Dari Simon menjadi Petrus: wajah-Nya lebih berharga daripada mujizat-Nya

Kalau kita bersama-sama mencermati kehidupan 12 rasul bersama dengan Tuhan Yesus, kita akan mendapati bahwa mereka mengalami banyak pengalaman yang luar biasa. Khususnya rasul Petrus, kita bisa tahu berapa banyak mujizat yang dia lihat dari Tuhan Yesus, dan berapa banyak mujizat yang bahkan dikerjakan Tuhan melalui dirinya.

Petrus pasti melihat sendiri bagaiman Tuhan Yesus menyembuhkan orang sakit, membangkitkan yang mati, mengubah kekurangan menjadi kelebihan, menyaksikan sendiri kebangkitan-Nya. Belum lagi bagaimana Petrus oleh kuasa Roh Kudus menyembuhkan orang-orang sakit di masa gereja mula-mula. Tetapi kisah yang saya ingin tunjukkan kepada kita semua ada di dalam Lukas 9:28-36.

Mari baca sejenak kisah ini.

Kira-kira delapan hari sesudah segala pengajaran itu, Yesus membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus, lalu naik ke atas gunung untuk berdoa. Ketika Ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan. Dan tampaklah dua orang berbicara dengan Dia, yaitu Musa dan Elia. Keduanya menampakkan diri dalam kemuliaan dan berbicara tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem. Sementara itu Petrus dan teman-temannya telah tertidur dan ketika mereka terbangun mereka melihat Yesus dalam kemuliaan-Nya: dan kedua orang yang berdiri di dekat-Nya itu. Dan ketika kedua orang itu hendak meninggalkan Yesus, Petrus berkata kepada-Nya: “Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Tetapi Petrus tidak tahu apa yang dikatakannya itu. Sementara ia berkata demikian, datanglah awan menaungi mereka. Dan ketika mereka masuk ke dalam awan itu, takutlah mereka. Maka terdengarlah suara dari dalam awan itu, yang berkata: “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia.” Ketika suara itu terdengar, nampaklah Yesus tinggal seorang diri. Dan murid-murid itu merahasiakannya, dan pada masa itu mereka tidak menceriterakan kepada siapapun apa yang telah mereka lihat itu. (Lukas 9:28-36)

Sebenarnya apa yang unik dari kisah ini? Dari semua mujizat yang pernah rasul Petrus lihat, alami, dan kerjakan; hanya kisah ini yang kembali dituliskannya dalam surat-suratnya. Silakan dilihat di 2 Petrus 1:17-18! Mengapa hanya kisah ini yang disaksikan rasul Petrus di dalam suratnya.

Rasul Petrus hari ini mengatakan kepada kita bahwa melihat wajah-Nya jauh lebih berharga daripada melihat dan menikmati mujizat-mujizat-Nya. Maka, di linimasa saya di Twitter beberapa waktu yang lalu saya menuliskan hal ini, “Di mana sih titik kepuasan berdoa? Saat kita mendapatkan yang kita doakan? Ataukah kesempatan melihat wajah-Nya, muka dengan muka?”

Kalau kita berdoa untuk mendapatkan, memburu, dan mengejar mujizat-Nya, maka titik puncak kita berdoa adalah saat kita menerima yang kita doakan. Tetapi jika yang Anda kejar adalah wajah Kristus itu sendiri, menerima atau tidak menerima yang Anda doakan bukanlah masalah, karena kepuasan puncak Anda dalam berdoa adalah melihat wajah-Nya.

Saya berdoa, dari 5 tulisan saya tentang rasul Petrus ini, kita belajar menjadi murid Kristus yang sejati. Tulisan saya tentang rasul Petrus saya cukupkan sekian, berikutnya saya akan menuliskan tentang rasul-rasul yang lain. Hal-hal yang tidak saya tuliskan di blog ini, termasuk pelajaran-pelajaran ilahi dari rasul Petrus yang lainnya, akan tertuang di dalam buku yang sedang saya siapkan.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.