Memahami penyakit dan mujizat kesembuhan secara proporsional

Tulisan ini bukan karya saya sendiri. Saya sarikan dari tulisan Pdt. Erastus Sabdono di dalam Daily Enlightment edisi Juni 2016 dari tanggal 19-22 Juni. Saya tahu banyak di antara Anda yang jarang mendengarkan khotbah pendeta selain gembala Anda, bahkan ada yang dilarang ‘kan mendengarkan khotbah pendeta lain; dibilang tidak jelas ajarannya, bisa kena kutuk 🙂 Tapi Anda tidak dilarang membaca tulisan saya ‘kan, lha wong saya bukan pendeta.

Saya merasa perlu membagikan pengajaran ini melihat banyaknya pengajaran tentang kesembuhan ilahi yang kurang pas pada tempatnya. Terlalu berlebihan hingga mendistorsi pesan asli dari Tuhan Yesus. Saya lebih memilih mengatakan pengajaran yang tidak lagi proporsional.

Tetapi dia tertikam oleh pemberontakan kita, dia diremukkan oeh karena kejahatan kita, ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.[1]

Inilah jalan satu-satunya manusia bebas dari kutuk. Oleh karena Tuhan Yesus kita dibebaskan dari segala kutuk. Tuhan menanggung segala penderitaan dan sakit penyakit kita. Oleh sebab itu di dalam Tuhan kita menerima jaminan kesehatan, selama kita ada dalam kehendak-Nya. Kalau Tuhan Yesus sudah memikul dosa dan segala sakit penyakit kita, tetapi mengapa masih terdapat orang Kristen yang sakit?

Ada 3 penyebab mengapa masih ada orang Kristen yang sakit.

Pertama, sakit penyakit itu dialami karena dosa yang dilakukan oleh orang tua kita. Kesalahan orang tua kadang-kadang ikut ditanggung juga oleh anak-anaknya.

… Aku, TUHAN, Allahmu adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang yang membenci Aku.[2]

Masih ingat kisah Gehazi? Oleh karena kesalahannya, kutuk tidak sekedar dialaminya, juga sampai kepada keturunannya.

Kedua, sakit penyakit juga bisa dialami seseorang disebabkan oleh disiplin Tuhan karena dosa kejahatan atau kesalahan orang itu sendiri. Sebenarnya orang tersebut sudah bertanggung jawab menjaga kesehatan dengan pola makan dan pola hidup yang baik, tetapi ia tidak dengar-dengaran kepada Tuhan. Hidupnya bergelimang dengan dosa dan kejahatan.

Kehidupan yang tidak dengar-dengaran mendatangkan disiplin. Displin tidak berarti hukuman, tetapi tindakan Tuhan untuk mendewasakan. Banyak penyakit yang dialami oleh seseorang karena hidupnya tidak sesuai dengan kehendak Allah.

Ketiga, sakit yang disebabkan oleh tindakan manusia itu sendiri, yaitu tidak menjaga pola hidup dan pola makan yang baik. Bagaimanapun, walau sebagai anak-anak Allah, kita tetap harus tunduk kepada tatanan Tuhan, bahwa apa yang ditabur seseorang itu juga akan dituainya.

Adalah sebuah keniscayaan orang Kristen walaupun rajin ke gereja, walaupun menjadi aktivis jemaat bahkan menjadi pendeta, ia harus menuai apa yang telah ditaburnya. Mau melayani sehebat apapun, tetapi pola hidup dan pola makannya yang sembarangan,ya muncul sakit penyakit.

Bagaimana dengan janji kesembuhan bagi orang Kristen, apakah dengan percaya kepada Tuhan Yesus kita tidak dapat mengalami sakit penyakit? Kenyataan yang kita saksikan adalah banyak orang Kristen yang sakit dan mati dalam penderitaan oleh karena sakit penyakitnya. Ada beberapa catatan penting yang harus kita pahami di sini.

Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan Cuma-Cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-Cuma.[3]

dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu.[4]

Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka, mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.[5]

Janji kesembuhan yang ditulis dalam Alkitab hampir selalu berkaitan dengan pemberitaan Injil atau tanda dan bukti kuasa Allah dalam Yesus Kristus. Kuasa kesembuhan atau mujizat kesembuhan itu dinyatakan Tuhan guna tanda-tanda yang menyertai orang percaya dalam pemberitaan Injil. Ini bukan berarti bahwa setelah kita percaya kepada Yesus kalau sakit dengan mudah kita akan memperoleh kesembuhan.

Kesembuhan diberikan kepada mereka yang belum mengerti kebenaran, yaitu yang terikat dengan kuasa kegelapan. Kehadiran Injil menyelamatkan jiwa mereka dan menyembuhkan penyakit mereka. Tatkala orang belum mengenal kebenaran Tuhan, mereka hidup dalam kebodohan, maka Tuhan berkenan memberi anugerah kepada mereka yang telah hidup dalam kebodohon tersebut. Tetapi setelah kita mengenal kebenaran, kita dipanggil untuk bertanggung jawab atas kesehatan tubuh kita.

Dokter dan obat-obatan adalah salah satu sarana tanggung jawab kita. Ini bukan berarti mukjizat tidak berlaku. Mujizat tetap berlaku. Ini pun juga tergantung dari karunia-Nya. Sikap bertanggung jawab dengan ke dokter bukanlah dosa dan pelecehan terhadap kuasa Allah dan kasih-Nya. Dokter pun bisa menjadi sarana Tuhan menyembuhkan kita.

Pernyataan di atas ini bukan berarti mengurangi keyakinan kita akan pemeliharaan Tuhan atas kita dan kuasa mujizat Tuhan yang mampu mengangkat sakit penyakit kita, tetapi penjelasan ini hendak mengajak kita untuk memiliki tanggung jawab terhadap tubuhnya. Tubuh kita adalah milik Tuhan yang dipercayakan kepada masing-masing kita. Setelah menjadi anak Tuhan kita dipanggil untuk bertanggung jawab atas pemeliharaan tubuh kita yang adalah bait Roh Kudus.  Jadi dapat disimpulkan bahwa kita sebagai orang percaya dapat menjauhi sakit penyakit dengan menjaga kesehatan tubuh ini dan tidak memberontak kepada Tuhan, hidup dalam ketaatan kepada Tuhan. Dalam hal ini doa jangan dijadikan sarana manipulasi yang membuat kita lari dari tanggung jawab.

Kita harus kembali kepada kebenaran. Kita membutuhkan tubuh yang sehat, kita percaya mujizat kesembuhan, kita percaya Tuhan memelihara umat-Nya sempurna. Kita bertanggung jawab atas kesehatan tubuh kita. Tuhan berperan tetapi Tuhan tidak mengabaikan tanggung jawab kita. Di atas semuanya kita harus meninggikan Tuhan dan hidup untuk kemuliaan nama-Nya.

Kalimat yang sering saya ucapkan kalau berkhotbah di depan para dokter dan mahasiswa kedokteran adalah ini: kesehatan dan umur panjang bukanlah tanggung jawab Tuhan.

Nah, kalau mau baca tulisan aslinya, bisa ke tautan-tautan di bawah ini. Cuma, saya peringatkan lho ya, bahasanya lebih tegas dan menyentak daripada apa yang saya tuliskan di sini.

Referensi:

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]Yesaya 53:5
  2. [2]Keluaran 20:5
  3. [3]Matius 10:7-8
  4. [4]Lukas 10:9
  5. [5]Markus 16:17-18

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.