Menahan hati, menutup mulut

      1 Comment on Menahan hati, menutup mulut

Pernahkan membaca atau mendengar kisah klasik dari Cina tentang tiga patung? Inti kisahnya adalah demikian. Ada tiga patung yang sangat mirip satu dengan yang lain tetapi sesungguhnya memiliki perbedaan yang sangat kecil di antara ketiganya. Dibutuhkan kecerdikan dan kecerdasan untuk mengetahui perbedaannya dan diperlukan hikmat untuk memahami maknanya.

Dikisahkan untuk mengetahui perbedaan ketiga patung itu, semuanya harus dimasukkan ke dalam air untuk melihat adakah gelembung udara yang keluar. Patung pertama ternyata berlubang di kedua telinganya. Patung kedua berlubang pada satu telinga dan mulutnya. Patung ketiga hanya berlubang pada satu telinganya.

Yang ingin dikatakan oleh kisah itu sebenarnya adalah, ada orang yang mendengarkan dengan telinga kiri tetapi langsung keluar dari telinga kanan. Ini adalah tipe orang yang tidak pernah memperhatikan kebenaran. Ada lagi tipe orang yang mendengarkan suatu berita, tetapi dengan segera mulutnya terbuka lebar. Tipe ketiga adalah orang yang mendengarkan dan menyimpannya rampat-rapat.

Sebuah prinsip yang sama saya temukan dalam Alkitab yang saya sebut dengan prinsip “menahan hati”. Anda bisa temukan ini di beberapa bagian Alkitab. Saat Yusuf bertemu dengan saudara-saudaranya disebutkan bahwa dia kesulitan untuk menahan hatinya. Saat orang Israel berkeliling di padang gurun, disebutkan bahwa mereka tidak dapat menahan hati sehingga menyalahkan Tuhan dan Musa, yang mengakibatkan murka Allah. Ketika Simson dibujuk Delilah untuk membuka rahasia kekuatannya, disebutkan Simson tidak bisa menahan hatinya.

Apa yang dikatakan oleh Alkitab tentang “menahan hati” adalah berkaitan dengan mengendalikan emosi, khususnya berkaitan dengan mengendalikan emosi yang negatif. Secara lebih dalam, menahan hati saya pandang juga berkaitan erat dengan menahan mulut. Karena contoh Alkitab menunjukkan, saat hati tidak bisa ditahan, kecenderungan mulut akan terbuka lebar.

Dalam Perjanjian Baru, Maria ibu Yesus, adalah salah satu teladan dari prinsip menahan hati. Dalam kitab Lukas pasal 2 setelah kelahiran Tuhan Yesus dan kunjungan para gembala yang menceritakan pertemuan mereka dengan para malaikat, dituliskan, “Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya”.

Dalam dua minggu ini saya mendengar banyak kabar yang membuat saya terkejut, beberapa hal yang tidak pernah saya duga. Tetapi, bersamaan dengan itu, pengilhaman ilahi ini juga datang, MENAHAN HATI!

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

1 thought on “Menahan hati, menutup mulut

  1. Pingback: Guru dan lidah – Martianus' Blog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.