Bahasa roh (1)

      4 Comments on Bahasa roh (1)

Bahasa roh adalah subyek yang bisa jadi kontroversial di kalangan gereja-gereja. Bukan karena bahasa roh itu sendiri yang kontroversial, tetapi gereja dan tafsirannya yang membuatnya menjadi sumber kebingungan dan perpecahan di antara orang percaya.

Maka seri tulisan “bahasa roh” ini saya susun sebisa mungkin sebagai tulisan ilmiah, sehingga terhindarkan dari unsur memojokkan, bahkan menghujat. Saya menyusun seri tulisan ini atas dasar kasih saya kepada Gereja, tanpa bermaksud memihak kepada suatu denominasi/ organisasi/ aliran gereja tertentu. Saya berharap tulisan tentang bahasa roh ini menjadi tulisan yang fair dan ditanggapi juga secara fair, sekaligus mengurai kebingungan banyak orang tentang bahasa roh.

Itu adalah pertanyaan yang sempat diajukan oleh melalui wall di Facebook. Bulan Februari ditanyakan dan baru sekarang saya akan menjawab pertanyaan itu dan juga pertanyaan-pertanyaan lain seputar bahasa roh dalam seri tulisan bahasa roh.

Pada bagian pertama ini saya akan menunjukkan bahwa bahasa roh bukanlah dominasi orang Pentakosta/ Karismatik saja, bahkan bukan pula hal yang unik dari kekristenan. Bahasa roh yang juga sering disebut sebagai glossolalia atau bahasa lidah telah muncul di luar gereja, bahkan sebelum kelahiran dari gereja sendiri.

Russell Spliter, salah seorang pakar terkenal dalam Pentakostalisme, secara jujur mengakui bahwa, “Darimanapun sumbernya, glossolalia adalah fenomena manusiawi, tidak terbatas pada kekristenan atau bahkan kepada ritual agama tertentu di antara umat manusia”[1].

Bahkan Robert Sungenis menyatakan bahwa praktek glossolalia bukanlah suatu hal yang baru, itu adalah sebuah ritual yang umum terjadi pada kurun waktu di mana gereja perdana berdiri[2]. Gerald Hovenden yang sudah melakukan penelitian dan penyelidikan yang komprehensive tentang glossolalia menemukan dokumen-dokumen yang menunjukkan bahwa fenomena ini sudah muncul jauh sebelum masa penulisan kitab-kitab Perjanjian Baru, contohnya pada Mari Document (2000-1500 SM), Wen Amon (1100 SM), the Homeric to Delian Apollo (700 SM), Cassandra, dll[3].

Hal yang sama juga ditemui di zaman modern ini, apa yang disebut sebagai bahasa roh oleh gereja juga muncul di banyak agama dan kebudayaan. Harvey Cox menemukan fenomena ini di kalangan biksu Tibet dan ritual-ritual agama Hindu[4]. Allan Tippett, yang adalah seorang misionaris pakar antropologi, bahkan mengelompokkan fenomena bahasa roh di luar gereja ini dalam tiga kategori berdasarkan bunyi-bunyian yang dihasilkan[5]. George J. Jennings di tahun 1968 menerbitkan artikel hasil penelitiannya tentang bahasa roh yang dimuat dalam Journal of the American Scientific Affiliation. Dalam artikel ini, Jennings menunjukkan temuannya tentang keberadaan fenomena bahasa roh di agama-agama di luar kekristenan. Misalnya pada ritual di kalangan Indian Amerika Utara, Indian Haida di Pasifik, Shamans di Sudan, Shango di Pantai Barat Afrika dan Trinidad, Voodoo di Haiti, Aborigin di Amerika Selatan dan Australia, Shaman di Greenland, Dayak di Borneo, Zor di Ethiopia, Shaman di Siberia, Indian Chaco di Amerika Selatan, Curanderos di Andes, Kinka di Sudan, Thonga di Afrika, dan lain-lain.

Apakah semua fenomena glossolalia itu datangnya dari urapan Roh Kudus? Silakan Anda jawab sendiri. Yang saya mau tekankan adalah sebuah fakta ilmiah bahwa yang kita sebut sebagai bahasa roh tidak hanya terjadi di dalam gereja. Maka, adalah salah kalau kita melihat seseorang berbahasa roh, dipastikan orang tersebut berasal dari Allah dan diurapi oleh Roh Kudus.

Kalau begitu, bagaimana perbedaan fenomena glossolalia di dalam Alkitab dengan yang terjadi di luar Alkitab seperti di atas? Dalam tulisan-tulisan saya selanjutnya tentang bahasa roh, saya akan menjawabnya.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]Russell Spittler, “Glossolalia” in The New International Dictionary of Pentecostal and Charismatic Movements, ed. Stanley Burgess and Edward M. Van Der Maas (Michigan: Zondervan, 2002), 670.
  2. [2][6] Robert Sungenis, Speaking in Tongue: A Historical, Psychological, and Biblical Analysis [Online], Chatholic Apologetic International, Available: http://www.catholicintl.com/epilogetics/articles/pastoral/speaking-tongues1.htm [2005, April 9].
  3. [3]Gerald Hovenden, Speaking in Tongue: The New Testament Evidence in Context, JPT Supplement Series 22 (New York: Sheffield Academic Press, 2002), 6-17; Cf. Christopher Forbes, “Early Christian Inspired Speech and Hellenistic Popular Religion” Novum Testamentum 28/3 (1986): 257-70; Stuart D. Currie, “Speaking in Tongues: Early Evidences outside the New Testament Bearing on ‘Glossais Lalein’” Interpretation 19 (2003): 274-94; James D. G. Dunn, Jesus and the Spirit: A Study of the Religious and Charismatic Experience of Jesus and the First Christians as Reflected in the New Testament (Philadelphia: Westminster, 1975), 247.
  4. [4]Harvey Cox, Fire from Heaven: The Rise of Pentecostal Spirituality and the Reshaping of Religion in the Twenty-First Century (Cambridge: Da Capo Press, 1995), 91.
  5. [5]Allan Tippett, “Glossolalia as Spirit Possession” (Ph.D diss., Fuller Theological Seminary, 1972), 11-3.

4 thoughts on “Bahasa roh (1)

  1. Pingback: Bahasa roh (3)

  2. James

    Shalom, Saudaraku…Artikel-artikel dalam website ini sungguh-sungguh sangat memberkati dan membuka wawasan rohani. Bolehkah saya mengcopy artikel-artikel dalam Wedsite ini untuk dimuat dan semakin menjadi berkat dalam website saya : http://www.jimpress.net/ Terima kasih. Tuhan Yesus memberkati.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.