Affluenza: epidemic of overconsumtion

Affluenza

Dua hari kemarin, berulang kali mas Sigi Ari di linimasanya membuat kultwit tentang konsumerisme teknologi masyarakat Indonesia sekarang ini. Contoh kasus yang diangkatnya adalah berkenaan tingkat pembelian dan pergantian gadget (handphone, smartphone, pc tablet, dll) masyarakat Indonesia.

Pada prinsipnya, mas Sigit Ari mengamati bagaimana kebanyakan orang cenderung ingin terus memiliki gadget-gadget yang paling anyar tanpa pengetahuan penggunaan yang sesungguhnya. Konsumerisme semacam ini berprinsip pada pemikiran ikut tren yang sedang berjalan. Meskipun saya tahu banyak orang yang baca kritikan mas Sigit Ari akan mencemooh dengan mengatakan kalau dia iri atau tidak mampu membeli 🙂

Saya tidak sedang melanjutkan kritikan mas Sigit Ari, lha wong nyata-nyatanya banyak yang bawa BB cuma bisa update status saja kok. Susah sama orang-orang yang kayak gini, penginnya punya gadget terbaru padahal cuma jadi korban teknologi. Silakan baca tulisan saya tentang “Toleran dan dewasa dalam berinteraksi di internet”. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa sebenarnya hal macam ini sudah ada tinjauan ilmiahnya dan melalui penelitian yang baik.

Konsumerisme yang berlebihan ini dikenal dengan nama “affluenza“. Kalau Anda belum pernah mendengarnya … ya saya anggap wajar saja. Saya pernah sekali mengkhotbahkan hal ini, dan rupanya tidak ada seorang pun yang pernah mendengar tentang affluenza.

Kata affluenza merupakan gabungan dari “affluence” dan “influenza“, sebuah kata yang tercipta dari penelitian tentang kapitalisme dan konsumerisme. Affluenza didefinisikan sebagai:

  1. Materialisme tingkat ekstrim, yang merupakan penggerak bagi seseorang untuk menimbun dan mengonsumsi barang-barang secara berlebihan;
  2. Perasaan bersalah dan terkucil yang diakibatkan ketidakmampuan seseorang mengejar kekayaan dan materi

Kalau definisi saya tentang affluenza yang seperti judul di atas, “an epidemic of overconsumption“. Seperti penyakit influenza, affluenza ini mewabah, menular, cepat menyebar, dan tanpa disadari merugikan penderitanya.

Oliver James, seorang psikolog inggris yang meneliti affluenza, menyebutkan bahwa “penyakit” ini sebenarnya muncul pada orang dengan kondisi mental tertekan, kondisi mental masih labil; bahasa sederhananya masih belum mencapai mental yang dewasa. Disebutkan pula dalam jurnal penelitiannya bahwa jika di satu masyarakat di satu daerah tingkat affluenzanya meningkat, maka di daerah itu akan makin lebar kesenjangan sosial ekonomi. Dengan semakin melebarnya kesenjangan, maka makin bertambah tingkat ketidakpuasan dan ketidakbahagiaan masyarakatnya.

Ini jelas bertentangan dengan pandangan masyarakat pada umumnya. Kebanyakan orang berpikir, makin banyak materi yang kita miliki, makin bahagia kita. Sadar atau tidak, kesuksesan seseorang selalu dinilai berdasarkan harta dan materi yang dimilikinya. Kesejahteraan dan kemakmuran di sebuah kota dinilai dengan banyaknya mall yang berdiri di kota itu. Saya pernah mendengar seseorang yang mengeluh karena harus berpindah di sebuah kota yang tidak ada mallnya.

Kembali ke kritik mas Sigit Ari tentang affluenza gadget di masyarakat kita sekarang ini. Monggo, monggo saja kalau mau beli gadget terbaru, mau BB, mau Android, mai iPad, mau Galaxy Tab, atau yang lainnya. Tapi mbok ya mau belajar menggunakan teknologi, ndak cuma buat update status. Kalau cuma buat sms dan telepon, saya pikir semua handphone sudah bisa melakukan itu. Update status dan terima notifikasi atau email, hampir semua handphone bisa mengerjakannya to.

Makanya saya mendorong kita semua mau jadi subjeknya teknologi, jangan jadi korbannya, belajar dong lebih banyak. Kalau mas Sigit Ari bilang, handphone dia yang cuma merk China saja bisa dia bikin melakukan apa yang dilakukan BB kok, masak yang punya BB kalah. Eh, ndak percaya … bener lho hp China itu bisa optimal melakukan aplikasi BB asal tahu saja bagaimana caranya. Susah??? Nope, gampang banget kalau mau belajar.

Pernah dengar namanya Harry Van Jogja kan? Itu lho seorang tukang becak di Jogja yang “benar-benar menggunakan” Facebook untuk kehidupannya. Sampai sekarang masih jadi tukang becak, tapi sudah bisa bikin buku tentang sosial media, jadi pembicara dan narasumber sosial media, jadi subjek penelitian mahasiswa. Apa ndak keren tu? Sementara Anda yang cuma bisa update status … ah kebangetan memang.

Coba download film Linimas(s)a dan buku Linimas(s)a di http://linimassa.org/. Mungkin bukan primbon sakti supaya kita bisa lebih baik berinternet. Cuma di sana ada banyak kisah nyata dan tulisan orang-orang yang memanfaatkan teknologi untuk kebaikan. Bukan dalam artian menghasilkan uang saja, tetapi sungguh-sungguh teknologi bagi umat manusia. Bagaimana Twitter digunakan untuk mengorganisasi bantuan korban merapi; bagaimana Facebook digunakan untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan darah; bagaimana kawan-kawan difable menggunakan internet; sampai bagaimana internet digunakan untuk transformasi sosial masyarakat. Mereka yang ada di film dan buku Linimas(s) ini bukan tokoh-tokoh terkenal, tapi nama mereka dikenal oleh mbah Google sebagai orang-orang yang berkontribusi menggunakan internet untuk perbaikan dan kebaikan.

Anda mau tetap jadi korban teknologi, atau mau jadi subjek teknologi? Yah … itu terserah Anda sih.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.