Dari Simon menjadi Petrus: “apakah engkau mengasihi Aku?”

Kita semua pasti tahu kisah ini, yang bisa dibaca di Yohanes 21:15-17. Sebuah pertanyaan yang sama diajukan sebanyak tiga kali kepada Petrus oleh Tuhan Yesus. Saya kok percaya bahwa pertanyaan yang sama juga diajukan kepada kita.

“Apakah kita mengasihi Dia?”. Berapa banyak kita menyanyikan bahwa kita mengasihi Dia, berapa banyak kita berseru bahwa kita mengasihi Dia, apakah Kristus tidak tahu bahwa kita mengasihi Dia?

Tuhan Yesus tahu bahwa kita benar-benar mengasihi Dia kalau kita menggembalakan domba-domba-Nya. Saya tidak akan membahas bahasa asli dari masing-masing istilah mengasihi di sini. Yang saya mau tegaskan dan juga Tuhan inginkan bukti kasih kita kepada Dia adalah menggembalakan domba-domba-Nya.

Saya tidak sedang meminta kita semua menjadi Pendeta, Pastor, atau jabatan-jabatan semacam itu. Seruan dan nyanyian kasih kita kepada Tuhan hanyalah omong kosong kalau kita mengabaikan domba-domba-Nya. Menggembalakan domba-domba-Nya bukanlah tentang memimpin sebuah pelayanan, melainkan seperti Gembala Agung yang memberikan kasih sempurna itu.

Miris rasanya melihat begitu banyaknya orang pandai berseru di atas mimbar bahwa kita harus mengasihi Tuhan, banyak yang cakap bernyanyi untuk mengasihi Tuhan, tetapi saat ada domba-domba-Nya yang membutuhkan kasih, mereka diabaikan begitu saja.

Apakah kita sungguh-sungguh mengasihi Dia? Gembalakanlah domba-domba-Nya! Tidakkah kita ingat apa yang rasul Paulus katakan kepada jemaat Korintus? Bahwa sehebat apapun karunia kita, sehebat apapun pelayanan kita, sebanyak apapun persembahan kita, tidak ada gunanya jika kita tidak mengasihi domba-domba-Nya!

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.