Bahasa roh tidak (lagi) bisa dipakai sebagai ukuran kerohanian (bagian 2)

Dalam tulisan saya di bagian 1, saya menyebutkan tentang bagaimana kita harus menguji dan menimbang setiap roh, apakah sungguh berasal dari Allah ataukah tidak. Orang yang memiliki karunia membedakan roh, dapat dengan jelas menunjukkan apakah seseorang yang berbahasa roh benar-benar datang dari Roh Kudus ataukah hanya kepalsuan belaka.

Tetapi Gereja bisa dengan jelas menilai bahasa roh seseorang berdasarkan kehidupan dari orang tersebut. Alkitab mengatakan kepada kita, “Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur. Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.” (Lukas 6:43-45).

Berikut ini adalah resume artikel “Kriteria Untuk Baptisan Yang Sejati Dalam Roh”, untuk lengkapnya bisa Anda baca di Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan atau bisa klik di sini.

 Batisan Roh sejati Baptisan roh palsu
1 Menyebabkan lebih mengasihi, membesarkan, dan memuliakan Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus daripada sebelumnya. Kasih, doa, pemujaan, dan penyembahan kepada Kristus Yesus semakin memudar, bahkan mengalihkannya kepada hal-hal di luar Kristus, seperti mistik, dll.
2 Meningkatkan kesadaran akan hubungan dengan Bapa di sorga, akan memimpin kepada kesadaran lebih besar akan kehadiran Kristus dalam hidup kita sehari-hari. Hubungan pribadi dengan Kristus tidak lagi dianggap hal yang penting. Doa dianggap hanya sarana meminta saja.
3 Menyebabkan kasih lebih besar dan penghargaan terhadap Alkitab. Tidak pernah memberikan waktu untuk membaca dan merenungkan Alkitab. Cuek terhadap pemberitaan Firman.
4 Memperdalam kasih dan kepedulian terhadap sesama saudara dalam Kristus. Lebih banyak menimbulkan sakit hati, benci, dan dendam di antara sesama saudara dalam Kristus.
5 Didahului dengan berpaling dari dosa dan kesetiaan dalam menaati Kristus. Tidak pernah sungguh-sungguh bertobat, mengulang-ulang dosa yang sama, tidak lagi punya niat untuk menaati Kristus.
6 Meningkatkan ketidaksenangan terhadap kenikmatan dan kesenangan duniawi dan akan mengurangi pencarian kekayaan dan reputasi duniawi yang mementingkan diri. Memiliki penyakit affluenza (epidemic of overconsumption), uang adalah segalanya, mengejar penghormatan orang daripada perkenaan Tuhan
7 Memberikan keinginan dan kuasa yang lebih besar untuk bersaksi tentang karya keselamatan dari Tuhan Yesus Kristus Tidak mau bersaksi, tidak berani memberitakan Injil Kristus, nyaman dengan hidupnya sendiri.
8 Menyebabkan makin peka terhadap pekerjaaan Roh Kudus di dalam kerajaan Allah dan karunia-karunia-Nya di dalam kehidupan pribadi kita Tidak peka terhadap dorongan-dorongan Roh Kudus, mementingkan nafsu dan keinginannya sendiri.
9 Menyadarkan akan karya, bimbingan, dan kehadiran Roh Kudus dalam kehidupan kita sehari-hari Tidak berjalan dan hidup dalam kesaksian Roh Kudus. Buah roh tidak dihasilkan dalam hidupnya.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.