Mengapa saya berdoa untuk Gereja teraniaya? (bagian 2)

OWT

Saya beribadah di sebuah gereja dengan tata ibadah yang tidak “bergairah”. Lagu-lagu pujian dinyanyikan secara himne, seringkali dalam tempo yang sangat lambat. Khotbah seringkali disampaikan dengan berputar-putar, padahal waktu khotbah tidak pernah lebih dari dua puluh menit, jadi inti dan prinsip pengajaran hampir tidak pernah disampaikan dengan utuh. Kalau ada kegiatan ibadah di tengah minggu, jemaat yang datang bisa dihitung dengan jari, dan ya itu-itu saja.

Jemaatnya saling berlomba menunjukkan jasa masing-masing kepada gereja. Para pemuda berusaha melakukan inovasi dan reformasi, sayangnya tanpa kepekaan terhadap suara Roh Kudus. Hampir-hampir tidak ada kehausan menggali kebenaran dan mendengar kehendak-Nya.

Pokoknya selalu ada saja yang bisa saya keluhkan. Kalau Anda mampir ke sana, mungkin akan sama pendapat Anda dengan saya. Tetapi itu pemahaman saya yang dulu. Dulu sebelum bersentuhan dengan Gereja teraniaya, begitulah pandangan saya terhadap gereja saya. Perjumpaan saya dengan Gereja teraniaya mengubahkan seluruh paradigma saya.

Gereja teraniaya mengajarkan saya untuk mengerti betapa istimewanya sebuah persekutuan, dan menghentikan saya untuk mengeluh terlalu banyak tentang gereja saya.

Di sebuah ibadah gereja rumah di Cina, lebih dari lima puluh orang dijejalkan dalam sebuah ruangan yang kecil. Puji-pujian dinyanyikan dengan berbisik, hampir tidak terdengar, karena kalau ketahuan tetangga, mereka bisa dilaporkan kepada pihak berwajib. Kemudian seorang pria tua berdiri untuk menyampaikan khotbah. “Saya tidak mengira akan mendapat kesempatan lagi untuk berkhotbah”, itulah yang keluar dari mulutnya dan kemudian pria tua ini menangis. Setelah dia dapat menguasai dirinya, pria tua ini membacakan satu ayat. Tetapi dengan segera ia menangis kembali, kemudian tersenyum, tertawa, dan kembali menangis. Dibacakannya ayat yang sama itu lagi, dia kembali menangis, kali ini jemaat ikut menangis, dan tersenyum, dan tertawa, dan kembali menangis lagi. Ayat yang sama dibacakan lagi, dan menangis kembali, tertawa, tersenyum, dan berulang seperti itu, sampai mereka berdoa menutup persekutuan itu.

Jika Anda ada bersama-sama dengan mereka di tengah ruangan itu, apa yang pertama kali Anda pikirkan? Ini yang saya pikirkan. Betapa menyedihkannya persekutuan itu. Mungkin pria tua itu sudah ada gangguan jiwa. Kalau kita mengenal siapa pria tua ini, kita akan memahami jalannya persekutuan itu.

Pria tua ini adalah seorang pendeta, ditahbiskan pada tahun 1950. Dia menggembalakan sebuah gereja hanya selama enam bulan sebelum pemerintah Cina menutup gereja itu, menangkap pendeta ini, dan menjebloskannya ke dalam penjara. Dua puluh tahun hidupnya dihabiskan di dalam penjara itu. Ketika dilepaskan dari penjara, kesehatannya sudah pada titik terendah. Butuh waktu sangat lama untuk kesehatannya kembali pulih, dan pendeta ini bisa kembali berkhotbah. Baru pada usia 77 tahun, pria tua ini mendapatkan kembali kekuatannya. Dan kisah di atas adalah kisah nyata kali pertama pendeta ini kembali berkhotbah setelah waktu yang sangat panjang itu.

“Saya tidak pernah mengira akan bisa kembali berkhotbah di hadapan saudara-saudara Kristen saya, dengan Alkitab yang terbuka seperti ini”, begitu kata pendeta ini. “Dua puluh tahun dalam penjara, ditambah bertahun-tahun dalam sakit, saya bersukacita bisa kembali berkhotbah, tetapi yang bisa keluar dari mulut saya hanyalah ayat itu.”

Dan ayat itu – satu-satunya yang dibacakan, satu-satunya yang diucapkan sepanjang khotbah itu – adalah Mazmur 149:1b, “Pujilah Dia dalam jemaah orang-orang saleh.”

Hal itu mengubahkan saya. Kini setiap kali saya berangkat ke gereja, saya bersyukur untuk kebebasan ini. Meskipun ya, di negara ini banyak gereja disegel dan ditutup, kebebasan beribadah masih jauh lebih istimewa daripada di banyak negara lainnya. Ketika pujian dinaikkan, saya bersyukur bisa menyanyikannya dengan keras dan diiringi alat musik – tanpa harus berbisik dalam takut. Ketika pengkhotbah mulai mengajarkan Alkitab, saya bersyukur bahwa orang-orang ini dengan segala keterbatasan dan kesederhanaannya tanpa perlu rasa takut memberitakan kabar sukacita.

Sekarang saya menyadari benar sebuah keistimewaan dari persekutuan bersama dengan saudara-saudara seiman. Saya berhenti mengeluh tentang apa yang saya alami dan apa yang saya rasakan di dalam ibadah. Gereja teraniaya mengajar saya bahwa persekutuan, bahwa ibadah bukan tentang apa yang saya terima, tetapi tentang anugerah Tuhan yang penuh kasih itu. Ketika mereka mempertaruhkan nyawa untuk bersekutu dengan saudara-saudara seiman, itu menyadarkan saya betapa istimewanya sebuah persekutuan.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.