Gawai bukan segalanya

      No Comments on Gawai bukan segalanya

Tadi saya diundang untuk berbicara kepada sekelompok remaja gereja. Temanya adalah “Gadget bukan segalanya”. Padanan kata untuk gadget di Indonesia adalah gawai, jadi jangan bingung dengan kata ini, bisa cari di Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Ketika memasuki gedung gereja, apa yang saya lihat? Ya, kelompok remaja yang asyik dengan gawai masing-masing 🙂 Tadi saya menyampaikan kepada mereka beberapa fakta tentang teknologi informasi dan penggunaan gawai di satu dekade terakhir.

  • Indonesia berpopulasi 220 juta
  • 30,1 juta pengguna Facebook (No. 2 di dunia)
  • 6,2 juta pengguna Twitter (No.3 di Asia dengan aktivitas tertinggi di dunia)
  • 45 juta pengguna internet aktif
  • 150-180 juta pengguna gawai
  • 40% remaja lebih memilih kehilangan motor, mobil, TV, bahkan jari kelingkingnya daripada kehilangan gawainya
  • 57% remaja marah saat kehabisan pulsa, baterai gawai habis, atau tidak mendapat signal.
  • 9% mengaku stress saat gawai mereka mati.
  • 65% remaja tidur dengan gawai mereka.
  • 50% remaja tidak pernah mematikan gawainya.

Maka tidak heran muncul fobia baru. Nomophobia (no-mobile phone-phobia) : rasa takut yang berlebihan jika dirinya tidak memegang gawai. Ketagihan generasi muda sekarang kepada gawai harus dipahami dari sudut pandang mereka. Maka saya menjelaskan kepada mereka tadi, sebenarnya potensi mereka sebagai generasi EPIC. Tentang generasi EPIC ini pernah saya tulis di sini.

Dari Roma 12:2, kita bisa memahami bagaimana supaya kita dan generasi ini tidak terikat dan menjadi diperbudak oleh teknologi.

“Don’t become so well-adjusted to your culture that you fit into it without even thinking. Instead, fix your attention on God. You’ll be changed from the inside out. Readily recognize what he wants from you, and quickly respond to it. Unlike the culture around you, always dragging you down to its level of immaturity, God brings the best out of you, develops well-formed maturity in you.” [1]

“Jangan sembarang mengikuti gaya hidup dunia. Tetapi, arahkanlah hatimu kepada Tuhan. Hidupmu akan diubahkan, jika engkau mau mengenal kehendak-Nya dan tidak menunda untuk taat. Gaya hidup dunia akan menyeretmu dalam sikap kekanak-kanakan, tetapi Tuhan akan membentuk dirimu dalam kedewasaan” [2]

Mengapa musti waspada dan hati-hati dengan gaya hidup dunia?

Pertama, gaya hidup dunia akan memperbudak kita. Perhatikan ayat di atas, “… you fit into it without even thinking”. Mengikuti gaya hidup dunia seringkali membuat kita tidak lagi mampu berpikir secara normal, bahkan tanpa berpikir sama sekali. Tidak lagi bisa mempertimbangkan mana yang baik dan mana yang berkenan kepada Allah.

Jangan salah memahami, bahwa teknologi itu sesat dan berdosa. Tidak dapat disangkal bahwa teknologi membuat hidup kita lebih mudah, dan membuat pekerjaan kita lebih efisien. Tetapi prinsipnya harus tetap sama, kita tidak boleh menjadi budak teknologi.

“Technology should be a servant, not a master”

Kedua, gaya hidup dunia akan menarik hati kita menjauh dari Tuhan. Ada waktu-waktu yang seharusnya kita arahkan hati kepada Tuhan, tetapi karena ketergantungan dan keterikatan kita dengan dunia — termasuk dengan gawai –, sehingga kita malah menjauh dari Tuhan.

Berapa lama kita bisa chatting? Berapa lama kita bisa berdoa? Berapa lama kita bisa melihat YouTube? Berapa lama kita membaca Alkitab?
Ketiga, gaya hidup dunia mengkerdilkan kerohanian kita. Sebagaimana tubuh jasmani kita membutuhkan gizi untuk bertumbuh, demikian juga dengan kedewasaan rohani kita. Jika kita memberi makanan yang salah kepada roh kita, yang seharusnya menjadi dewasa malahan tidak bertumbuh.
Apa yang harus kita lakukan?

1. Arahkan hati kepada Tuhan.

Silakan gunakan teknologi dalam batasan yang wajar, tetapi tidak boleh terikat apalagi diperbudak olehnya. Hati harus terus terarah kepada Tuhan. Ingat, “di mana hartamu berada, di situlah hatimu”
2. Kenali kehendak Tuhan dan taat segera.

Berikan waktu untuk mengetahui kehendak Tuhan. Disiplinkan diri untuk membaca Alkitab, untuk berdoa, untuk merenungkan kehendak-Nya. Dan jangan berlambat-lambat, menunda-nunda untuk taat. Orang tua kita tahu persis bahwa ketaatan yang ditunda itu adalah ketidaktaatan. Mengatakan “ya, sebentar” di mata Tuhan sama dengan berkata “tidak”.

“Delayed obedience is disobedience”
3. Serahkan hidup untuk diubahkan Roh Kudus untuk bertumbuh dalam kedewasaan.

Jalani hidupmu bersama Tuhan. Manis, pahit, sukacita, dukacita, berhentilah menggerutu dan bersungut-sungut, apalagi di sosial media. Jika ada yang ingin kita katakan kepada Tuhan, katakanlah dulu kepada Tuhan, jangan umbar kepada dunia.

Untuk mengetahui bagaimana gawai dimanfaatkan secara positif dan membangun, saya sarankan Anda meluncur ke YouTube untuk melihat atau mengunduh film Linimassa 1, Linimassa 2, dan Linimassa 3. Bisa juga langsung ke situsnya di http://linimassa.org/

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]Romans 12:2 – The Message
  2. [2]Roma 12:2 – terjemahan Martianus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.