Dicari! Gereja yang asyik

      1 Comment on Dicari! Gereja yang asyik

Kemarin malam seorang sahabat lama berkomunikasi lewat sms. Ngobrol ke sana ke mari, di tengah obrolan itu ada pernyataannya yang mengusik hati saya. Dia bilang seperti ini, “Wah, sekarang gerejaku tidak seperti dulu lagi mas, sekarang dah gak asyik”.

Langsung saja, jiwa blogger ini keluar; jadi pengin nulis tentang “gereja yang asyik”. Akhirnya semalaman cari referensi dan muncullah tulisan ini. Pertanyaan yang harus dijawab adalah, sebenarnya seperti apa gereja yang asyik itu.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “asyik” didefinisikan sebagai:

  1. dalam keadaan sibuk (melakukan sesuatu dengan gemarnya);
  2. sangat terikat hatinya; penuh perhatian;
  3. senang;
  4. berahi; cinta kasih; sangat cinta (gemar)

Kalau dari sini saja, saya coba mendefinisikan “gereja yang asyik” adalah gereja yang:

  1. membuat jemaat gemar/senang ada di sana;
  2. hati jemaatnya terikat di sana; gereja yang penuh perhatian kepada jemaatnya;
  3. jemaatnya senang beribadah di sana
  4. jemaatnya sangat cinta kepada gereja itu

Itu kalau dari sisi bahasa lho. Kemudian saya coba tanya teman yang kemarin sms, juga saya tanya beberapa kawan lain. Ini beberapa tanggapan mereka.

“Gereja yang asyik itu ndak ngebosenin”. Ndak ngebosenin? Ini malah nambah pertanyaan baru toh.

“Gereja ndak asyik karena orang-orangnya bikin kelompok sendiri-sendiri. Cuma mau bergaul sama kelompoknya. Terus mereka itu senengnya sibuk sama gadgetnya sendiri-sendiri, lebih seneng update status daripada bergaul sama kawan se-gereja”. Cukup masuk di akal pendapat yang ini.

“Gereja yang asyik itu, programnya bikin kita happy, khotbahnya ndak bikin ngantuk, pendetanya ngasih perhatian ke jemaat, semuanya bergaul dengan penuh kasih dan akrab”. Nice komen nih 🙂

“Yang ndak asyik itu gini lho mas, ada yang mikir dirinya lebih rohani dari yang lain, terus menyalahkan, menghujat, sok suci gitu lho mas. Terus habis itu kan jadi ada permusuhan to, saling ngegosip, ah … pokoknya ndak nyaman lah”. Hem … mmm …. *manggutmanggut*

Bisa ditebak sih, kalau yang ngasih komentar macam itu di atas biasanya yang muda-muda atau remaja, eh tapi jangan salah banyak lho orang tua yang punya perasaan sama. Ingat, pernah saya tulis kalau salah satu indikator gereja yang sekarat adalah berkurangnya kehadiran ibadah remaja/pemuda. Mengapa demikian? Remaja dan pemuda punya perasaan yang sangat sensitif terhadap kasih dan perhatian, mereka sangat bisa membedakan mana perhatian dan kasih yang sejati dan mana kasih yang sejati.

Sejujurnya sih, saya kesulitan juga mendeskripsikan gereja yang asyik dan gereja yang tidak asyik. Saya pernah menghadiri ibadah gereja yang jemaatnya ribuan, hampir tidak kenal satu dengan yang lain, asyik … asyik saja 🙂 Saya pernah berkhotbah di gereja yang kecil, tetapi penuh semangat dan gairah, wow … asyik sekali. Saya tahu gereja yang tidak pernah mengajarkan persembahan dan persepuluhan kepada jemaatnya, hanya ada kotak kecil ditaruh di depan gereja, terserah jemaat mau persembahan atau tidak, tapi mereka baru selesai bangun gereja dari 3 ruko seharga 5 M tuh, apa ndak gereja yang asyik itu. Saya ketemu pendeta sebuah gereja yang menolak persembahan milyaran dari calon jemaat baru, sebelum jemaat itu mau belajar kebenaran Alkitab yang sebenar-benarnya. Saya pernah menghadiri gereja yang hampir seluruh jemaatnya adalah orang tua dan manula, tetapi penuh canda gurau yang mengasyikkan. Saya tahu gereja yang senangnya saling senggol, gampang tersinggung, ndak mau disalahkan, tapi tetap asyik-asyik saja 🙂 Jadi gereja seperti apa yang disebut gereja yang asyik?

Akhirnya saya memilih mendeskripsikan gereja yang asyik itu seperti berikut. Mohon kembali ditanamkan bahwa gereja itu bukan gedung tempat beribadah, gereja bukan tata ibadahnya, gereja bukan alat musik, gaya penyembahan, atau bahkan gaya khotbah, Gereja ada Anda dan saya; gereja adalah orang-orangnya. Jadi, saya rasa asyik tidaknya sebuah gereja bergantung kepada hubungan antarorang-orang di dalamnya. Gereja jadi asyik kalau ada persekutuan yang sejati di antara orang-orangnya toh. Setuju ndak dengan saya?

Mending jangan cari gereja yang asyik ya. Jadikan hidupmu supaya asyik dan mengasyikkan orang lain, maka gerejamu akan jadi gereja yang asyik. Hidupi persekutuan yang asyik dan mengasyikkan di dalam gereja kita masing-masing, dan akan tercipta gereja yang asyik.

Kalau menurut Anda, gereja yang asyik itu makhluk macam apa ya?

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

1 thought on “Dicari! Gereja yang asyik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.