Sesukses Yusuf

      No Comments on Sesukses Yusuf

Ketika saya membagikan video ini, banyak komentar dan pertanyaan yang muncul.

Bayangkan diri Anda berada di titik ini: dikhianati saudara sendiri, dijual sebagai budak ke negeri asing, lalu tiba-tiba—tanpa alasan yang jelas—semua mulai berjalan lancar. Itulah yang dialami Yusuf di rumah Potifar.

Alkitab mencatat dengan tegas: “TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya” [1]. Bahkan Potifar, tuannya, melihat sendiri bahwa “TUHAN membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya[2]. Sukses datang begitu cepat, begitu nyata—seolah semua mimpi masa kecilnya mulai terwujud.

Tapi tunggu dulu. Apakah penyertaan Tuhan selalu berarti sukses instan, karir melonjak, dan hidup tanpa hambatan? Jika kita berhenti di ayat ini, kita mungkin akan berpikir demikian. Namun, Allah ingin kita melihat lebih dalam—ke belakang, ke tahun-tahun yang kelam sebelum “kesuksesan” itu muncul. Karena di situlah rahasia sejati penyertaan Tuhan terungkap: bukan pada hasil akhir yang gemilang, melainkan pada kesabaran yang tak tergoyahkan yang Yusuf pelihara di tengah badai.

Yusuf berusia 17 tahun ketika saudara-saudaranya melemparkannya ke sumur kering, lalu menjualnya ke pedagang Ismael [3]. Dari anak yang dimanjakan, ia menjadi budak di Mesir. Tidak ada catatan keluhan, tidak ada pemberontakan, tidak ada kata-kata getir terhadap Allah. Ia hanya melayani—dengan setia, dengan hati yang tetap percaya.

Itulah awal mula makrothumia—kesabaran. Makrothumia bukan sekadar menahan amarah atau menunggu dengan pasif. Ia adalah ketabahan aktif: tetap melakukan yang benar, tetap memercayai janji Allah, meski realitas seolah berteriak sebaliknya. Yusuf menghidupi itu setiap hari.

Ketika istri Potifar mencoba menjeratnya dan akhirnya memenjarakannya dengan tuduhan palsu, Alkitab kembali berkata: “TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya[4]. Di penjara pun ia dipercaya mengurus segalanya. Ia menafsirkan mimpi dua pegawai istana—lalu menunggu. Dua tahun penuh! Dua tahun tanpa ada yang mengingatnya. Tapi Yusuf tidak putus asa. Ia tetap setia melayani, tetap percaya bahwa Allah sedang bekerja. Dan Allah memang bekerja—dengan cara-Nya sendiri, dalam waktu-Nya sendiri.

Pada usia 30 tahun, Yusuf naik menjadi perdana menteri Mesir, menyelamatkan bangsa dari kelaparan tujuh tahun. Ketika saudara-saudaranya datang memohon makanan, Yusuf punya segala kuasa untuk membalas dendam. Tapi ia memilih jalan yang lain. Dengan air mata ia berkata: “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan … untuk memelihara hidup suatu bangsa yang besar[5]. Kata-kata itu bukan lahir dari kekuatan manusiawi, melainkan dari kesabaran yang telah ditempa selama 13 tahun penuh luka dan penantian.

Rasul Yakobus menulis dengan indah tentang proses ini: “kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarlah ketekunan itu memperoleh buah yang sempurna, sehingga kamu sempurna dan utuh, tanpa kekurangan apa pun[6]. Yusuf adalah bukti hidup dari ayat ini. Penyertaan Tuhan tidak menyelamatkannya dari sumur, perbudakan, atau penjara. Justru melalui semua itu, kesabarannya menjadi alat Allah untuk membentuk seorang pemimpin yang luar biasa—bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi untuk menyelamatkan banyak orang — bukan hanya keturunan Yakub.

Mungkin hari ini Anda sedang menunggu. Menunggu pintu yang terbuka, menunggu janji yang belum terlihat, menunggu keadilan yang tertunda. Jangan bandingkan perjalananmu dengan “kesuksesan Yusuf” di pasal 39 saja. Lihatlah seluruh kisahnya. Yusuf tidak sukses karena ia cepat naik; ia sukses karena ia tidak menyerah di titik terendah.

Pertanyaan yang lebih dalam bukan “Mengapa aku belum sesukses Yusuf?”, melainkan: “Apakah aku mau belajar sabar seperti Yusuf?” Karena di balik setiap “TUHAN menyertai”, ada pilihan komitemen dan konsistensi untuk tetap setia—meski tak ada yang melihat, meski tak ada yang menghargai, meski tahun demi tahun berlalu tanpa perubahan.

Makrothumia adalah buah yang mahal, tapi juga buah yang paling indah. Ia mengubah korban menjadi pemenang, mengubah luka menjadi berkat, mengubah penantian menjadi kesaksian.

Yusuf hidup sampai usia 110 tahun, dan di akhir hayatnya ia masih berkata kepada saudara-saudaranya: “Allah pasti akan mengunjungi kamu[7]. Ia mati dengan iman yang utuh—karena ia memilih kesabaran, bukan keputusasaan. Hari ini, jika Anda merasa “sedang duduk di ruang tunggu Allah”, ingatlah: Allah bukan sedang menunda, Ia sedang membentuk. Ia sedang menumbuhkan makrothumia di hati Anda, supaya ketika waktunya tiba, Anda siap—bukan hanya untuk menerima berkat, tapi untuk menjadi saluran berkat bagi banyak orang.

Jadi, mari kita berhenti mengejar “sukses Yusuf” yang kelihatan saja. Mari kita kejar kesabaran Yusuf yang sejati. Karena di situlah penyertaan Tuhan paling nyata—bukan di puncak kejayaan, melainkan di lembah penantian yang panjang. Dan justru di lembah itulah, Allah sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih besar dari yang pernah kita bayangkan. Tetap setia! Yusuf sudah membuktikannya: kesabaran tidak pernah sia-sia di tangan Tuhan yang setia.

=======<0>=======

Jika tulisan saya berguna untuk Anda, bolehlah sedikit saweran untuk menyemangati saya berkarya.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]Kejadian 39:2
  2. [2]Kejadian 39:3
  3. [3]Kejadian 37:28
  4. [4]Kejadian 39:21
  5. [5]Kejadian 50:20
  6. [6]Yakobus 1:3-4
  7. [7]Kejadian 50:24

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.