Tidak ada yang bisa memaksa Anda untuk taat

Saya seringkali mengingatkan bahwa berbahaya kalau mencomot ayat sembarangan dan mengkhotbahkannya tanpa melihat konteks kebenarannya secara keseluruhan. Sekarang perhatikan ayat ini.

Di situ kami mengunjungi murid-murid dan tinggal di situ tujuh hari lamanya. Oleh bisikan Roh murid-murid itu menasihati Paulus, supaya ia jangan pergi ke Yerusalem.[1]

Bukankah Roh Kudus sudah melarang Paulus untuk pergi ke Yerusalem? Berarti kenekatan Paulus ke Yerusalem, yang kemudian menghadapi hukuman mati di sana, adalah sebuah ketidaktaatan kepada suara Roh? Berarti sebenarnya Tuhan tidak menghendaki Paulus pergi dan mati di Yerusalem kan?

Nah, ini hanya satu masalah saat kita memenggal teks Alkitab tanpa memahami konteks. Berkhotbah dan mengajarkan Alkitab itu bukan kita punya ide – yang seringkali disebut visi; suara dari Tuhan – lalu kita cari ayatnya untuk melegitimasi ide kita. Bukan seperti itu! Kita baca lengkap satu perikop ya.

Sesudah perpisahan yang berat itu bertolaklah kami dan langsung berlayar menuju Kos. Keesokan harinya sampailah kami di Rodos dan dari situ kami ke Patara. Di Patara kami mendapat kapal, yang hendak menyeberang ke Fenisia. Kami naik kapal itu, lalu bertolak. Kemudian tampak Siprus di sebelah kiri, tetapi kami melewatinya dan menuju ke Siria. Akhirnya tibalah kami di Tirus, sebab muatan kapal harus dibongkar di kota itu. Di situ kami mengunjungi murid-murid dan tinggal di situ tujuh hari lamanya. Oleh bisikan Roh murid-murid itu menasihati Paulus, supaya ia jangan pergi ke Yerusalem. Tetapi setelah lewat waktunya, kami berangkat meneruskan perjalanan kami. Murid-murid semua dengan isteri dan anak-anak mereka mengantar kami sampai ke luar kota; dan di tepi pantai kami berlutut dan berdoa. Sesudah minta diri kami naik ke kapal, dan mereka pulang ke rumah. Dari Tirus kami tiba di Ptolemais dan di situ berakhirlah pelayaran kami. Kami memberi salam kepada saudara-saudara dan tinggal satu hari di antara mereka. Pada keesokan harinya kami berangkat dari situ dan tiba di Kaisarea. Kami masuk ke rumah Filipus, pemberita Injil itu, yaitu satu dari ketujuh orang yang dipilih di Yerusalem, dan kami tinggal di rumahnya. Filipus mempunyai empat anak dara yang beroleh karunia untuk bernubuat. Setelah beberapa hari kami tinggal di situ, datanglah dari Yudea seorang nabi bernama Agabus. Ia datang pada kami, lalu mengambil ikat pinggang Paulus. Sambil mengikat kaki dan tangannya sendiri ia berkata: “Demikianlah kata Roh Kudus: Beginilah orang yang empunya ikat pinggang ini akan diikat oleh orang-orang Yahudi di Yerusalem dan diserahkan ke dalam tangan bangsa-bangsa lain.” Mendengar itu kami bersama-sama dengan murid-murid di tempat itu meminta, supaya Paulus jangan pergi ke Yerusalem. Tetapi Paulus menjawab: “Mengapa kamu menangis dan dengan jalan demikian mau menghancurkan hatiku? Sebab aku ini rela bukan saja untuk diikat, tetapi juga untuk mati di Yerusalem oleh karena nama Tuhan Yesus.” Karena ia tidak mau menerima nasihat kami, kami menyerah dan berkata: “Jadilah kehendak Tuhan!”[2]

Jika kita perhatikan bacaan satu perikop di atas, ada dua kali Roh Kudus bersuara. Pertama, melalui murid-murid di Tirus dan kedua, melalui Agabus dari Yudea yang datang ke Kaisarea. Jangan dibaca harafiah bahwa Roh Kudus melarang Paulus untuk pergi ke Yerusalem.

Di ayat 4, kita bisa baca bahwa Lukas menggunakan kata “bisikan” (Yunani: dia) yang salah satu maknanya adalah menjelaskan alasan sesuatu dikerjakan atau tidak dikerjakan. Jadi, baik melalui murid-murid di Tirus maupun melalui nabi Agabus, Roh Kudus menunjukkan apa yang akan terjadi saat Paulus pergi ke Yerusalem. Jangan dikatakan kalau Roh Kudus melarang Paulus untuk pergi ke Yerusalem, bahkan sesungguhnya Roh Kudus pun tidak bisa memaksa Paulus ke Yerusalem jika Paulus memilih untuk tidak pergi.

Saya membayangkan demikian, nubuatan keluar dari mulut murid-murid di Tirus dan Agabus tentang kematian yang menunggu Paulus di Yerusalem, dan semua murid di sana mendengarnya. Apakah karena kasih jemaat di sana – ataukah karena pikiran mereka dipakai oleh iblis; perlu ditelisik lebih dalam – mereka meminta Paulus supaya jangan pergi ke Yerusalem.

Saya mau menggaris bawahi ketaatan yang dipilih oleh Paulus. “Sebab aku ini rela bukan saja untuk diikat, tetapi juga untuk mati di Yerusalem oleh karena nama Tuhan Yesus.”, itu kata Paulus. Tidak perlu berandai-andai bagaimana jika Paulus memilih untuk tidak melanjutkan pergi ke Yerusalem. Yang kita tahu, dan yang patut kita ikuti adalah pilihan ketaatan yang dihidupi oleh Paulus.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]Kisah Para Rasul 21:4
  2. [2]Kisah Para Rasul 21:1-14

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.