Musafir dan musafir

      No Comments on Musafir dan musafir

Satu bulan ini, kami dan kawan-kawan komsel sedang belajar dan bergumul tentang topik “Menumpang di Bumi”. Saya teringat kepada lagu berjudul Musafir. Nah, saya menemukan dua lagu berjudul yang sama ini. Kita perhatikan ya.

Musafir yang pertama dinyanyikan oleh Panbers.

Tiada tujuan yang kau harap
Mata angin tak kau hiraukan
Ke barat kau melangkah
Ke timur juga kau tuju
Ke utara kau pergi
Ke selatan pun engkau berlari

Reff:
Musafir, hidupmu bebas tiada ikatan
Musafir, berkelana sepanjang waktu
Musafir, apakah yang engkau cari?
Musafir, apakah arti hidupmu?

Tiada siang maupun malam
Kau pergi sekehendak hatimu

Musafir yang satunya diperkenalkan oleh Pdt. Erastus Sabdono

Adalah kisah sebuah perjalanan
ke negeri yang indah yang dijanjikan
Lewati lembah gersangnya padang
o’ berat dan sukar lorong-lorongnya

Seorang musafir di tengah perjalanan
tertatih langkahnya bersimbah peluh
Masihkah jauh, lirih bisiknya
hati s’makin rindu sampai ke sana

Musafir itu kau dan aku
terpanggil dalam kemuliaan-Nya
Janji Tuhanku bawa ‘ku ke sana
di belakang langit biru

Tidak untuk menunjukkan mana lagu yang lebih benar, tetapi kita bisa belajar dari dua lagu ini. Panbers punya tafsiran atas sosok seorang musafir, demikian juga Pdt. Erastus Sabdono. Pilihannya adalah, sosok musafir seperti apa yang kita pilih.

Apa itu musafir? KBBI menjelaskan sebagai orang yang bepergian meninggakan negerinya, atau pengembara. Alkitab Perjanjian Baru menggunakan kata parapidemos yang oleh kamus Strong didefinisikan sebagai:

  1. one who comes from a foreign country into a city or land to reside there by the side of the natives
  2. a stranger
  3. sojourning in strange place, a foreigner
  4. in the New Testament metaphorically in reference to heaven as the native country, one who sojourns on earth

Bisa dibaca dalam Ibrani 12:13. Dalam konsep Perjanjian Baru, kita ini singgah di bumi, Surgalah tempat tinggal kita yang sebenarnya. Di sini, kita hanyalah musafir.

Dalam lagu Panbers, musafir itu tidak punya tujuan. Sementara Pdt. Erastus menunjukkan bahwa musafir punya tujuan, yaitu negeri yang indah yang dijanjikan-Nya di belakang langit biru.

Oleh Panbers, musafir digambarkan hidup bebas tanpa ikatan, bahkan disebutkan sekehendak hatinya sendiri. Sementara Pdt. Erastus menggambarkan kemusafiran sebagai hidup penuh perjuangan yang bersimbah peluh, tidak mudah dan panjang waktunya.

Sekali lagi, pilihannya ada pada kita, musafir seperti apakah kita ini? Apakah kita tahu kota tujuan kemusafiran kita? Apa yang kita kerjakan dan perjuangkan sepanjang hidup kemusafiran ini?

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.