Batu kilangan dan batu sandungan

Mari sejenak membaca beberapa bagian Alkitab berikut ini!

Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.” “Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut. Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya.[1]

“Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut. Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan; (di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.) Dan jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, dari pada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka; (di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.) Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka, di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam. 49 Karena setiap orang akan digarami dengan api. Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain.” [2]

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, dari pada menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini. [3]

Batu kilangan (Yunani: mulos onikos) biasanya tersusun atas dua bagian. Bagian bawah yang tidak bergerak, tempat meletakkan gandum yang akan digiling. Dan bagian atas yang berputar, biasanya digerakkan oleh keledai atau kadang oleh manusia. Yang disebut mulos onikos, digerakkan oleh keledai karena jauh lebih berat. Sementara yang batu kilangan yang lebih ringan digerakkan oleh budak.

Sumber >> http://cedarhome.org/

Sumber >> http://cedarhome.org/

Karena fungsinya untuk menggiling, batu kilangan ini sangat padat dan berat. Maka kalau sampai Alkitab berbicara tentang batu kilangan yang diikatkan di leher dan dilemparkan ke laut — dalam konteks Perjanjian Baru — tentu saja ini adalah sebuah hukuman yang berat untuk kesalahan yang besar.

Hukuman semacam ini bukan asli tradisi Yahudi, tetapi berasal dari tata hukum Syria dan Yunani. Biasanya diberikan kepada para pembunuh bayi atau mereka yang mengakibatkan korban jiwa yang banyak, misalnya menyebarkan racun, salah pengobatan.

Ada satu golongan orang yang menurut Tuhan Yesus layak mendapat hukuman ini. Mereka inilah para penyesat (Yunani: skandalon). Alkitab bahasa Indonesia kita kadang menerjemahkan kata skandalon ini dengan frase “batu sandungan”. Untuk lengkapnya tentang skandalon sudah pernah saya tuliskan di sini. Tetapi paling tidak skandalon mempunyai beberapa makna sebagai berikut:

  1. Membuat perangkap atau jebakan
  2. Sebuah tindakan yang menghina dan membuat pedih hati
  3. Sebuah tindakan yang membuat orang lain jatuh ke dalam dosa, karena melenceng dari kehendak Bapa
  4. Sebuah kekejian di mata Tuhan.

Dalam tiga bacaan kita di atas, Tuhan Yesus mempersempit obyek penyesatan menjadi dua, yaitu anak-anak kecil dan orang-orang yang lemah.

Maka yang pertama saya perlu mengingatkan kepada para orang tua dan para guru sekolah minggu untuk berhati-hati dengan apa yang Anda ajarkan kepada anak-anak kita. Sekaligus berhati-hatilah dengan kehidupan yang Anda pertontonkan kepada anak-anak kita, paradigma Anda, cara Anda berbicara, segala hal yang Anda teladankan kepada mereka. Perhatikan bagaimana skandalon yang dikerjakan Simon Petrus terhadap Tuhan Yesus[4], ini bukan tentang pengajaran kan, melainkan tentang apa yang ada di dalam pikiran.

Yang kedua adalah penyesatan kepada orang-orang lemah (Yunani: mikros). Kalau lihat bahasa aslinya sepertinya sudah cukup jelas ya. Mikros terutama dipergunakan untuk menunjuk kepada minoritas dalam hal jumlah. Tetapi juga dipergunakan mengacu pada mereka yang usianya masih muda, dalam hal ini baik usia secara fisik, maupun usia mereka mengikut Tuhan Yesus, kedewasaannya. Di sini orang lemah mengacu kepada para petobat baru, mereka yang dalam hitungan waktu, masih belum lama mengikuti Kristus.

Berikutnya, frase orang lemah mengacu kepada mereka yang mudah dipengaruhi. Dalam bahasanya rasul Paulus, mereka yang belum mencapai kedewasaan penuh, masih anak-anak, masih mudah diombang-ambingkan.[5]

Saya rasa adalah tanggung jawab setiap orang percaya untuk menjaga dirinya supaya tidak menjadi skandalon. Kecuali kita memang menginginkan batu kilangan digantungkan di leher kita.

Sedikit lagi ya, kepada para penyesat ini, ada satu kata yang juga sering dipakai Tuhan Yesus, yaitu kata “celakalah“. Ini adalah salah satu kata yang sangat jarang mendapat perhatian kita. Padahal makna kata ini sangatlah penting dan dalam. Sementara saya berikan tugas mencari makna kata ini kepada Anda. Lain waktu akan saya sambung dengan tulisan lainnya.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]Matius 15:5-7
  2. [2]Markus 9:42-50
  3. [3]Lukas 17:1-2
  4. [4]Matius 16:23
  5. [5]Efesus 4:13-14

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.