Surat Terbuka Kepada Operator Proyektor Gereja

Sudahlah, jangan banyak kritik operator LCD, toh Anda lebih sering ada di mimbar ‘kan?

Nah, di sini salahnya. Pertama, benar saya sering ada di mimbar, dan karena itu saya tahu persis bahwa pelayanan operator proyektor itu sangat penting. Bahasa saya begini, pelayanan Anda saat mengoperasikan proyektor di kebaktian itu adalah salah satu faktor penting yang mempengaruhi atmosfer sebuah kebaktian. Hal ini saya tahu persis karena saya merasakannya di mimbar.

Kedua, saya sudah terlalu sering dan terlalu lama mengoperasikan proyektor dalam kebaktian. Bahkan saat masih dalam bentuk Over Head Projector (OHP). Itu lho, proyektor model lama yang teksnya musti lebih dulu ditulis di plastik mika transparan. Karenanya, saya ingin membagi pengalaman saya kepada Anda, para operator proyektor gereja. Jangan pernah mengecilkan pelayanan Anda, operator proyektor gereja sama pentingnya dengan bagian pelayanan yang lain.

Pelayanan Anda dimulai saat mempersiapkan teks-teks yang nantinya akan ditampilkan saat kebaktian. Mau pakai aplikasi apapun, di sini dituntut kecermatan Anda. Saya harap sih gereja Anda sudah tidak lagi menggunakan aplikasi bajakan.

Untuk teks-teks lagu pujian, meskipun Anda bisa mengunduh di internet, selalu baca ulang dan teliti ulang. Jika lagu dipilih oleh Worship Leader, pastikan teks yang Anda ketik sesuai dengan yang akan digunakan oleh Tim Pujian. Jangan malas menghubungi pihak-pihak terkait dengan teks pujian untuk memastikan kebenarannya. Jika gereja Anda masih menggunakan buku-buku pujian, pastikan teks yang Anda masukkan di aplikasi sesuai dengan teks pada buku pujian. Pastikan juga jika lagu berbait, Anda memasukkan urutan bait lagu dengan benar. Demikian juga kalau ada kelompok paduan suara yang ingin lirik lagu mereka ditampilkan.

Hal ini penting mengingat tidak semua jemaat tahu dan hapal dengan semua lagu pujian yang dinyanyikan dalam kebaktian. Saya amati di gereja-gereja yang masih menggunakan buku pujian, jemaat sudah tidak lagi membawa buku pujian, dan bergantung kepada proyektor.

Masih di persiapan, saya harap Anda sudah mencoba menampilkan lagu-lagu yang Anda ketik melalui layar proyektor. Pertama, pemilihan background teks lagu. Cermat di bagian ini, background dengan animasi bergerak bisa punya efek menimbulkan rasa pusing. Pastikan Anda tahu persis paling tidak keragaman usia jemaat yang hadir di kebaktian. Kedua, ukuran, jenis huruf, dan warna huruf yang Anda gunakan. Pastikan bahwa itu jelas dibaca oleh jemaat. Ketiga, pemenggalan baris teks.

Pemenggalan baris ini mungkin Anda anggap sepele, tetapi pemenggalan baris yang tidak tepat bisa menimbulkan makna yang salah terhadap sebuah lagu.

Kami puji dengan riang
Dikau,
Allah yang besar
bagai bunga t’rima siang hati
kami pun mekar
Kabut, dosa dan derita
kebimbangan t’lah lenyap
Sumber suka yang
abadi b’ri sinar-Mu
menyerap

Bukankah lebih pas dan lebih indah dibaca jika dirapikan pemenggalannya.

Kami puji dengan riang
Dikau, Allah yang besar
bagai bunga t’rima siang
hati kami pun mekar
Kabut, dosa dan derita
kebimbangan t’lah lenyap
Sumber suka yang abadi
b’ri sinar-Mu menyerap

Selain itu tentu saja diharapkan ketelitian pengetikan sampai dengan huruf perhuruf. Terkhusus kepada Anda yang melayani di gereja-gereja suku yang masih menggunakan bahasa suku atau bahasa daerah, pelajari juga cara penulisan yang benar. Contohnya untuk bahasa Jawa, madhangi dengan madangi itu jelas beda. Atau menda, mènda, dan mendha itu tiga kata yang berbeda.

Lah, kok jadi sudah sekali pelayanan ini. Bukan susah, tetapi tentang memberikan yang terbaik dalam pelayanan kita. Itulah kira-kira yang harus Anda persiapkan.

Nah, sekarang masuk kepada saat kebaktian berlangsung.

Batas aman Anda datang ke gereja Anda adalah maksimal 30 menit sebelum kebaktian dimulai. Jika kurang dari itu, sebenarnya Anda sudah masuk dalam hitungan terlambat. 30 menit adalah batas aman menghidupkan komputer, membuka aplikasi, memastikan semua teks sudah siap. Itupun jika tidak ada masalah dengan komputer dan aplikasi yang Anda gunakan. Belum lagi jika tugas Anda termasuk menghidupkan LCD Projector.

Berikutnya, saya sarankan jangan ajak siapapun masuk ke dalam ruangan operator proyektor. Ini kalau di gereja Anda ada ruangan khusus untuk operator proyektor. Jika ruangan operator proyektor masih gabung dengan yang lain, misal operator sound system, atau bahkan ada di ruang kebaktian, saya hanya ingin memastikan Anda fokus dengan tugas Anda. Jangan banyak ngobrol apalagi bercanda.

Begini, sangat mengganggu kebaktian kalau Anda salah menampilkan lagu, atau salah menampilkan bait lagu, atau terlambat menampilkan teks lagu. Benar, itu sangat mengganggu. Anda pasti sudah tahu bahwa LCD proyector itu punya lag time, memang sih tergantung kualitas mesinnya dan kabelnya. Apalagi kalau ruang kebaktian Anda membutuhkan kabel LCD yang panjang. Sudah ada lag time, Anda terlambat memunculkan teks lagu. Sekali lagi saya tuliskan, hal macam ini sangat menganggu atmosfer kebaktian.

Pastikan Anda mengetahui benar urut-urutan lagu, pengulangan lagu di mana, jika memungkinkan cermati kode dari Worship Leader atau pemimpin kebaktian. Jika pengkhotbah atau pendeta di gereja Anda terbiasa membuat presentasi khotbah, pastikan Anda sudah membacanya terlebih dahulu, paling tidak Anda tahu persis garis besar urutannya.

Yang sesungguhnya ingin saya tekankan adalah pelayanan operator proyektor ini sesungguhnya selain penting juga cukup kompleks. Saya berharap Anda mengasihi Tuhan dengan mengerjakan yang terbaik dalam pelayanan ini.

Saya tambahkan sedikit berdasarkan pengalaman saya menjadi operator proyektor. Di pelayanan saya yang terdahulu, posisi operator LCD itu ada di depan jemaat, di mana operator bisa melihat langsung jemaat dan jemaat bisa melihat langsung operator. Bisa Anda bayangkan, jika ada kesalahan atau keterlambatan tampilan di LCD, mata jemaat akan langsung memandang operator, dan operator langsung bisa melihat tatapan jemaat, Di satu sisi bisa jadi “intimidasi”, tapi di sisi lain itu bisa jadi sebuah kendali yang baik. Intinya, fokus adalah hal penting dalam pelayanan seorang operator proyektor.

Dulu, kadang karena kesibukan, gembala kami tidak sempat mempersiapkan presentasi khotbah. Yang saya lakukan adalah selama beliau berkhotbah, saya mengetikkan poin-poin khotbah dan menampilkannya langsung ke LCD. Termasuk mengetikkan kalimat-kalimat penting yang ditekankan dalam khotbah. Tentu tidak mudah, karena selain harus mendengar sambil menyimak, Anda harus mengetik tanpa ketinggalan alur khotbah. Jangan lakukan ini jika kultur di gereja Anda tidak memungkinkan.

Pada akhirnya, jika Anda melakukan kesalahan saat menjadi operator proyektor di sebuah kebaktian, tidak ada yang lebih indah selain mengatakan maaf kepada Worship Leader, atau pendeta, atau pemimpin kebaktian, atau koordinator pelayanan, setelah kebaktian usai.

Saya rasa lebih baik ada yang mengatakan ini secara terbuka kepada Anda, daripada Anda mendengar ada yang berbisik-bisik di belakang Anda.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.