Bahasa roh tidak (lagi) bisa dipakai sebagai ukuran kerohanian (bagian 1)

Seringkali saya menerima pertanyaan dan komentar yang mempertanyakan keaslian bahasa roh di antara jemaat. “Apakah bisa dipastikan bahasa rohnya datang dari Roh Kudus?”, “Apakah mungkin bahasa roh dipalsukan?”, “Bagaimana membedakan bahasa roh yang benar dengan yang palsu?”, dan pertanyaan-pertanyaan semacam itu.

Saya musti menjawab dengan objektif pertanyaan-pertanyaan tersebut sesuai dengan kebenaran yang ditunjukkan oleh Alkitab. Berikut ini adalah isi salah satu artikel dalam Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan mengenai hal-hal tersebut.

Sekadar berbicara dengan “bahasa yang lain” atau penyataan adikodrati lain tidaklah dengan sendirinya membuktikan terjadinya pekerjaan dan kehadiran Roh. Hal itu dapat ditiru oleh usaha manusia atau hasil tindakan kuasa-kuasa kegelapan.

Alkitab mengingatkan kita agar jangan percaya akan setiap roh, melainkan memeriksa apakah pengalaman rohani kita sungguh datang dari Allah. 1Yoh 4:1 menuliskan demikian, “Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia.”

  1. Untuk menjadi sah, bahasa roh harus “seperti yang diberikan oleh Roh” (Kisah Para Rasul  2:4). Untuk mengikuti norma kitab Kisah Para Rasul, berbicara dengan bahasa roh harus menjadi akibat spontan dari pemenuhan pertama Roh Kudus. Pengalaman ini bukan sesuatu yang dipelajari, bahkan tidak dapat diajarkan dengan menginstruksikan orang percaya untuk mengucapkan bunyi-bunyi yang tidak karuan.
  2. Roh Kudus dengan tegas mengingatkan bahwa pada hari-hari terakhir akan ada kemunafikan dalam gereja (1 Timotius 4:1-2), tanda dan mukjizat dari kuasa- kuasa Iblis (Matius 7:22-23; 2 Tesalonika 2:9) serta pekerja-pekerja penipu yang menyamar sebagai hamba-hamba Allah (2 Korintus 11:13-15). Kita harus memperhatikan peringatan-peringatan ini tentang berbagai penyataan dan tanda rohani tiruan ini (Matius 7:22-23; 2 Tesalonika 2:8-10).
  3. Agar dapat menilai apakah bahasa roh kita itu sejati, yaitu sungguh-sungguh dari Roh Kudus, kita harus menemukan apa yang diajarkan Alkitab sebagai hasil dari baptisan dalam Roh. Bagian ini akan saya ulas dalam postingan berikutnya.

Apabila seseorang yang mengatakan bahwa ia berbicara dalam bahasa roh tetapi tidak mengabdikan diri kepada Yesus Kristus dan kekuasaan Alkitab, dan tidak berusaha menaati Firman Allah, maka bahasa roh orang itu tidaklah dari Roh Kudus (1 Yohanes 3:6-10; 4:1-3; Matius 24:11,24; Yohanes 8:31; Galatia 1:9).

Mungkin dulu ada suatu masa di mana saat orang berbahasa roh, maka bisa dipastikan bahwa orang tersebut sungguh-sungguh diurapi oleh Roh Kudus dan bertumbuh dalam kerohaniannya. Tetapi sekarang, saya musti objektif mengatakan bahwa bahasa roh tidak lagi bisa dipakai sebagai ukuran kerohanian.

Referensi: Artikel Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

1 thought on “Bahasa roh tidak (lagi) bisa dipakai sebagai ukuran kerohanian (bagian 1)

  1. Pingback: Bahasa roh tidak (lagi) bisa dipakai sebagai ukuran kerohanian (bagian 2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.