Adalah tujuan saya mengombang-ambingkan Anda

Jarang punya waktu berdua sebagaimana layaknya sepasang kekasih, setiap kali bertemu kami banyak berbagi tentang apa yang kami kerjakan, pelayanan kami masing-masing untuk Tuhan, seringkali mengkritik dan memberi masukan satu dengan yang lain. Sekali waktu saat kami bisa makan siang berdua, dia menanyakan mengapa tema-tema khotbah dan tulisan saya seringkali “mengganggu”, tidak nyaman di telinga.

Benar juga pertanyaan ini dan saya menyadarinya. Kalau Anda mendengarkan pengajaran saya atau membaca tulisan-tulisan saya, dari judulnya saja memang memaksa orang bertanya-tanya, mengernyitkan dahi. Mengapa tema dan judulnya harus aneh-aneh? Bisa ada dua tanggapan. Satu, orang tertarik mendengarkan, membaca, atau memperhatikan dengan baik karena penasaran. Dua, orang menganggap saya sesat, dan pergi begitu saja.

Ada dua alasan utama sebenarnya. Pertama, di masa-masa yang lalu saya telah dengan begitu bodohnya menyampaikan pengajaran dan khotbah yang begitu dangkal, bahkan mungkin meleset dan menyesatkan. Memang kadangkala ada kesempatan di mana saya bertemu orang-orang dan meminta maaf atas kesalahan pengajaran di masa lampau, dan sekaligus merevisi, menyampaikan kebenarannya. Saya menganggap tulisan-tulisan saya dan khotbah-khotbah saya sekarang ini adalah cara saya meminta maaf dan membayar hutang kesalahan kebodohan pengajaran saya yang lalu.

Kedua, saya belajar dari Yohanes Pembaptis tentang bagaimana suaranya di padang gurun itu mengombang-ambingkan para pendengarnya.

Tetapi apabila ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia.[1]

Dan memang kalau Yohanes berbicara, Herodes suka juga mendengarkannya, meskipun ia menjadi gelisah sekali karenanya.[2]

Nanging manawa midhangetake pangandikane Nabi Yokanan, panggalihe banjur kaya diontang-antingake, ewadene remen miyarsakake.[3]

Whenever he listened to him he was miserable with guilt – and yet he couldn’t stay away. Something in John kept pulling him back.[4]

Herod was greatly disturbed whenever he talked with John, but even so, he liked to listen to him.[5]

Memang adalah tujuan saya mengganggu kenyamanan kita yang biasa mendengar khotbah yang manis-manis. Memang adalah alasan saya untuk mengombang-ambingkan Anda dan mengganggu perasaan Anda dari pengajaran-pengajaran semacam itu. Memang adalah kesengajaan saya supaya kita menjadi gelisah, mencari tahu kebenaran yang sejati, dan pada akhirnya kita bertobat.

Tidak berarti saya sudah benar dan lebih benar dari para pendeta dan pengkhotbah. Saya masih sering meneteskan air mata saat mempersiapkan khotbah, pengajaran, atau tulisan-tulisan, mengapa butuh waktu sekian lama untuk tahu kebenarannya, mengapa saya selama ini begitu bodoh hidup dalam kesalahan. Maka, mari belajar lebih dalam kebenaran yang sejati dari Firman-Nya. Perhatikan terjemahan Alkitab bahasa Jawa di atas, kalaupun oleh kebenaran perasaan kita seperti diontang-antingake, biarkanlah selama kita bertobat olehnya.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]Markus 6:20
  2. [2]Markus 6:20 – Bahasa Indonesia Sehari-hari
  3. [3]Markus 6:20 – Jawa
  4. [4]Mark 6:20 – The Message
  5. [5]Mark 6:20 – New Living Translation

1 thought on “Adalah tujuan saya mengombang-ambingkan Anda

  1. bell

    Amin pak, sy berdoa spy Tuhan memberi Bapak roh hikmat dan wahyu utk mengenal Dia lebih dalam lagi, memakai Bapak dgn lebih lagi, dan lebih dr itu agar pelayanan Bapak selalu menyenangkan hatiNya dan berkenan kepadaNya, sehingga pada akhirnya Tuhan menemukan Bapak sebagai hamba yang setia. Tuhan Yesus memberkati Bapak & kel ?

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.