Berada dalam kasih karunia Tuhan

Siapa yang tidak mau hidup dalam kasih karunia Tuhan? Beberapa terjemahan Alkitab menyetarakan kasih karunia dengan perkenanan Tuhan. Betapa rindu kita mendengar Tuhan Yesus menyatakan bahwa kita berkenan di hadapan-Nya. Tetapi tentu saja tidak sembarangan orang mendapatkan perkenanan Tuhan. Ada catatan dalam Alkitab di mana Tuhan melepaskan kasih karunia dari bangsa Israel.

Lalu berkatalah Musa kepada TUHAN: “Memang Engkau berfirman kepadaku: Suruhlah bangsa ini berangkat, tetapi Engkau tidak memberitahukan kepadaku, siapa yang akan Kauutus bersama-sama dengan aku. Namun demikian Engkau berfirman: Aku mengenal namamu dan juga engkau mendapat kasih karunia di hadapan-Ku. Maka sekarang, jika aku kiranya mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, beritahukanlah kiranya jalan-Mu kepadaku, sehingga aku mengenal Engkau, supaya aku tetap mendapat kasih karunia di hadapan-Mu. Ingatlah, bahwa bangsa ini umat-Mu.” Lalu Ia berfirman: “Aku sendiri hendak membimbing engkau dan memberikan ketenteraman kepadamu.” Berkatalah Musa kepada-Nya: “Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini. Dari manakah gerangan akan diketahui, bahwa aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, yakni aku dengan umat-Mu ini? Bukankah karena Engkau berjalan bersama-sama dengan kami, sehingga kami, aku dengan umat-Mu ini, dibedakan dari segala bangsa yang ada di muka bumi ini?” Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Juga hal yang telah kaukatakan ini akan Kulakukan, karena engkau telah mendapat kasih karunia di hadapan-Ku dan Aku mengenal engkau.”[1]

Perhatikan kalimat Musa berikut, “Dari manakah gerangan akan diketahui, bahwa aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, yakni aku dengan umat-Mu ini? Bukankah karena Engkau berjalan bersama-sama dengan kami …”[2]

Sangat jelas pernyataan Musa ini, kita tidak bisa mengaku bahwa kita mendapatkan kasih karunia jika Tuhan tidak berjalan bersama dengan kita. Perkenanan Tuhan itu ditandai dengan Tuhan yang berjalan bersama dengan kita.

Maka yang harus kita cari tahu adalah bagaimana atau apa yang harus kita kerjakan supaya Tuhan berkenan berjalan bersama dengan kita. Dengan belajar dari pengalaman bangsa Israel, kita bisa menemukan pelajaran berharga apa saja yang mereka kerjakan sehingga Tuhan — pada waktu itu — memutuskan untuk tidak lagi berjalan bersama dengan mereka. Katakanlah secara sederhana, hal-hal apa saja yang bisa membuat kita kehilangan kasih karunia atau perkenanan Tuhan.

Kita akan berjalan mundur sebelum perikop di atas ya. Di Keluaran pasal 32, kita bisa membaca pemberontakan bangsa Israel dengan membangun sesembahan anak lembu emas. Kemudian kita bisa baca titah TUHAN Allah ini:

Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Pergilah, turunlah, sebab bangsamu yang kaupimpin keluar dari tanah Mesir telah rusak lakunya. Segera juga mereka menyimpang dari jalan yang Kuperintahkan kepada mereka; mereka telah membuat anak lembu tuangan, dan kepadanya mereka sujud menyembah dan mempersembahkan korban, sambil berkata: Hai Israel, inilah Allahmu yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir.” Lagi firman TUHAN kepada Musa: “Telah Kulihat bangsa ini dan sesungguhnya mereka adalah suatu bangsa yang tegar tengkuk.[3]

Dari ayat-ayat ini, kita bisa dapati tiga hal yang membuat Tuhan mengambil kasih karunia-Nya dari hidup kita.

Pertama, kita bisa kehilangan kasih karunia Tuhan jika laku hidup kita rusak. Kata laku yang rusak ini sama maknanya dengan mencemarkan diri; merusak, menghancurkan diri.

Kedua, saat kita meninggikan hal atau orang lain lebih dari Tuhan, memulikan dan memberikan nilai yang lebih mulia dari Allah sendiri, di situlah TUHAN tidak berkenan berjalan bersama dengan kita.

Ketiga, tegar tengkuk. Sepertinya sepele, tetapi seringkali Alkitab mencatat frase ini sebagai pemicu amarah Tuhan. Hati-hati dengan tegar tengkuk ini, karena yang ini bisa membuat kita kehilangan perkenanan Tuhan. Tentang tegar tengkuk ini, saya akan mengkhotbahkan secara khusus di waktu lain.

Nah, masih yakinkah kita bahwa ada perkenanan Tuhan dalam hidup kita?

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]Keluaran 33:12-17
  2. [2]Keluaran 33:16
  3. [3]Keluaran 32:7-9

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.