Bahasa roh (5)

      No Comments on Bahasa roh (5)

Pertanyaan: bagaimana dengan bahasa roh yang dipraktikkan secara pribadi? Misalnya saat berdoa di rumah?

Mengenai berbahasa roh di dalam pertemuan ibadah, Alkitab memberikan rambu-rambu, yang sudah saya tulis pada tulisan sebelumnya. Nah, tentang bahasa roh dalam doa-doa pribadi, saya memang belum menemukan ayat yang menyatakannya dengan jelas. Tetapi seperti dalam tulisan sebelumnya, saya menunjukkan bahwa Alkitab juga menyebutkan salah satu fungsi bahasa roh untuk membangun diri sendiri.

Maka, sepertinya adalah sah-sah saja untuk mempraktikkan bahasa roh dalam doa-doa pribadi. Tetapi tentu saja Alkitab memberikan rambu-rambu bagi kewaspadaan kita.

Pertama, baca tulisan saya sebelumnya, Paulus tidak pernah mendorong orang percaya untuk mengejar bahasa roh dengan tujuan membangun diri sendiri. Paulus mendorong gereja – kalaupun berbahasa roh – untuk tidak bersikap egois, dan menggunakannya untuk kepentingan bersama dari tubuh Kristus. Untuk menegaskan hal ini, Paulus menunjukkan sebuah daftar bagaimana bahasa roh yang tidak ditafsirkan ini mempunyai “nilai yang lebih rendah” dibandingkan nubuatan/ bahasa roh yang ditafsirkan.

Kedua, baca tulisan lengkap saya di sini. Tuhan Yesus sendiri yang mengingatkan kita akan berdoa yang bertele-tele (=battologeo) yang paling tidak memiliki tiga arti:

  1. menggagap;
  2. mengoceh, membosankan;
  3. mengulang-ulang kata-kata yang tidak bermakna.

Kalau kita perhatikan dan mengakui secara jujur, banyak bahasa roh yang dipraktikkan termasuk dalam golongan yang ketiga. Maka, meskipun saya tidak bisa melarang Anda berbahasa roh dalam doa-doa pribadi, saya rasa sangat perlu untuk mengingatkan Anda akan bahaya yang ini.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.