Bahasa roh (2)

      No Comments on Bahasa roh (2)

Banyak pertanyaan yang datang kepada saya berkenaan dengan bahasa roh, di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Kok saya tidak bisa berbahasa roh seperti teman-teman saya di gereja ya?
  • Mas, nulisnya “bahasa roh” mengapa tidak pada “r” besar jadi “bahasa Roh”?
  • Bukankan bahasa roh yang sejati sebenarnya sudah berhenti?
  • Sebenarnya penjelasan yang benar dan alkitabiah tentang bahasa roh itu bagaimana?
  • Bukankah bahasa roh itu harus ditafsirkan?

Saya rasa kita semua setuju kalau kita mencari penjelasan tentang bahasa roh yang benar tentu saja harus kembali kepada satu-satunya sumber yang menjelaskan, yaitu Alkitab. Di tulisan sebelumnya saya menunjukkan apa yang gereja sebut sebagai bahasa roh ternyata adalah fenomena yang terjadi di banyak tempat, banyak budaya, dan banyak kepercayaan. Kita menggunakan Alkitab sebagai satu-satunya sumber untuk membedakan mana yang benar berasal dari Roh Kudus dan mana yang tidak.

Kalau di tulisan sebelumnya saya menggunakan istilah “glossolalia” berasal dari dua kata Yunani “glossa” dan “laleo“. Glossa secara harafiah bermakna lidah, yang berimplikasi kepada kata bahasa. Maka bahasa roh juga sering disebut dengan istilah bahasa lidah. Laleo bermakna berbicara, berkata-kata, berkhotbah.

Di dalam Alkitab hanya ada empat kisah spesifik yang menyebutkan tentang kemunculan bahasa roh. Kalau ada yang mendebat saya bahwa kalau hanya ada empat yang dicatat, bukan berarti hanya ada empat peristiwa itu, mohon diingat bahwa di atas kita sudah setuju bahwa kita hanya menggunakan satu sumber saja, yaitu Alkitab. Tidak ada gunanya kalau Anda berteriak-teriak untuk back to the bible, tetapi menolak apa yang dituliskannya, dan membuat tafsiran-tafsiran sendiri. Tiga persitiwa dicatat oleh dokter Lukas dalam kitab Kisah Para Rasul

Pertama, kita tahu bersama kemunculan bahasa roh terjadi di Yerusalem, tepat 50 hari setelah kebangkitan Tuhan Yesus[1]. Dituliskan bahwa 120 orang “berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain”, yaitu bahasa dari negeri Partia, Media, Elam, Mesopotamia, Yudea, Kapadokia, Pontus, Asia, Frigia, Pamfilia, Mesir, Libia, Roma, Kreta, dan Arab.

Kedua, bahasa roh muncul di Kaisarea[2] yang menurut para ahli Alkitab diperkirakan terjadi tujuh tahun setelah peristiwa di Yerusalem. Di sini bahasa roh turun atas Kornelius, seorang perwira Pasukan Italia, sanak-saudaranya, dan sahabat-sahabatnya. Sementara rasul Petrus dan beberapa orang percaya dari golongan bersunat menjadi saksinya.

Ketiga, kurang lebih tiga belas tahun setelah Kaisarea, bahasa roh tercatat terjadi di Efesus[3]. Di sini pelakunya adalah 12 orang yang didoakan oleh rasul Paulus.

Keempat, yang terjadi di jemaat Korintus yang menjadi perhatian dari rasul Paulus sendiri. Jika di ketiga peristiwa sebelumnya, bahasa roh tercatat sebagai semacam peristiwa insidensiil, sepertinya jemaat Korintus mempraktikkan bahasa roh dalam ibadah keseharian, mungkin mirip dengan yang dipraktikkan gereja-gereja masa kini.

Sebenarnya, dari keempat referensi Alkitab ini, kalau kita teliti merenungkannya, sudah cukup untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kita tentang bahasa roh. Nah, dalam tulisan-tulisan saya berikutnya, akan saya jawab secara spesifik pertanyaan-pertanyaan tentang bahasa roh dengan hanya menggunakan referensi Alkitab, dan berusaha sebisa mungkin untuk tidak menafsirkannya.

Jika ada pertanyaan yang khusus ingin Anda tanyakan silakan tuliskan di bagian komentar, atau via akun Twitter dan Facebook saya.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]Kisah Para Rasul 2:1-13
  2. [2]Kisah Para Rasul 10:44-48; 11:15-18
  3. [3]Kisah Para Rasul 19:1-7

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.