Mengapa saya berdoa untuk Gereja teraniaya? (bagian 4)

Saya sudah pernah menuliskan seri tulisan “Belajar Alkitab” yang isinya kira-kira bagaimana kita bisa mempelajari Alkitab tanpa mereduksi kebenaran. Namun, ada satu lagi alat yang terlupakan dan mungkin banyak diabaikan oleh gereja dan orang Kristen, yaitu gereja teraniaya. Bagaimana gereja teraniaya bisa membantu kita memahami Alkitab dengan lebih baik? Silakan dibaca tulisan saya yang ini.

Ingat bahwa sebagian besar kitab-kitab di dalam Alkitab ditulis oleh orang-orang yang teraniaya untuk mereka yang mengalami aniaya. Jadi, menurut hemat saya, gereja teraniaya di masa ini merupakan model terdekat dengan para penulis dan pembaca Alkitab pada masa gereja perdana. Berinteraksi dengan gereja teraniaya mengajar saya mempelajari Alkitab dari kejernihan mata yang berbeda.

Ya, gereja teraniaya membantu saya dalam mempelajari Alkitab dengan lebih baik.

Kita hidup dalam semangat zaman yang berbeda dengan gereja perdana Perjanjian Baru. Tulisan-tulisan penuh kiasan dan simbol yang sekarang ini kita baca dengan menggaruk-garuk kepala, adalah sebuah pesan yang sangat jelas di masa gereja perdana – dan juga gereja teraniaya masa kini. Kita memerlukan gereja teraniaya untuk menunjukkan kepada kita komunitas orisinil Perjanjian Baru.

Paling tidak ada tiga karakter kunci kesamaan gereja perdana dengan gereja-gereja teraniaya di masa kini.

Gereja teraniaya tidak memiliki masa depan. Baik bagi gereja perdana, maupun gereja-gereja teraniaya masa kini, masa depan adalah sebuah kemewahan. Pesan yang mereka terima dari Tuhan melalui Alkitab tepat dibutuhkan pada hari itu, karena sangat mungkin esok hari mereka sudah kehilangan nyawanya.

Mereka merasa perlu untuk terus mendengar kehendak Bapa, supaya mereka siap untuk apa yang harus mereka hadapi esok harinya. Baik gereja perdana maupun gereja teraniaya sangat memahami apa artinya hidup yang pendek itu. Betapa berbedanya dengan kekristenan masa kini yang menuntut pengajaran dan firman untuk mempersiapkan diri hidup dalam panjang umur.

Gereja teraniaya tidak memiliki tempat di masyarakat. Paling tidak di Indonesia ini, menjadi orang Kristen masih merupakan keistimewaan. Kita masih dilindungi, masih mendapat sedikit celah kebebasan beragama, bahkan masih bisa menduduki posisi-posisi penting pemerintahan. Gereja dan kekristenan masih bisa menikmati kemakmuran dan mujizat.

Berbeda dengan yang dialami oleh gereja perdana dan gereja teraniaya. Mereka selalu menjadi kelompok yang tersisihkan, berada di luar struktur. Bahkan rasul Petrus menyebut mereka sebagai “pendatang dan perantau”. Kita membutuhkan gereja teraniaya untuk mengajar kita bagaimana posisi sesungguhnya orang-orang yang tidak punya sedikit pun kekuatan, hanya pendatang dan perantau di bumi ini.

Gereja teraniaya hidup di tengah masyarakat yang didominasi oleh ritual keagamaan. Gereja perdana hidup dalam stigma sebagai sebuah sekter dari agama Yahudi. Mereka dianggap sesat dan dianiaya supaya kembali kepada ajaran agama yang benar. Di sisi yang lain mereka juga berada di tengah kepungan masyarakat yang menyembah dewa-dewa. Ada suatu masa di mana mereka harus berhadapan dengan penyembahan terhadap pemimpin negara.

Gereja dan orang Kristen di Indonesia mungkin tidak mengalami hal ini. Tetapi di banyak negara, hal-hal seperti di atas masih terjadi. Di Korea Utara, satu-satunya tuhan dan dewa yang harus disembah adalah pendiri dan pemimpin negara mereka. Di banyak negara lain, memeluk kekristenan sama dengan kafir. Pilihannya adalah kembali ke agama semula atau mati.

Maka, kembali saya menuliskan ini, gereja teraniaya adalah model terdekat dengan para pembaca dan penulis Alkitab asli. Seringkali interaksi saya dengan gereja teraniaya yang sangat membantu dalam menafsirkan banyak tulisan di Alkitab. Salah satunya pernah saya tuliskan dengan judul Bersama Kristus di tengah badai.

Tentu saja kita masih memerlukan tafsiran-tafsiran, kamus-kamus Alkitab, dan para profesor teologi untuk membantu kita mempelajari lebih dalam kebenaran Alkitab. Tetapi jangan lupakan gereja teraniaya yang merupakan salah satu mata rantai penting yang menghubungkan kita dengan nenek moyang gereja Alkitabiah.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.