Firman yang pahit di telinga

Gedung gerejanya megah dan menarik, di dalam ruang ibadah full AC sehingga membuat sejuk dan kerasan. Setiap hari-hari ibadah selalu penuh sesak bahkan hingga ke tempat parkirnya. Jemaatnya datang bukan hanya dari kota itu, bahkan juga dari kota-kota lain disekitarnya, banyak juga yang dari negeri manca. Ada orang-orang biasa, tetapi juga banyak pejabat dan selebritis yang jadi jemaat di sana. Pemasukan keuangan gereja sangat besar, pertumbuhan jemaatnya berlipat ganda dalam waktu yang singkat, para pelayannya terkenal dan sering diundang melayani di gereja-gereja lain. Pokoknya dalam dunia modern, dipandang sebagai gereja yang sukses. Sekali waktu diundang seorang pengkhotbah, dan tanpa disangka-sangka pengkhotbah ini mengungkapkan satu kalimat, “TUHAN sendiri akan membuat gereja ini menjadi reruntuhan dan kutuk bagi seluruh muka bumi, hingga tidak ada seorangpun akan mau ada di sini. Bertobatlah!”

Tunggu, itu hanyalah kisah fiktif belaka, tetapi kira-kira demikianlah yang terjadi jika kisah di Yeremia 26 ditarik kepada gereja modern sekarang ini. Belum tahu kisahnya? Ah, baca saja sendiri Alkitab Anda ya, o’ya sekalian juga baca dari Yeremia 23-29 🙂

Pada waktu itu Israel dan Yehuda sedang dalam pembuangan, tetapi ada sebagian kecil yang masih tinggal di Yerusalem, tetapi dalam kondisi serba mengenaskan. Meskipun demikian, banyak orang tidak mau bertobat dari dosa-dosanya. Kebanggan mereka atas Yerusalem dan Bait Sucinya menutup mata hati mereka atas dosa-dosa mereka. Pada masa inilah TUHAN Allah mengutus nabi-nabi-Nya, salah satunya adalah nabi Yeremia.

Pesan yang mereka bawa dari TUHAN adalah pesan yang tidak manis didengar, mereka mendengar bahwa pembuangan masih akan lama, derita masih akan panjang, dan jika mereka tetap tidak mau bertobat, maka hanya akan ada kutuk dan kehancuran. Tetapi, di saat seperti ini muncul juga nabi-nabi palsu yang menubuatkan kebaikan-kebaikan yang manis namun semu dan palsu. Yeremia dan nabi-nabi lain yang memberitakan kebenaran Firman yang pahit itu diancam dengan kematian, bahkan beberapa nabi dibunuh karena menyatakan kebenaran.

Kembali ke kisah gereja di atas, kira-kira apa yang akan dilakukan gereja dan jemaatnya ya? Saya memperkirakan beberapa kemungkinan:

  1. Gembala/pendetanya akan mengumumkan doa puasa dan doa pertobatan bagi semua jemaat.
  2. Gembala/pendeta dan para pelayan akan meng-counter nubuatan itu dan menyampaikan berita yang manis dan enak didengar; pengkhotbah tadi tidak akan pernah diundang lagi.
  3. Sebagian jemaat percaya nubuatan pahit tadi, sebagian lagi lebih memilih mendengar yang manis, tetapi juga ada yang bingung.

Siapa bilang Firman-Nya selalu manis dan enak didengar. Kalau Anda, mana yang dipilih? Kebenaran yang pahit, ataukah kepalsuan yang begitu manis?

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.