Mengapa saya berdoa untuk Gereja yang teraniaya? (bagian 1)

OWT

Kini penutupan, penyegelan, dan pembatasan ibadah gereja di Indonesia sudah mendapat ekspos yang cukup besar di media, sehingga hal semacam ini cukup luas diketahui, meskipun belum ada tindakan nyata untuk hal tersebut.

Beberapa tahun yang lalu ketika gereja di mana saya melayani waktu itu ditutup oleh karena tuntutan kelompok Islam radikal, saya di satu sisi merasa bersyukur karena sepertinya kami layak ikut serta dalam penderitaan Kristus menjadi Gereja yang teraniaya. Bulan dan tahun berlalu, dan saya bersentuhan dengan Gereja-gereja teraniaya – meskipun hanya lewat tulisan – dan juga organisasi-organisasi internasional yang peduli dengan hal ini, pertanyaan muncul, apakah yang dulu kami alami bisa dimasukkan dalam kategori teraniaya, melihat bagaimana besarnya penderitaan Gereja-gereja (baca: orang Kristen) di belahan dan penjuru dunia lainnya.

Benar bahwa dalam World Watch List 2013 yang disusun oleh Open Doors, Indonesia ada dalam peringkat 45 negara-negara di mana kekristenan mengalami aniaya, tetapi yang terjadi di negara ini masih belum bisa dibandingkan dengan negara-negara lain, di mana menjadi orang Kristen berarti siap kehilangan seluruh hak hidupnya, bahkan kehilangan nyawanya.

Bagi yang belum tahu, organisasi internasional seperti Open Doors, Voice of Martyrs, International Christian Concern, dan yang lainnya, setiap tahunnya mencanangkan International Day of Prayer for Persecuted Churches di bulan November. Biasanya diambil Minggu pertama atau kedua di bulan November untuk melakukan gerakan doa bersama bagi Gereja-gereja teraniaya. Saya lebih suka menyebut November sebagai bulan doa bagi Gereja-gereja teraniaya, maka biasanya di bulan November seluruh pelayanan saya akan terfokus kepada hal ini.

Berdasarkan data Pew Forum on Religion and Public Life, sepanjang 2006-2009 saja, aniaya terhadap Gereja terjadi di 130 negara di seluruh penjuru bumi. Aniaya yang terjadi kepada Gereja meliputi:

  • Gangguan dan pelecehan
  • Perusakan properti
  • Pengusiran
  • Serangan fisik
  • Penahanan dan penjara
  • Kematian

Diperkirakan sepanjang 2000 tahun ini sudah lebih dari 70 juta jiwa orang Kristen meninggal dunia akibat aniaya Gereja, di mana 65% terjadi di satu abad terakhir. Saya rasa fakta-fakta di atas sudah cukup untuk menjadi motivasi untuk tidak mengabaikan saudara-saudara kita, Gereja-gereja yang teraniaya.

Mengapa saya berdoa bagi Gereja-gereja yang teraniaya? Karena hanya itulah yang sementara ini bisa saya lakukan. Saya masih ingat sebuah pernyataan ini, “apa yang tidak bisa terjangkau oleh kaki dan tanganmu, jangkaulah dengan lututmu”. Dalam doa, saya berusaha menjadi satu dengan mereka, merasakan apa yang mereka rasakan, berjuang bersama dengan mereka, dan belajar dari mereka. Sejujurnya apa yang mereka berikan kepada saya lebih besar dan lebih banyak dari apa yang saya kerjakan untuk mereka.

Gereja yang teraniaya mengajarkan saya bahwa Tuhan Yesus membangun Gereja-Nya bukan dengan prestasi, melainkan dengan pengorbanan.

Saat gereja di mana saya melayani ditutup, kami harus memindahkan seluruh kegiatan ibadah ke tempat yang berjarak jauh dari rumah-rumah jemaat. Termasuk kegiatan sekolah minggu juga harus mengungsi ke rumah seorang jemaat yang cukup jauh dari lokasi gedung gereja. Dari anak-anak inilah saya belajar tentang pengorbanan. Mereka seringkali harus jalan kaki, kadang kala saat hujan lebat sekalipun, dan sepertinya semangat mereka tidak pernah luntur. Saat para pelayan sekolah minggu mulai lesu, semangat dan pengorbanan anak-anak ini menjadi cambuk.

Bagi jemaat yang tidak punya alat transportasi pribadi, harus naik angkutan umum. Dengan kondisi ekonomi jemaat, pulang pergi ke gereja 10.000 rupiah cukup memberatkan, apalagi kalau ibadah malam dan hujan, seringkali harus naik becak dengan ongkos yang lebih mahal. Mereka semua punya iman, bahwa mereka akan bisa beribadah kembali di gedung itu. Saya kenal seorang “embah putri” yang naik sepeda di tengah hujan deras dengan sekedar memakai caping untuk pergi ke gereja. Sudah meninggal beliau, dan sampai meninggalnya apa yang diimaninya tidak pernah dilihatnya. Bukankah para pahlawan iman itu juga banyak yang mengalami seperti ini?[1] Sampai tulisan ini saya buat, gedung gereja itu masih tidak boleh dipakai untuk beribadah. Apakah pengorbanan mereka sia-sia?

Ada kisah yang lain tentang bagaimana pengorbanan mereka. Mereka tinggal bertetangga dengan anggota kelompok Islam radikal yang menuntut penutupan gereja. Sekali waktu terjadi banjir di lingkungan itu. Kebingunganlah mereka untuk mengungsi. Entah kebetulan atau tidak, beberapa rumah jemaat tidak tersentuh air sama sekali. Dan mereka dengan senang hati membuka pintu rumah mereka lebar-lebar untuk orang-orang ini, mereka yang telah menyegel gereja. Pengampunan mereka begitu nyata.

Pengorbanan mereka tidak sia-sia dan tidak pernah sia-sia. Pengorbananlah yang membangun Gereja-Nya. Uang, prestasi, pencapaian-pencapaian jasmani, kecerdasan, kemampuan, karunia bisa memajukan gereja, tetapi tidak pernah bisa membangun Gereja-Nya, hanya pengorbanan yang bisa.

Pengorbanan semacam itulah yang terus mendorong saya setiap malam dan setiap pagi berdoa bagi Gereja-gereja yang teraniaya di muka bumi. Dulu, saya adalah salah satu pemimpin gereja, saya bisa menggerakkan jemaat untuk ikut serta dalam International Day of Prayer for Persecuted Churches. Kini saya bukan pemimpin gereja, kini saya adalah Gereja-Nya, maka yang bisa saya lakukan adalah bertanya kepada Anda, maukah Anda – sebagai bagian dari Gereja-Nya – bersama-sama dengan saya berdoa bagi Gereja-gereja yang teraniaya?

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]Ibrani 11:13

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.