Bahasa roh (3)

      2 Comments on Bahasa roh (3)

Praktik berbahasa roh, berdoa dalam roh, bermazmur dalam roh, sekarang ini tidak lagi menjadi hal yang aneh, bahkan saya bisa menyebutkan ini sudah menjadi fenomena yang biasa terjadi. Tentang apakah bahasa roh yang diucapkan benar-benar datang dari Roh Kudus atau tidak, itu akan kita bahas nanti.

Sayangnya, bahasa roh di satu sisi menjadi salah satu sumber perpecahan di antara gereja dan orang Kristen. Salah satu sebabnya adalah karena seringnya orang Kristen yang berbahasa roh menganggap saudara-saudaranya yang tidak berbahasa roh sebagai Kristen kelas rendah yang kekurangan pengalaman roh. Parahnya, orang Kristen di luar aliran Pentakosta dan Karismatik semakin mengompori perpecahan ini dengan menyatakan apakah gunanya bahasa roh tanpa adanya penafsiran.

Maka, kemudian muncul pertanyaan-pertanyaan, jawaban-jawaban, dan sanggahan-sanggahan yang menurut saya tidak begitu bijak, hanya sekedar untuk membenarkan pendapat golongan masing-masing. Salah satu yang sering saya dengar adalah masalah pengelompokan dari bahasa roh itu sendiri.

Untuk menjawab pertanyaan dari golongan non-karismatik, seringkali para pengajar dari kelompok pentakosta dan karismatik memberikan pengelompokkan bahasa roh menjadi dua. Yang pertama adalah bahasa roh sebagai tanda dibaptis oleh Roh Kudus. Untuk kelompok pertama ini, bahasa roh tidak perlu ditafsirkan. Secara lebih eksklusif pengajaran ini sebenarnya mengatakan bahwa orang yang dibaptis oleh Roh itu ditandai dengan berbahasa roh, implikasinya orang Kristen yang tidak berbahasa roh berarti belum mengalami baptisan Roh Kudus. Kelompok kedua adalah apa yang disebut sebagai karunia berbahasa roh, dan untuk karunia berbahasa roh ini memang harus ada karunia lain yang mendampinginya, yaitu karunia untuk menafsirkan bahasa roh.

Saya tidak setuju dengan pengelompokan ini, karena sepertinya tidak ada dasar yang cukup kuat. Bagaimana dengan Timotius, Titus, 3000 orang yang dibaptis di hari Pentakosta itu, yang tidak dicatat berbahasa roh, apakah mereka tidak mengalami baptisan Roh? Menurut saya, bahasa roh adalah salah satu karunia roh yang dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya[1]. Lalu bagaimana dengan bahasa roh yang dipraktikkan oleh gereja modern yang tanpa ditafsirkan, bukankah itu berarti bertentangan dengan Alkitab? Tunggu dulu, Alkitab memberikan keterangan dan alasan yang sangat jelas berkenaan dengan bahasa roh yang tidak ditafsirkan ini. Sabar, nanti akan saya jelaskan. Saya berharap saat membaca tulisan saya ini, kita semua membuka hati dan pikiran kita, hilangkan dulu paradigma-paradigma kita yang antipati itu.

Pertanyaan berikutnya yang sering saya temui adalah, kalau disebut bahasa roh, bukankah harusnya mempunyai struktur linguistik kebahasaan, bukan sekedar kata-kata atau frase-frase yang diulang-ulang terus-menerus? Dalam tulisan saya berikutnya, akan saya tunjukkan bagaimana Alkitab menjawab hal ini. Tetapi sekarang saya akan tunjukkan dulu hasil penelitian Allan Tippett[2] tentang pengelompokan glossolalia berdasarkan gaya linguistik, ini sudah saya singgung dalam tulisan saya bagian pertama. Allan Tippett mengelompokkan glossolalia menjadi sebagai berikut:

  1. Kelompok pertama: glossolalia yang menggunakan – atau paling tidak menyisipkan – bahasa-bahasa kuno yang sudah hilang atau tidak lagi digunakan di dunia sekarang ini.
  2. Kelompok kedua: glossolalia yang merupakan imitasi atau tiruan dari suara/ gerakan alam atau suara/ gerakan hewan-hewan, misalnya suara angin, gemericik air, tiruan suara hewan, dll. Mungkin dari sinilah muncul istilah mengaum di dalam roh, tertawa di dalam roh, terbang bersama roh, dll.
  3. Kelompok ketiga: glossolalia yang terbentuk dari kata-kata atau frase-frase yang tidak punya arti, yang tidak memiliki struktur linguistik bahasa apapun, dan seringkali diulang-ulang.
  4. Kelompok keempat: yang disebut sebagai xenolalia, yaitu glossolalia yang diucapkan dalam bentuk bahasa asing dari suatu suku bangsa yang tidak pernah dipelajari oleh orang tersebut.

Nah, sekarang saya ingin menunjukkan bagaimana seharusnya kita memandang bahasa roh. Saya mengajukan sebuah pemahaman tentang tujuan dari bahasa roh itu. Saya sangat percaya bahwa Tuhan tidak pernah bermain-main dengan apa yang dikerjakan-Nya. Dia bukan Allah yang iseng melakukan sesuatu. Setiap kali Dia mengerjakan sesuatu, pasti selalu ada tujuannya. Maka, kalau Roh Kudus membuat seseorang mampu berbicara dalam bahasa yang tidak dia mengerti atau bahkan tidak pernah dia pelajari sebelumnya, pasti juga ada tujuannya. Mari kita periksa satu persatu.

1. Bahasa roh sebagai sebuah tanda

Berhenti dulu, saya sudah menyatakan di atas, dan menuliskannya dalam tulisan saya yang lain kalau saya tidak setuju jika dikatakan bahwa bahasa roh adalah tanda orang diurapi Roh Kudus. Saya tidak akan membahas tentang hal ini lebih lanjut, kalau Anda ingin tahu lebih dalam, saya sangat merekomendasikan tulisan Pdt. Dr. Erastus Sabdono tentang “Apa Itu Hidup Dipimpin Roh?” dalam majalah Truth edisi 24, silakan dicari dan dibaca, ada penjelasan yang sangat mendetail di sana.

Apa yang saya maksud bahasa roh sebagai sebuah tanda adalah seperti yang dituliskan oleh rasul Paulus sendiri, “karunia bahasa roh adalah tanda, bukan untuk orang yang beriman, tetapi untuk orang yang tidak beriman[3]. Frase “orang yang tidak beriman” menggunakan kata “apistos”, yang bukan hanya menunjuk kepada orang bukan Kristen, tetapi juga menunjuk kepada mereka yang lemah iman, kurang iman, ragu-ragu (faithless), dan juga kepada mereka yang belum paham atau mengerti tentang Kristus Yesus (uninformed). Jadi jangan berpandangan sempit bahwa yang dimaksud orang yang tidak beriman adalah mereka yang belum percaya Tuhan Yesus.

Kita cocokkan satu persatu dengan tiga fenomena bahasa roh yang dicatat dalam Alkitab (sudah saya tuliskan pada bagian kedua).

Di Yerusalem[4], bahasa roh menjadi tanda bagi sekian ribu orang Yahudi yang hadir dalam perayaan Pentakosta yang perlu mendengar berita keselamatan. Sekaligus menjadi tanda bagi 120 murid yang sedang berdoa di sana, menguatkan dan meneguhkan mereka akan janji yang diucapkan Tuhan Yesus sebelum Dia naik ke surga.

Di Kaisarea[5] bahasa roh menjadi tanda bagi Kornelius, sanak saudaranya, dan sahabat-sahabatnya yang belum mengenal Yesus Kristus. Sekaligus menjadi tanda bagi para orang percaya golongan bersunat yang menyertai Petrus bahwa keselamatan dan karunia roh juga tersedia bagi bangsa-bangsa lain.

Di Efesus[6] bahasa roh menjadi tanda bagi para murid – mereka sudah menjadi murid lho – tetapi belum pernah mendengar tentang Roh Kudus.

Maka jelaslah, bahwa fungsi utama bahasa roh itu adalah sebagai tanda.

2. Bahasa roh untuk kepentingan bersama

Sebagai salah satu dari karunia yang diberikan Roh Kudus, bahasa roh memegang peranan yang sama guna membangun tubuh Kristus[7]. Dalam hal ini, tidak bisa tidak, bahasa roh harus didampingi oleh karunia menafsirkan bahasa roh. Tanpa adanya penafsiran, maka bahasa roh tidak bisa berperan dalam pembangunan tubuh Kristus – untuk kepentingan bersama.

3. Bahasa roh untuk membangun diri sendiri

Sementara menjelaskan dua peranan bahasa roh seperti di atas, Paulus juga menambahkan bahwa orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri. Di sinilah yang tadi saya maksudkan, bahwa memang Alkitab juga memberikan jawaban tentang bahasa roh yang tidak ditafsirkan. Apakah bisa bahasa roh tidak ditafsirkan? Alkitab memberikan jawabannya, bisa! Tetapi tidak akan berguna bagi jemaat, hanya akan membangun diri orang itu sendiri. Adalah hak setiap orang Kristen untuk membangun kerohanian dirinya, selama motivasinya adalah untuk kemuliaan Allah dan mendatangkan berkat bagi orang lain.

Hanya saja ada yang perlu saya ingatkan, yaitu bahwa Paulus tidak pernah mendorong orang percaya untuk mengejar bahasa roh dengan tujuan membangun diri sendiri. Paulus mendorong gereja – kalaupun berbahasa roh – untuk tidak bersikap egois, dan menggunakannya untuk kepentingan bersama dari tubuh Kristus. Untuk menegaskan hal ini, Paulus menunjukkan sebuah daftar bagaimana bahasa roh yang tidak ditafsirkan ini mempunyai “nilai yang lebih rendah” dibandingkan nubuatan/ bahasa roh yang ditafsirkan.

  • Hanya membangun diri sendiri, tidak membangun Jemaat[8].
  • Tidak membawa pencerahan kepada Jemaat, mendatangkan kebingungan, ketidakmengertian, ketidakpahaman[9].
  • Tidak mendatangkan pembaharuan akal budi, baik bagi yang berbahasa roh, maupun bagi yang mendengarnya[10].
  • Tidak membangun orang lain yang mendengarnya[11].
  • Bisa menjadi indikasi dari sebuah ketidakdewasaan rohani (anak-anak) yang menginginkan karunia roh yang “lebih kelihatan” seperti bahasa roh daripada keinginan untuk membangun Jemaat[12].
  • Mendengarkan orang berbicara bahasa-bahasa yang lain pada masa Perjanjian Lama adalah hukuman bagi bangsa Israel karena tidak mendengar firman Allah yang disampaikan dengan bahasa yang sederhana yang disampaikan melalui Yesaya[13].
  • Bisa menjadi halangan, rintangan, atau gangguan atas berita keselamatan bagi orang yang belum percaya yang datang di pertemuan ibadah[14].

Berdasarkan apa yang dituliskan oleh Paulus tersebut, saya berani mengatakan bahwa salah satu peranan bahasa roh adalah membangun diri sendiri, meskipun saya akan menegaskan bahwa itu bukanlah tujuan utama dari bahasa roh.

Nah, sekarang perhatikan tiga tujuan, peranan, fungsi bahasa roh di atas. Yang mana yang menunjukkan bahwa bahasa roh bisa menjadi tanda bahwa seseorang lebih rohani dari orang yang tidak berbahasa roh. Bahasa roh bukan untuk gagah-gagahan, saudara-saudara. Jangan pernah menistakan, jangan pernah merendahkan bahasa roh hanya untuk memuaskan keegoisan kita sendiri.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]1 Korintus 12:11
  2. [2]Allan Tippett, “Glossolalia as Spirit Possession” (Ph.D diss., Fuller Theological Seminary, 1972).
  3. [3]1 Korintus 14:22
  4. [4]Kisah Para Rasul 2:1-13
  5. [5]Kisah Para Rasul 10:44-48; 11:15-18
  6. [6]Kisah Para Rasul 19:1-7
  7. [7]1 Korintus 12:7
  8. [8]1 Korintus 14:1-6
  9. [9]1 Korintus 14:7-12
  10. [10]1 Korintus 14:13-15
  11. [11]1 Korintus 14:16-17
  12. [12]1 Korintus 14:20
  13. [13]1 Korintus 14:21-22
  14. [14]1 Korintus 14:23-25

2 thoughts on “Bahasa roh (3)

  1. Pingback: Bahasa roh (4)

  2. Pingback: Bahasa roh (5)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.