Gereja yang menggunakan software bajakan = pencuri

Wot’s! Ini sudah sebuah tuduhan yang tidak main-main. Harus dibuktikan kebenarannya! Mungkin itu yang ada di pikran Anda saat membaca judul postingan saya kali ini. Tunggu dulu, sebelum Anda menghakimi dan menghujat Anda, saya sarankan Anda membaca tulisan ini sampai selesai baru kemudian berkomentar. Tulisan ini sengaja saya buat karena dorongan nurani yang merasa bersalah dan prihatin melihat keterlibatan gereja, organisasi-organisasi Kristen, dan juga orang-orang yang mengaku beragama Kristen, dalam urusan menggunakan software-software bajakan. Mengapa yang dikritik hanya gereja dan kekristenan? Ya, karena saya adalah orang Kristen. Saya jelas salah kalau menuliskan pandangan ini sebagai kritik bagi agama lainnya. Hanya itu saja alasannya.

Sebulan lalu, saya bertemu dengan teman-teman KPLI Solo, dan sempat berbincang-bincang dengan salah satu pengurusnya. Yang belum tahu, KPLI = Komunitas Pengguna Linux Indonesia. Kebetulan beliaunya adalah pengajar di salah satu sekolah Islam. Beliau mengatakan satu pernyataan yang membuat saya tersadar. Dia mengatakan bahwa di agama Islam — dan tentu saja di agama lain — kalau Anda mengambil dan menggunakan milik orang lain tanpa izin adalah sebuah dosa. Saya sangat menyetujui pendapat ini, bukankah perintah ke delapan dari 10 Hukum Tuhan berbunyi “jangan mencuri”. Kemudian saya tersadar bahwa banyak gereja dan juga organisasi Kristen serta orang Kristen yang selama ini telah mencuri, dengan cara menggunakan software-software bajakan di komputernya, baik komputer kantor maupun komputer pribadi.

Mungkin Anda mengatakan bahwa mencuri dan menggunakan software bajakan adalah dua hal yang berbeda. Saya mengingatkan Anda bahwa dalam kekristenan tidak ada dosa kecil atau dosa besar, tidak ada dosa putih atau dosa hitam. Di hadapan Tuhan dosa adalah DOSA. Katakanlah jika Anda menggunakan sistem operasi Win**** di komputer Anda, pihak pembuatnya menjual dengan harga tertentu setiap satuannya dan satu produk hanya diperbolehkan untuk satu komputer saja — itulah sebenarnya makna dari serial number. Berapa di antara Anda yang berani menjamin bahwa Win**** yang Anda gunakan adalah genuine — asli dan bukan bajakan. Tahukah Anda, saat Anda menggunakan Win**** bajakan, Anda sebenarnya sedang mencuri dari Micro***, perusahaannya Bill Gates itu. Belum lagi aplikasi-aplikasi yang Anda pakai di dalam komputer, ada Micro**** Office, aplikasi burning Ne**, aplikasi grafik macam Photo****, Cor**, aplikasi multimedia, 3D, pemrograman, dan lain-lainnya. Atau jika gereja Anda menggunakan software “Easy-Worship”, yakinkah Anda itu legal atau bajakan? Kita ini gereja lho, utusan Kristus, terang dan garam dunia! Anda sudah mencuri dari berapa perusahaan? Bahkan lebih dari itu, tahukah Anda bahwa dengan menggunakan software-software bajakan itu, gereja Anda telah melanggar hukum dan undang-undang tentang HaKI.

Sejak pembicaraan hari itu, nurani saya langsung terganggu saat harus menggunakan Win**** dan bahkan saat lihat orang lain menggunakan software-software bajakan. Saya sudah cukup lama menggunakan Linux, tetapi juga kadang diharuskan membuka Win****. Dan sekarang saya sudah menetapkan hati untuk sebisa mungkin tidak menggunakan software-software bajakan, serta berusaha menyadarkan semua orang, tentang salahnya menggunakan aplikasi-aplikasi bajakan. Bagi gereja dan organisasi kristen, mari melihat ini dengan sungguh-sungguh, apakah kita yang menyuarakan tentang kebenaran akan tetap berada dalam dosa “pencurian” ini. Saya tidak sedang gagah-gagahan, menyombongkan diri tentang Linux. Sama sekali tidak! Saya pun masih perlu banyak belajar menggunakan Linux. Saya hanya ingin menyadarkan kita semua bahwa menggunakan software bajakan = mencuri = DOSA. Anda boleh berkilah dengan alasan apapun, silakan saja. Mengapa selama ini nurani kita tidak terganggu memakai software bajakan adalah karena kita sudah terlalu lama ada di dalam dosa itu, tanpa menyadari itu adalah dosa; hal demikian menumpulkan hati kita terhadap dosa itu. Benar kan? Lalu, hal apa yang bisa dilakukan gereja, organisasi-organisasi Kristen, dan juga orang-orang Kristen dalam menyikapi hal ini. Satu pernyataan saya, “Ayo BERTOBAT bareng-bareng!” Bagaimana caranya? Saya akan menyarankan seluruh gereja dan orang-orang Kristen untuk berhenti menggunakan software-software bajakan, belilah software yang asli, yang berlisensi dan pasanglah pada komputer Anda. Apa? Anda bilang “mahal”? Ya, memang! Siapa bilang software itu murah? Membuat program itu ndak gampang, menyusun program untuk software yang bagus dan mudah dipakai itu bisa membuat otak programmernya jadi keriting lho 😉 . Ndak percaya? coba tanya para programmer itu! Maka harganya memang mahal. Sekarang silakan Anda pilih, murah tetapi berdosa, atau mahal tetapi hidup benar? Kalau Anda jawab yang murah tetapi hidup benar, silakan baca saran saya selanjutnya di bawah.

Solusi alternatif yang murah dan sekaligus tidak berdosa adalah menggunakan aplikasi-aplikasi Open Source. Apa itu Open Source? Kapan-kapan akan saya jelaskan lebih rinci tentang Open Source, tetapi ringkasnya software-software Open Source adalah aplikasi yang bebas digunakan siapa saja, tanpa adanya batasan jumlah pengguna, bebas dimodifikasi dan bahkan bebas disebarluaskan. Open Source sering diidentikkan dengan gratis — meskipun sebenarnya tidak demikian

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

2 thoughts on “Gereja yang menggunakan software bajakan = pencuri

  1. mr. zhou

    waduh… ikut2 jadi kristen garis kiri dong… n_n

    semangat coy, jadilah pengikut orang yang sedikit. jangan kebanyakan orang.

    Reply
    1. martianuswb Post author

      He … he … he 🙂 Akan muncul pertanyaan baru, “kalau begitu yang mana yang garis kanan dong?” 😉

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.