Dendam itu terbalas hari ini (a biblical side story)

Matahari sudah cukup tinggi, bau keringatku bercampur dengan bau amis ikan-ikan yang kutangkap tadi seperti menari-nari di kedua lubang hidungku.

“Berapa banyak?”, kudengar teriakan dari perahu di sebelahku.

Di bawah kilau matahari, sembari kusipitkan mataku, aku tahu Yonatan di perahu itu.

“Puji Tuhan!”, sahutku.

Sembari menata jalanya, kulihat Yonatan mengacungkan jempolnya.

Kerja keras semalam tadi menghasilkan ikan yang cukup banyak. Paling tidak bisa kujual untuk membeli kebutuhan lainnya dan juga untuk membayar pajak. Ah … pajak! Jahanam benar orang Romawi itu. Sudah susah hidup kami ini sebagai orang terjajah, masih ditambah dengan pajak setinggi langit. Belum lagi tikus-tikus piaran orang Romawi itu, pemungut pajak itu. Bukannya membela bangsanya sendiri, malahan menjilat bokong kaum penjajah itu.

Eh … mungkin bisa kusisakan sedikit uang untuk membelikan kesukaan istriku. Apa ya kesukaannya? Ingin sekali aku lihat lagi senyumnya itu. Senyum yang menawan hatiku sehingga kunikahi dia dua tahun yang lalu. Tapi, sudah tiga bulan ini tiada lagi senyum yang mencerahkan hatiku itu.

Setelah kuseret perahu kecilku, dan kuangkat keranjang berisi ikan itu, masih jelas terukir di ingatanku, hari yang naas itu.

“Shalom!”, kudengar seorang tetanggaku menyapa.

Dengan senyum yang kupaksakan, kubalas sapaannya dengan singkat, “Shalom”.

Hari yang tidak bisa kulupakan itu dimulai dengan canda dan tawa ceria Ribka kecil, putri pertama kami yang baru berusia satu tahun lebih. Baru senang-senangnya berjalan dan berlari anakku itu. Dia turun dari pangkuan ibunya dan berlari keluar rumah.

Tiba-tiba terdengar suara, “Bruk, prak”. Lalu suara jeritan kecil dari Ribka terdengar dan hanya itu saja. Istriku dan aku bergegas keluar. Sebuah pemandangan yang menggelapkan seluruh hari kami.

Ribka tertelungkup di jalan kasar di depan gubug kami, darah mengalir dan menggenang di jalan berpasir itu.

Seorang laki-laki gagah, tinggi besar mengangkat tongkatnya. Bersama dia kulihat sosok yang kubenci itu. Bos para pemungut cukai yang dikelilingi oleh para pengawalnya. Orang itu, pendek, gemuk, dengan jubah dan jenggotnya, berkalungkan beberapa untaian emas, dengan cincin di hampir semua jarinya, kelihatan tidak peduli dengan apa yang terjadi.

Kulihat sekilas istriku memeluk tubuh anakku yang lemas sambil menangis.

Lalu, “Krincing”. Segepok uang jatuh di kakiku. Salah seorang pengawal ini melemparkannya sembari berjalan terus dengan tuan yang dilindunginya itu.

Segera kusambar tubuh Ribka dan kubopong sambil berlari ke rumah tabib. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tetapi air mata terus mengalir dibawa oleh angin yang terbang melawan tubuhku.

Terlambat, tabib tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Luka di kepala Ribka terlalu parah, dia terlalu banyak kehilangan darah. Aku terduduk lesu di pojok rumah tabib itu. Kulihat istriku, dalam diam, tanpa air mata, menggendong tubuh kaku Ribka, dan membawanya pulang ke gubug kami. Aku mengikuti di belakangnya dengan ditemani beberapa tetangga kami.

Segera kami memakamkan putri kami tercinta ini. Dari tetangga-tetangga yang melihat kejadian tadi, baru aku tahu kalau Ribka berlari keluar dari rumah dan menabrak bos para pemungut pajak itu. Seketika itu juga salah satu pengawalnya memukul Ribka dengan tongkatnya.

Aku tidak lagi ingat apa yang kurasakan waktu itu, apakah sedih, apakah marah, ataukah dendam. Yang aku tahu, aku sudah berdiri di depan gerbang rumah megah pemimpin para pemungut pajak itu membawa kantung uang yang kemudian kulemparkan di depan gerbang itu. Beberapa pengawalnya keluar dengan membawa beberapa anjing dan menyuruh anjing-anjing itu menyerang aku. Sembari anjing-anjing itu menggigitku, mereka dengan tertawa memukuli tubuhku.

Yang kemudian aku tahu adalah aku sudah berada di rumah, dengan rasa sakit di sekujur tubuhku. Kulihat di sisiku istriku tertidur dengan beberapa perban dan bekas rempah-rempah pereda rasa sakit di kedua tangannya. Sejak hari itu, aku merindukan sinar wajahnya dan senyumnya yang dulu pernah menaklukkan hatiku.

Rasa-rasanya ikan yang kutangkap hari ini lebih banyak dari hari biasanya. Keranjang di punggungku terasa lebih berat. Aku berjalan pelan mendaki jalan setapak berpasir dan berbatu itu. Aku mengangkat kepala dan wajahku, berusaha merasakan semilir angin yang sejuk itu. Dan di ujung jalan sana, kulihat istriku berdiri di sana.

Kulihat dia dengan kerudungnya, melambai ke arahku, senyuman lebarnya menampakkan barisan gigi yang indah itu. Kulambaikan tanganku dan membalas senyum … senyum … SENYUM!!!??? Istriku tersenyum? Ada apa ini? Belum selesai otakku memproses semua pertanyaan itu, tubuhku ditabrak dari belakang. Beberapa tetanggaku berlari menuju ke gerbang kota.

“Ada apa?”, tanyaku.

Kulihat Aaron mendekat, kutarik lengan bajunya sambil ku berteriak, “Ada apa? Ada apa?”

“Rabbi itu, guru itu lewat di kota kita”, sahutnya sembari terus berlalu.

Aku merasakan tanganku ditarik, rupanya istriku yang memegangnya.

“Guru itu datang ke sini”, teriaknya di tengah keriuhan itu.

“Ayo, kita lihat dia!”, lanjutnya sembari terus menarik tanganku.

Otakku berputar, Rabbi, guru, siapa? Rabbi itu! Hah, guru itu benar datang ke kota ini? Guru itu benar-benar datang!

“Larilah duluan! Kuletakkan dulu keranjang ini”, kataku kepada istriku.

“Segera susul, jangan lambat-lambat!”, teriak istriku. Aku menganggukkan kepalaku sembari meletakkan keranjang ikan yang tadi kugendong.

Aku segera berlari menyusul, berlomba dengan kerumunan orang-orang ini. Di belakangku kudengar suara orang terengah-engah. Gemerincing kalungnya terdengar jelas. Aku tahu pasti siapa ini. Dari baunya saja aku kenal orang angkuh dan kejam ini. Aku menghentikan langkahku, dan tubuh pendek gemuk itu menabrakku hingga terjatuh terlentang.

Aku membalikkan badanku, kedua tanganku terkepal, aku bisa merasakan dengus kemarahan dari dalam dadaku mengalir ke rongga hidungku.

“Maaf!”, kata si pendek itu.

Tubuhku kaku terdiam, tiada bergerak.

Kini dia merangkak dan berlari kecil meneruskan langkahnya dengan napas terengah-engah. Mataku terus mengikuti gerak-geriknya, dendam itu akan terbalaskan hari ini. Kulihat dia berusaha menerobos kerumuman orang-orang yang berdiri di pinggir jalan itu, tetapi berulangkali juga dia didorong keluar dari kerumunan itu hingga berulang kali terjatuh ke belakang.

Kuikuti dia dengan perlahan. Tidak ada gerak-geriknya yang tidak kuperhatikan. Bagi kami di kota ini, dia adalah musuh bersama. Tidak heran banyak orang menghalang-halangi dia melihat guru itu. Hari ini dendam akan dilunasi. Mata ganti mata, gigi ganti gigi, nyawa ganti nyawa.

Ah … tidak kurang akal si pendek ini. Sekarang dia mau memanjat pohon. Dengan tenang aku berjalan mendekatinya. Aku berjongkok mengambil sebuah batu yang cukup besar. Tinggal kutarik saja dia ke bawah, kujatuhkan ke tanah, dan hantam kepala sombongnya itu dengan batu ini. Dengan semua orang melihat guru yang lewat itu, tidak akan ada yang tahu.

Kujulurkan tanganku mendekati kakinya yang terjuntai dari dahan pohon itu … (bersambung)

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.