Mengapa saya berdoa untuk gereja teraniaya (6)

Dikenal dengan nama “Auntie Mabel”, seorang doktor di Beijing yang datang dari keluarga yang kaya. Untuk merawat saudara laki-lakinya yang sakit, dia memutuskan untuk tidak menikah. Pilihan hidupnya untuk menjadi pengikut Kristus membawanya kepada sebuah penderitaan.

Di tahun 1949, saat terjadi Revolusi Kebudayaan di Tiongkok, kehidupannya berubah total. Dianggap sebagai tuan tanah karena memiliki rumah yang begitu besar, dia diusir dari rumahnya dan dipaksa tinggal di sebuah lumbung yang hanya berisi satu tungku, dua bangku, dan sebuah tempat tidur tua. Dilepaskan dari jabatannya sebagai dokter dan dipaksa bekerja membersihkan pasir.

Pasukan Merah – para pemuda yang diberi kekuasaan untuk menegakkan revolusi – mulai mendatangi rumahnya, memukuli dia, dan kemudian mengaraknya keliling sambil membawa plakat berisi kesalahan-kesalahannya. Di depan rumahnya didirikan sebuah papan yang berisi tulisan “dosa-dosanya” dan salah satunya adalah membagikan Alkitab.

Sampai pada suatu titik dia merasa tidak kuat lagi dan memutuskan akan bunuh diri. Tetapi tidak jadi dilakukannya, “Entah bagaimana TUHAN memberi saya kekuatan untuk bertahan, tetapi saya tidak mengerti”, yang dikatakannya mengenang hari itu.

Bertahun-tahun kemudian, baru dia memahami rencana Tuhan. Di usianya yang melewati 70 tahun, saat Revolusi Kebudayaan mulai ditinggalkan, dan Pasukan Merah dihapuskan, terjadi perubahan. Dia memang tidak pernah dikembalikan ke rumahnya, tetapi dia mulai mendapat kunjungan banyak tamu. Tamu-tamu ini adalah tokoh-tokoh penting berkedudukan tinggi di dalam Partai Komunis. Ketika dia bertanya mengapa mereka datang ke gubung seorang wanita tua, mereka menjawab bahwa selama Revolusi Kebudayaan, di depan rumahnya tertulis bahwa dia dinyatakan bersalah karena membagikan Alkitab. Dan kini mereka datang untuk bertanya masih adakah Alkitab yang dimilikinya yang bisa dibagikan kepada mereka.

Terheran-heran dengan rencana TUHAN, dia menyadari, papan nama yang dulu menjadi sumber penderitaannya ternyata adalah rencana TUHAN untuk sebuah pelayanan yang baru. Dengan segera dia menghubungi pelayanan misi yang dulu menyelundupkan Alkitab kepadanya.

Saya mengutip pernyataan Auntie Mabel:

It’s been nice to know why. It helps my faith. But it was hard. Every day was hard. I can’t say I saw Jesus, or even felt Him close most of the time. I just got the strength to keep going, and that was enough.

Gereja teraniaya mengajarkan bahwa memang akan ada hari-hari yang berat, mungkin sangat berat; waktu di mana saya bahkan tidak bisa merasakan kehadiran-Nya, tetapi ada satu nilai penting: “If we don’t give up, we will rule with him”[1]

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]1 Timothy 2:12 – CEV

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.