Sevire Ergo Sum

      No Comments on Sevire Ergo Sum

Kita melihat lagi sosok Simon – mantan wizard sekelas Harry Potter itu – yang dulunya dikagumi warga Samaria, diakui sebagai orang hebat, disegani, bahkan dianggap mempunyai kuasa Allah. Orang ini hidup dengan citra yang begitu luar biasa. Terbiasa dikenal dan dihormati oleh banyak orang, tetapi dalam seketika dia kehilangan semuanya itu.

Baca sebentar ya Kisah Para Rasul 8:9-23

9 Namun, di sana ada seorang tukang sihir bernama Simon. Dia sudah lama membuat warga Samaria terkagum-kagum dengan ilmu sihirnya. Karena itulah para penduduk percaya padanya waktu dia mengaku sebagai orang hebat. 10 Sebelum Filipus datang, semua warga di daerah itu— baik orang biasa maupun orang penting— menghormati Simon dan berkata, “Orang ini mempunyai kuasa Allah yang besar.” 11 Mereka sangat menyegani Simon, karena dia sudah begitu lama membuat mereka terkagum-kagum dengan ilmu sihirnya.

12 Tetapi waktu Filipus memberitakan Kabar Baik tentang kerajaan Allah dan kuasa Kristus Yesus, banyak sekali orang yang percaya pada Kabar itu, baik laki-laki maupun perempuan. Lalu Filipus membaptis mereka. 13 Simon juga percaya dan dibaptis. Sesudah itu, dia selalu mengikuti Filipus dan terkagum-kagum melihat banyak keajaiban luar biasa yang dilakukan Filipus.

14 Ketika rasul-rasul di Yerusalem mendengar bahwa orang-orang Samaria sudah menerima Firman Allah yang disampaikan oleh Filipus, mereka mengutus Petrus dan Yohanes ke sana. 15 Sesudah mereka tiba, keduanya berdoa supaya orang Samaria yang percaya menerima Roh Kudus. 16 Karena mereka memang sudah dibaptis dalam nama Kristus Yesus, tetapi Roh Kudus belum turun ke atas mereka. 17 Sewaktu Petrus dan Yohanes menumpangkan tangan ke atas mereka, barulah mereka menerima Roh Kudus.

18 Ketika Simon melihat bahwa Roh Kudus diberikan kepada orang-orang itu melalui para rasul yang meletakkan tangan atas mereka, dia menawarkan uang kepada rasul-rasul itu 19 dengan berkata, “Berikanlah kuasa itu kepada saya juga, supaya ketika saya meletakkan kedua tangan saya pada seseorang, orang itu akan menerima Roh Kudus.”

20 Tetapi Petrus berkata kepada Simon, “Binasalah kamu bersama uangmu itu!— karena kamu menganggap pemberian rohani dari Allah bisa dibeli dengan uang. 21 Kamu tidak berhak mengambil bagian dalam hal ini, karena hatimu tidak benar di hadapan Allah. 22 Oleh sebab itu, bertobatlah! Berdoalah supaya Allah mengampuni niat hatimu yang jahat itu. 23 Karena saya melihat bahwa kamu terjerat dalam dosa dan hatimu penuh dengan iri hati.”

Simon yang kemudian menjadi orang biasa, melihat sesuatu saat Petrus dan Yohanes datang ke Samaria. Dia melihat lagi masa lalunya bisa kembali terjadi. Maka, dia menawarkan uang untuk membeli karunia Roh Kudus.

Sayangnya, mental yang sama menghinggapi gereja modern. Kita melihat bagaimana mereka yang melayani – terutama di mimbar – begitu dihormati, dieluk-elukkan, dianggap lebih hebat, lebih benar, lebih kudus dari jemaat yang lain. Pada akhirnya, pola pikir ini yang kemudian mendominasi motivasi orang Kristen untuk melayani.

Melayani menjadi sebuah aktivitas untuk menaikkan nilai diri. Melayani bukan lagi untuk Tuhan Yesus, melainkan untuk diri sendiri. Saya memunculkan istilah ini “sevire ergo sum”; saya ada karena melayani; hidup saya menjadi bermakna karena saya melayani; saya kehilangan nilai diri kalau saya tidak melayani.

Nilai diri kita tidak didasarkan pada apa yang kita lakukan atau kita tidak lakukan dalam pelayanan. Bahkan, bukan tentang apa yang kita lakukan atau tidak kita lakukan bagi Kristus. Roma 12:3 terjemahan The Messages menuliskan demikian, “The only accurate way to understand ourselves is by what God is and by what He does for us, not by what we are and what we do for Him.”

Petrus dengan tegas menegur Simon – dan kita semua – bahwa kita tidak layak mengambil bagian dalam pelayanan jika sikap hati kita tidak benar di hadapan Allah. Pelayanan itu bukan untuk memuaskan ego kita, pelayanan itu bukan untuk mencari penghormatan diri,

Parahnya, pelayanan menjadi subyek penyembahan tanpa kita sadari. Kita menjadi para penyembah pelayanan, mengagungkan pelayanan. Yang seharusnya menjadi alat penyembahan kepada Tuhan, malahan menggantikan posisi Tuhan.

=======<0>=======

Jika tulisan saya berguna untuk Anda, bolehlah sedikit saweran untuk menyemangati saya berkarya.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.