Saya tidak suka gereja Anda!

Iya, gereja Anda itu lho! Paling tidak saya jujur mengatakan bahwa saya memang tidak suka gereja Anda. Bukan, saya tidak benci Anda atau benci gereja Anda, hanya tidak suka saja. Mengapa? Wah, ada banyak alasannya. Bisa-bisa penuh tulisan ini hanya untuk menuliskan daftar alasan saya tidak menyukai gereja Anda.

Saya tidak suka cara memuji di gereja Anda, seakan-akan tidak punya gairah memuji Tuhan. Saya tidak suka gereja Anda yang masih mempraktikkan tradisi ritual gerejawi. Saya tidak suka gereja Anda karena simbol-simbol yang begitu rupa. Saya tidak suka gereja Anda yang hanya mengakomodir kelompok tertentu saja. Saya tidak suka gereja Anda mengajarkan hanya tentang berkat-berkat saja. Saya tidak suka gereja Anda karena penafsiran yang ngawur tentang akhir zaman. Saya tidak suka gereja Anda yang tidak “membumi”. Saya tidak suka gereja Anda yang birokrasinya njlimet. Saya tidak suka gereja Anda yang senang memindahkan ikan antarakuarium. Saya tidak suka gereja Anda yang memeras uang jemaat dengan alasan untuk kemuliaan Tuhan. Saya tidak suka gereja Anda yang menganggap hanya jemaatnya yang terbaik, yang layak masuk Surga, sementara gereja lain hanya berhak di pinggiran Surga saja. Oh … saya masih kuat menuliskan banyak alasan panjang lainnya.

Tapi kemudian rasa tidak suka ini membuka sebuah pemahaman baru tentang bagaimana Tuhan memakai gereja dan bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap gereja Tuhan.

Kebanyakan rasa tidak suka saya terhadap gereja – termasuk gereja di mana saya menjadi anggotanya – adalah masalah selera. Iya, selera gereja yang saya tidak suka berbeda dengan selera saya, dan tidak memuaskan selera saya akan sebuah gereja. Memang ada ya gereja yang bisa memuaskan selera semua orang? Ini membawa saya kepada satu pemahaman bahwa memang tidak ada satu gereja untuk semua orang.

Saya – dan mungkin kita semua – punya selera, punya tuntutan, punya impian untuk sebuah gereja yang ideal; gereja yang sempurna di mata kita. Tapi apa iya ada gereja yang seperti itu. Kalau sekarang Anda merasa berada di gereja yang sempurna, saya rasa Anda sedang berada di tempat yang salah.

Mungkin saya menyebutnya sebagai eksklusif, tapi bisa jadi memang Tuhan membawa satu gereja untuk melayani golongan tertentu. Saya mungkin menuduh gereja Anda sebagai gerejanya orang kaya, atau gerejanya orang etnis tertentu, tetapi saya toh tidak bisa menyangkal bahwa Tuhan memakai gereja Anda secara efektif melayani golongan itu. Jadi, tidak ada satu gereja yang bisa melayani semua golongan.

Bagaimana dengan gereja yang mengajarkan hal-hal yang manis; berkat, berkat, berkat, kelimpahan, kelimpahan, kelimpahan? Bagaimana dengan penafsiran pengajaran yang ngawur? Tidak semua orang punya kedewasaan rohani yang sama. Saya menjadi salah jika saya menganggap semua orang Kristen siap makan makanan keras. Nope, jauh lebih banyak yang masih membutuhkan susu atau malahan memilih untuk lebih menyukai susu daripada makanan keras. Jadi, memang tidak ada satu gereja yang bisa memuaskan semua orang.

Ada seorang pendeta pernah mengatakan, “Jika Anda punya waktu mengritik gereja, itu artinya Anda tidak mengerjakan tugas pelayanan Anda”. Hmmm? Apa memang begitu? Jangan salah, saya menghormati gereja Anda dan pelayanan yang Tuhan mandatkan kepadanya, tetapi jangan berharap saya berhenti mengritik. Tuhan dan Firman-Nya tidak pernah salah, tetapi gereja dan orang-orang di dalamnya – termasuk saya – tidaklah kebal terhadap kesalahan.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

3 thoughts on “Saya tidak suka gereja Anda!

  1. easther liem

    Mohon saran, 9 tahun lalu saya pindah domisili ke sebuah kota, dan dan masuk dalam sebuah gereja. 2 bulan ini saya sudah mantab berpindah gereja, di gereja lama selama 9 tahun saya merasa rohani saya tidak bertumbuh. Dengan niat baik, menjaga etika dan kesopanan baik di gereja yang ditinggalkan maupun gereja baru, kami (saya dan suami) mengajukan atestasi keluar. Setelah melalui serangkaian prosedur, sampai saat ini berjalan 2 bulan, surat atestasi blm juga keluar. Gereja lama menyarankan kami tidak perlu terburu2 keluar, silakan ibadah di gereja baru, sepuas2nya sebagai jemaat simpatisan. Meskipun gereja baru tidak menekan kami untuk segera meresmikan status ke-jemaat-an kami, namun kami merasa tidak nyaman, seolah2 kami ini “domba” yang tidak jelas, main ke kandang orang. Mohon saran, dan dukungan doa.

    Reply
    1. martianuswb Post author

      Dalam hal ini saya setuju dengan gereja lama Anda. Beri waktu untuk sungguh mengenal gereja baru, kalau saya menyarankan waktu ideal satu tahun, tetapi 6-9 bulan juga sudah cukup. Soal main ke kandang orang, bukannya kita ini sama-sama domba Tuhan Yesus? 🙂

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.