Pindah gereja, haramkah?

      6 Comments on Pindah gereja, haramkah?

STOP! Berhenti membaca tulisan ini jika Anda tidak mau terganggu oleh apa yang mungkin Anda baca di bawah ini. Tulisan ini tidak ada dasar Alkitabnya — karena saya tidak menemukan kasus pindah gereja di Alkitab — murni berdasarkan pengamatan dan isi hati saya pribadi.

Eh, masih nekad membaca? BERHENTI! Saya sudah peringatkan lho. Tulisan di bawah ini bisa sangat mengganggu Anda, dan Anda bisa sangat tidak setuju dengan saya. Ya sudah, kalau Anda bersikeras untuk membaca tulisan di bawah ini, tanggung sendiri akibatnya.

Tulisan ini sesungguhnya tidak untuk menjawab secara langsung judul pertanyaan di atas. Kalau Anda ingin membaca tentang beberapa alasan yang “baik” untuk berpindah gereja silakan baca tulisan saya sebelumnya “Apakah aku harus pindah gereja?“. Saya menuliskan postingan ini untuk melihat fenomena jemaat yang pindah gereja dari sisi kasih dan pandangan positif.

Begini, banyak orang sering melihat bahwa pindahnya jemaat dari satu gereja ke gereja lain adalah sesuatu yang negatif dan mengindikasikan terjadi sesuatu yang salah di gereja. Saya ingin menunjukkan kalau kita memandang dengan jernih, ada hal-hal positif dan kebaikan-kebaikan yang terjadi saat seorang jemaat berpindah dari satu gereja ke gereja yang lain.

Kebaikan bagi jemaat yang bersangkutan.

Selama ini saya melihat begini, bahwa alasan seseorang berpindah ke gereja lain adalah 99% alasan yang bersifat pribadi, dan 1% alasan lainnya. Dan saya juga memandang bahwa pilihan di mana seseorang akan bergereja adalah sebuah hak pribadi. Maka, ketika seorang jemaat memilih untuk berpindah gereja, dengan alasan apapun, maka pastilah itu mendatangkan kebaikan bagi dirinya.

Jemaat yang berpindah gereja akan mendapatkan persekutuan yang baru, pengajaran yang baru, pengalaman yang baru. Saya lebih senang menyebutnya, mereka akan mendapatkan “laboratorium rohani” yang baru, di mana pasti ada tantangan-tantangan yang baru, iman yang baru, yang pada akhirnya menghasilkan “otot-otot” ilahi yang lebih kuat.

Saya tidak menyarankan para gembala jemaat untuk begitu saja membiarkan atau melepaskan jemaat untuk berpindah gereja. Tetapi, jikalau dengan kejernihan dan kemurnian hati ditemukan bahwa alasan seseorang berpindah gereja pasti mendatangkan kebaikan, maka jangan pernah takut untuk kehilangan jemaat.

Saya selalu mempercayai hal ini, jika semua gereja memandang gereja lain dan umat Kristen lain sebagai satu tubuh Kristus, maka sesungguhnya tidak ada alasan satu gereja takut jemaatnya “dicuri” oleh gereja lain.

Camkan! Bagi saya tidak pernah ada istilah “pencurian” jemaat. Jemaat akan tetap bertahan di satu gereja selama mereka “nyaman” berada di sana, tidak peduli semenarik apapun gereja lainnya. Tetapi, begitu seseorang merasa tidak lagi “pas” di satu gereja, tanpa ada iming-iming apapun dia akan pergi dari gereja itu.

Kebaikan bagi gereja yang ditinggalkan.

Jika jemaat yang meninggalkan gereja itu adalah seorang pemimpin yang berpengaruh, mungkin pada awalnya akan ada sedikit gangguan. Tetapi, saya melihat bahwa ini adalah satu kesempatan emas untuk lahirnya pemimpin-pemimpin baru. Regenerasi kepemimpinan di dalam gereja harus terjadi, baik dikehendaki ataupun tidak dikehendaki oleh gereja yang bersangkutan.

Saya melihat hal ini, ada kalanya potensi atau karunia dari seseorang jemaat seringkali mematikan atau menghalangi potensi dan karunia jemaat yang lain. Gereja tidak hanya berjalan dengan hanya sekelompok pemimpin berkarunia “super”. Gembala, pendeta, pastor kadangkala harus “menyingkirkan” pelayan-pelayan super ini dari pandangannya untuk melihat dengan jernih bahwa ada begitu banyak jemaat-jemaat lain yang selama ini dipandang biasa dan sederhana tetapi sesungguhnya memiliki potensi dan karunia yang besar menjadi pemimpin dan pelayan-pelayan gereja — jika saja mereka dipercayai.

Saya mengamati gereja-gereja yang ditinggalkan pemimpin-pemimpin berpengaruh tidak menjadi gereja yang mati. Gereja itu tetap hidup, dengan munculnya pemimpin-pemimpin baru dari jemaat-jemaat lama yang selama ini tidak pernah dipandang mata. Atau bisa juga Tuhan mengirimkan pemimpin-pemimpin baru di gereja itu.

Ada juga beberapa kasus di mana jemaat yang meninggalkan gereja itu adalah jemaat yang “mengganggu”. Orang ini selama di gereja mengajarkan hal-hal sesat, bergosip, menimbulkan perpecahan, dll. Bahkan mungkin — seandainya pendeta/gembala bisa memecat jemaat — maka ada keinginan di hati pendeta/gembala untuk “mengusir” pergi jemaat ini.

Kalau jemaat yang semacam ini pergi meninggalkan gereja, tidak perlu saya jelaskan kebaikan dan kondisi macam apa yang sebenarnya dinanti-nantikan oleh gereja itu.

Kebaikan bagi gereja lain.

Sudah jelas, ada tambahan jiwa baru bagi gereja lain. Bukankan ini sebuah kebaikan yang layak disyukuri oleh siapapun?

Saya sudah peringatkan di atas, bahwa tulisan ini bisa mengganggu bahkan membuat Anda tidak sejahtera. Sekali lagi, saya hanya berusaha melihatnya dari sisi yang berbeda, bahwa di dalam segala sesuatu Allah terlibat dalam membuat kebaikan bagi kita semua.

O’ya, ada satu pesan penting yang ingin saya katakan. Berpindahnya seorang jemaat ke gereja lain tidak berarti berakhirnya hubungan satu dengan yang lain. Jangan menjadikan jemaat yang pindah dari gereja Anda sebagai musuh Anda. Keterikatan di antara orang percaya tidak sedangkal hubungan keterikatan satu gereja saja, tetapi karena kita sama-sama dipersatukan oleh pengorbanan Yesus. Kasih Anda hanyalah kasih yang dangkal jika Anda memutuskan hubungan kasih hanya karena sudah berbeda gereja.

Saya tidak pernah terikat dengan satu gereja manapun secara institusi, saya terikat dengan Gereja — orang-orang, jiwa-jiwa yang ada di dalam gereja itu. Jika pada saatnya saya pergi dari gereja saya yang sekarang, kasih saya dan hubungan yang selama ini terjalin dengan jemaat tidak akan pernah hilang atau terputus. Mereka dan saya masih satu di dalam Gereja sejati, Tubuh Kristus itu sendiri.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

6 thoughts on “Pindah gereja, haramkah?

  1. Victorya

    Syaloom P Martinus,Tulisannya sangat pas untuk kondisi saya sekarang.Saat ini Saya sedang ada kesulitan, mau pindah gereja tapi pihak gereja asal keberatan memberi surat atestasi keluar.Padahal sudah sekitar 7 thn saya tidak gereja di situ dan menjadi simpatisan di gereja tujuan Saya tsb. Pihak gereja hanya mau mengeluarkan kalau yang meminta pindah itu orang tua saya. Saya agak kesal, karena toh ada hak pribadi untuk memilih gereja. Ada saran Pak, untuk menyikapi hal ini? GBU

    Reply
    1. martianuswb Post author

      Saran saya yang pertama adalah coba bicara dengan orang tua tentang hal ini, kemukakan alasan Anda untuk pindah gereja, kalau beliau berkenan supaya bisa minta surat dari gereja. Coba dulu yang ini, kalau tidak bisa saya akan beri saran berikutnya.

      Reply
  2. Nuel

    syalom, pak!kalau boleh saya tahu, bapak katolikkah?jujur, pak, tulisan bapak ini sedikit mencerahkan saya. Saya baru tahu, tidak ada dasar dalam Alkitab. Dulu saya selalu keberatan dengan sistem keanggotaan jemaat itu, atau dalam bahasa lainnya atestasi. Saya merasa sistem ini tak berguna. Gereja jadi seperti sebuah organisasi. Dan kalau dilihat secara seksama, bukankah ini mendorong ke arah pengkotak-kotakan? Jadi seolah-olah gereja jemaat X itu beda dengan gereja jemaat Y. Padahal bukankah kita ini semua kepunyaan Kristus?Kalau saya boleh tahu, sejak kapan sistem keanggotaan jemaat atau atestasi ini diadopsi gereja-gereja Kristiani? Bolehkah dibalas ke email: immanuel.lubis@gmail.com ?

    Reply
    1. martianuswb Post author

      Saya bukan Katolik, saya Kristen yang senang protes 🙂
      Sepengetahuan saya atestasi mengacu kepada proses perpindahan jemaat antargereja. Beberapa gereja dengan administrasi yang baik memberlakukan hal ini. Kalau ditanya kapan dimulainya sistem keanggotaan gereja, saya rasa harus mundur sampai kepada gereja katolik mula-mula saat ada kewajiban mencatat nama siapa saja yang sudah dibaptis. Maka sampai sekarang di AD/ART gereja atau Tata Laksana dan Tata Gereja selalu ada pasal tentang keanggotaan.
      Sebenarnya tidak salah gereja membentuk organisasi. Kalau mau melepaskan gereja dari organisasi, rasanya kita perlu reformasi lagi ya. Kalau di Indonesia spertinya tidak memungkinkan, karena gereja sebagai organisasi diwajibkan oleh undang-undang. Salah satu kepentingannya misalnya dalam hal lembaga pernikahan. Tetapi pernyataan Anda tentang pengotak-ngotakan jemaat adalah sebuah fakta. Saya rasa di sini pentingnya para pemimpin gereja menekankan bagaimana Gereja-gereja adalah satu Tubuh Kristus.

      Reply
  3. Nuel

    saya hanya mau gereja kembali sebagai tempat ibadah; bukan sebagai suatu organisasi. Bukankah sistem keanggotaan jemaat atau atestasi itu justru menghambat timbul persekutuan umat kristiani secara umum; bukan secara golongan?

    Reply
    1. En Tay

      Menurut saya … atestasi bukan menghambat, tapi sebaliknya mengajar jemaat untuk memiliki komitmen pada gereja. Saat atestasi dilakukan, itu berarti semua jemaat menyaksikan bahwa “saya tergabung dalam persekutuan jemaat ini”.Kecuali, kalau seseorang dipaksa untuk atestasi atau prosedur atestasi terlalu berbelit-belit.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.