Guru dan lidah

      No Comments on Guru dan lidah

Seingat saya, pernah beberapa kali mengkhotbahkan dan menuliskan tentang lidah:

Kali ini, sekali lagi, menemukan satu bagian Alkitab yang cukup mengagetkan.

Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat. Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.[1]

Mungkin saya yang selama ini kurang cermat, tetapi cukup mengagetkan saat menemukan bagaimana hal tentang guru dituliskan oleh Yakobus berurutan dengan hal tentang lidah dan perkataan. Saya menuliskan ini sebagai seorang pengajar dan menjadikannya cermin bagi diri sendiri. Harapan saya, juga dapat dibaca dan direnungkan oleh kawan-kawan pengajar dan guru.

Ada beberapa hal yang saya tangkap tentang bagian perikop ini. Tentang lanjutan perikop ini sudah pernah saya tuliskan, sebagaimana tautan-tautan di atas. Silakan dibaca satu persatu. Mengapa sampai Yakobus meletakkan guru dengan dengan lidah? Menurut saya, salah satu modal utama dari guru adalah lidahnya. Dalam konsep Jawa, guru itu digugu lan ditiru. Digugu itu didengarkan, diperhatikan, dan dilakukan ajarannya. Dalam piktograf Ibrani, salah satu kata guru mengacu kepada orang yang menunjukkan jarinya memberikan arah. Guru itu yang pertama adalah mengajar dengan lidah dan perkataanya.

Berikutnya, dari penggalan ayat di atas, ada maksud tersurat bahwa tuntutan kepada guru adalah kesempurnaan. Ada pertanggungjawaban ilahi yang kelak harus di hadapi oleh seorang guru. Iya, benar semua orang akan mempertanggungjawabkan hidupnya di perngadilan akhir nanti, tetapi Yakobus juga menuliskan dengan tegas “… sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat.” The Message menerjemahkan kalimat di atas sebagai berikut, “Teachers are held to the strictest standards“.

Tentu tafsiran tentang guru atau pengajar di sini jauh lebih luas daripada mereka yang berprofesi sebagai guru. Di sini saya ingin menekankan pentingnya seorang guru atau pengajar untuk menjaga lidah dan perkataannya. Kalau seorang guru tidak bisa mengendalikan lidahnya, apakah layak disebut guru?

“… if you can control your tongue, you are mature and able to control your whole body.”[2]

Terjemahan bebas saya untuk ayat di atas adalah, “jika engkau dapat mengendalikan lidahmu, engkau adalah orang yang dewasa dan dapat mengendalikan seluruh tubuhmu”. Kedewasaan dan kesempurnaan kita ditunjukkan dengan bagaimana kita mengendalikan lidah. Maka juga berlaku kebalikannya, orang yang tidak dapat mengendalikan lidahnya adalah masih kanak-kanak dan tidak mampu mengendalikan anggota tubuhnya yang lain.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]Yakobus 3:1-2
  2. [2]Yakobus 3:2 – Contemporary English Version

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.