, pak?”

Martianus : “Ah … tepat.”

Istri : “Kalau begitu bagaimana denga pusaka-pusaka yang punya kesaktian itu pak, atau yang kemarin ada batu yang bisa menyembuhkan itu?”

Demetrius : “Kalau pola pikir saya macam ini pak, kalau salah mohon dikoreksi ya. Iblis yang bertengger di pikiran itu yang menanamkan bahwa suatu benda punya kelebihan, macam kesaktian itu. Secara perlahan dan terus menerus, paradigma itu akhirnya menjadi sebuah sistem kepercayaan. Nah … karena percaya itu, maka iblis menggunakan kuasanya untuk membuat duplikasi dari mujizat ilahi dalam benda itu.”

Martianus : “Kira-kira seperti itu juga teori saya, pak. Tapi ini sebatas teori lho ya. Pada akhirnya yang terjadi adalah kita memberikan nilai lebih kepada benda ini, dan pemujaannya ditujukan kepada iblis.”

Istri : “Waduh, jadi kalau kita terjebak pada pengajaran tentang bakar-membakar begitu itu, kita sebenarnya sedang dialihkan kepada pemujaan kepada iblis dong pak?”

Martianus : “Sekali lagi ibu, saya tidak berani mengatakan demikian.”

Demetrius : “Kalau katanya patung-patung yang dibuat di Bali itu pasti dipersembahkan kepada dewa-dewa dulu bagaimana, pak? Mustikah kita bakar semuanya juga? Bisa hancur dong wisata di Bali.”

Istri : “Ya ndak gitu juga, Papi. Tidak bisa dipukul rata macam itu, pastinya tidak boleh mencampuradukkan karya seni dengan penyembahan berhala. Nanti dibilang Tuhan Yesus itu benci kepada seni bagaimana hayo?”

Martianus : “Begini, Alkitab sebenarnya penuh dengan benda-benda karya seni dan aplikatif yang dibuat oleh perintah Tuhan. Contohnya benda-benda di Kemah Suci, tiang ular tembaga Nehustan. Kalau kita bisa bayangkan dimensinya, itu indah sekali lho. Dan dibuat bukan untuk disembah, tetapi pada akhirnya orang-orangnya sendiri kan yang mengkultuskan dan menyembah benda-benda itu.

Demetrius : “Saya kok jadi merasa bahwa iblis mengalihkan perhatian orang percaya dari hal-hal penting kepada ajaran-ajaran sepele macam ini ya pak? Dulu pernah ada ajaran tidak boleh lihat film ini dan itu, ada setan di dalamnya. Tidak boleh sebut nama Allah, yah macam itulah pak.”

Martianus : “Makanya itu yang selalu saya tekankan, pentingnya belajar Alkitab.”

Istri : “Supaya tidak gampang dibodohi dan dibohongi ya, pak?”

Demetrius : “Eh … Mami ini lho. Pak, di Perjanjian Baru ada tidak perintah bakar-membakar ini?”

Martianus : “Ada praktik menyerahkan kitab-kita sihir untuk dibakar[2]. Tetapi itu bukan atas perintah para rasul ataupun Paulus, mereka menyerahkannya secara sukarela. Ini diperkuat waktu Paulus menyaksikan kuil-kuil dan berhala-berhala, dia tidak menyuruh untuk membakar itu semua, hanya diajarkan untuk bertobat.”

Istri : “Metanoia, pertobatan hati dan akal budi kan pak? Paradigma yang diubahkan?”

Martianus : “Ah … itu dia.”

Istri : “Prinsipnya kekristenan itu bukan agama hukum kan pak? Tidak berlandaskan kepada hukum-hukum agama, bukan ritual-ritual tertentu.”

Martianus : “Sudah nangkap kan ibu.”

Demetrius : “Lalu bagaimana kalau kami kembali ke gereja itu terus kan masih akan berhadapan dengan jurusan perdukunan macam itu, bakar membakar?”

Martianus : “Saya tidak berani menyalahkan praktik-praktik macam itu. Cuma kalau yang dibakar adalah benda-bendanya, tapi tidak ada pertobatan metanoia itu tadi, ya iblis akan mengalihkan kepada berhala yang lain, contohnya ya uang tadi, ya kekayaan, bahkan bisa memberhalakan pelayanan to.”

Istri : “Tidak boleh sembarangan bakar membakar gitu lhoh. Kekristenan tidak boleh dibawa kepada yang mistik-mistik gitu, benar ya pak?”

Martianus : “Seperti itulah, bu.”

Demetrius : “Pak, kami sedang mempertimbangkan untuk pindah gereja saja.”

Istri : “Iya, pak. Supaya kami benar-benar dibimbing jadi orang Kristen yang siap masuk surga, bukan diajari hal-hal aneh gitu. Menurut pak Martianus bagaimana?”

Martianus : “Saya tidak menyarankan hal itu. Cuma kalau sudah jadi keputusan sekeluarga, yang penting tidak ada kepahitan dan sakit hati saja. Musti dibereskan dulu ya.”

Demetrius : “Kami akan mencoba bertahan di sana pak, sambil membagikan hal-hal macam ini.”

Istri : “O’ya pak, mbok pembahasan ini juga ditulis di blog, supaya lebih banyak orang Kristen yang jadi lebih paham.”

Martianus : “Siap, ibu.”

Setelah beberapa hari kemudian, saya ditemui oleh jemaat di mana keluarga tadi beribadah, saya sebut saja namanya Goliath.

Goliath : “Maksud mas nulis macam itu di blog apa sih? Mau menjelekkan gembala kami, mau bikin perpecahan di gereja kami?”

Martianus : “Ehm … ini tulisan yang mana ya?”

Goliath : “Sok ndak tahu lagi, itu lho yang pembakaran barang tumpas.”

Martianus : “Ooooo … itu namanya barang tumpas ya?”

Goliath : “Belum lagi pak Demitrius yang sok benar itu.”

Martianus : “Sebentar mas, apakah ada tulisan saya yang salah, yang tidak sesuai Alkitab?”

Goliath : “Ya, ndak ada. Tapi kan Anda menyerang gembala dan ajaran gereja kami. Gembala kami itu lulusan S-3 lho, Anda yang tidak pernah belajar teologia kok sok pintar.”

Martianus : “Tunggu dulu, saya ulangi, ada tulisan saya yang tidak sesuai Alkitab?”

Goliath : “Tidak ada, sangat sesuai Alkitab.”

Martianus : “Nah, kalau begitu, apakah yang diajarkan gembala Anda di gereja itu ada dasarnya di Alkitab? Ada ayatnya tidak?”

Goliath : “Kan gembala gereja kami mendengar langsung dari Roh Kudus, mau tidak ada di Alkitab, yang penting sudah dengar dari Roh Kudus, berarti kan dari Tuhan. Gembala kami itu sangat peka lho, jangan macam-macam mas, bisa dikutuk Anda.”

Martianus : “Okay, cukup. Saya tidak mau berdebat dengan Anda. Perdebatan ini cuma membuktikan satu hal, kalau kepala Anda dan kepala saya sama kerasnya. Kalau mau tukar pikiran, monggo saya layani, tapi kalau berdebat, maaf saja.”

=============

Catatan:

  • Screenshot dari Twitter dan Facebook benar-benar ada.
  • Semua dialog yang terjadi di atas tidak benar-benar terjadi, hanyalah sebuah percakapan imajiner. Meskipun tidak berarti bahwa saya tidak pernah dicacimaki gara-gara tulisan dan khotbah-khotbah saya 🙂

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]Habakuk 2:18-19
  2. [2]Kisah Para Rasul 19:19

2 thoughts on “Apakah iblis mau berdiam di benda mati?

  1. Atm0

    oalah……getu to mas brow….Here’s my thought….burning so called “possesed items” seems juz a matter an act of faith n redeem…ya see, we are pleased when someone put our picture our our items as an household decoration right???….and so is the Devil…He is also pleased if a picture of his kind (or things that belonging to him) as a decoration in yer house…ya can imagine the continuation…..hahahait is not funny is a true worshipper house are full of cult items……

    Reply
  2. Julie Buntoro

    tulisan ini telah menyalakan lampu di pikiran saya. Karena lampunya sudah menyala, maka teranglah pengertian saya, maka iblisnya ngibrit ….. kabur…. masuk kubur. Lho yang dikuburan orang mati semua jadi ga ada iblis disitu. Yang ada setan gendruwo kelas gelandangan. Lho, kok masih ada setan kelas gelandangan ? Berdiri bulu kudukku….. Lha Tuhan masih bersemayam ditahtaNya (Mzm 9:8), tapi pikiran saya kok lebih condong ke gendruwo? Yang mahahadir itu Tuhan! Mesti dicuci lagi nih otak…. Ya cuci otak tiap hari dengan Firman Tuhan.Matur nuwun tulisannya.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.