Mengapa saya berdoa untuk gereja teraniaya (5)

Ernest Becker pernah menulis satu buku yang berjudul “The Denial of Death”. Salah satu pesan kuat dari buku menyebutkan bahwa dunia sekarang ini adalah sebuah taman bermain raksasa yang mengalihkan kita dari fakta bahwa kita semua akan mati.

Bagaimana produk-produk kecantikan dan kesehatan yang menawarkan resep awet muda atau penundaan ketuaan adalah buktinya. Salah satu tetangga saya yang berusia 91 tahun masih dalam kondisi segar bugar, tiba-tiba membuat permintaan yang mengagetkan anak dan menantunya. Bapak ini meminta untuk dipesankan peti mati, dan menata acara pemakamannya. Permintaan yang rasanya aneh dan dianggap aneh, karena bagi masyarakat kini, mempersiapkan kematian adalah sebuah tindakan keputusasaan.

Selama berinteraksi dengan gereja teraniaya, saya seringkali membaca dan mendengar ada waktu-waktu tertentu di mana mereka dihadapkan pada kondisi bahwa mereka tahu kalau mereka akan mati karena iman mereka kepada Kristus. Ada dua karakteristik utama yang saya temukan ketika mereka ada dalam kondisi tersebut. Pertama, mereka mengalami damai dan sukacita yang tidak terkatakan di tengah-tengah siksaan atau aniaya di saat kematian itu terasa begitu dekat. Kedua, mereka terkejut – sama seperti orang-orang di sekitar mereka – bahwa diri mereka tidak takut akan kematian di waktu itu.

Masih ingat kisah dulu seorang pendeta di Uni Soviet yang harus menyaksikan anaknya disiksa mati-matian oleh KGB karena menyembunyikan lokasi percetakan rahasia miliknya. Pendeta ini menyaksikan bagaimana dia bisa mendengar suara tulang-tulang anaknya yang patah. Sampai dia menyadari bahwa mereka memang berniat untuk memukuli anaknya sampai mati.

Saat dia menyerah dan hampir berkata, “Hentikan, akan aku katakan semuanya”, si anak langsung berteriak, “Jangan katakan apapun, Ayah. Aku melihat Yesus datang dengan begitu indah.”

Mengingat kembali waktu pendeta ini melihat anaknya mati di hadapannya, dia berkata, “Saya terkejut dengan reaksi saya waktu itu. Saya bersyukur putra saya ada di pangkuan Bapa. Oh’ tidak, sejujurnya saya cemburu terhadap dia. Sungguh hanya kehadiran Yesus yang bisa membuat sebuah tragedi menyakitkan terasa seperti sebuah berkat.”

Ya, gereja teraniaya mengajarkan kepada saya untuk tidak takut kepada kematian. Death just cannot be that bad if Jesus is that great!

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.