Yesus Kristus tidak datang untuk menegakkan “syariat”

Kata “syariat” ini mungkin tidak lagi kita dapati dalam Alkitab yang sering kita baca. Tetapi, kata ini pernah tercantum dalam Alkitab terjemahan lama. Silakan dicari, dan kita akan menemukan banyak kata syariat muncul di sana. Dalam terjemahan yang lebih baru, kata ini diganti dengan kata “hukum” atau “ketetapan”.

“Syariat” yang saya maksudkan di sini mengacu dekat kepada pengertian hukum-hukum agama yang mengatur segala bidang. Dalam tradisi Yahudi, hukum Taurat tidak sekedar mengatur tata cara keagamaan saja, tetapi juga hubungan sosial kemasyarakatan, tata cara sipil, tata cara politik, dan hampir segala sesuatu diatur dalam “syariat” ini. Maka jangan heran, saat ada dua orang bersaudara bertengkar tentang harta warisan, mereka bertanya kepada Tuhan Yesus yang dianggap sebagai Rabi (guru Taurat).

Ketika Kristus datang ke dunia ini, Dia tidak menghapuskan Taurat tetapi menyempurnakannya dalam karya-Nya. Hukum-hukum agama menuntut manusia “kelihatan” baik di hadapan sesamanya, tetapi tidak demikian dengan hatinya. Hal inilah yang Tuhan Yesus sering kecam dari para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Mereka memberatkan umat dengan peraturan-peraturan yang sesungguhnya tidak membebaskan hidup mereka dari kuasa dosa (baca Matius 23).

Bagi Yesus, iman dan ketaatan kepada Allah bukanlah dimulai dari tindakan jasmani, melainkan berasal dari hati. Hukum-hukum agama membuat orang seperti kuburan yang dilabur putih, tetapi berisi tulang belulang (Matius 23:27). Hukum-hukum keagamaan ini dikecam oleh Yesus karena menghasilkan umat yang munafik. O00 … keras sekali! Yup, inilah yang diungkapkan Tuhan Yesus, baca saja sendiri di Alkitab.

Ketika Tuhan Yesus hadir di dunia sebagai manusia, Dia dilahirkan sebagai seorang Yahudi. Tentu saja Dia akan tunduk kepada hukum-hukum agama Yahudi, tetapi Dia tidak terikat kepada hukum-hukum jasmaniah saja, hati-Nya berpaut kepada Bapa di Surga. Jadi rasanya tidaklah pas, kalau segala sesuatu yang kita kerjakan sebagai umat tebusan (orang Kristen) musti dikaitkan selalu dengan tradisi-tradisi Yahudi. Memang kekristenan lahir dari agama Yahudi, tetapi saya rasa jika kekristenan kita diharuskan selalu meniru “kehidupan Yahudi” Yesus, kita akan tersesat dalam kehidupan keagamaan yang semu.

Yang harus kita teladani adalah hati, kasih, ketaatan, dan karakter-karakter Kristus, bukannya gaya hidup jasmaniah yang diperagakan-Nya sebagai orang Yahudi. Serupa dengan Kristus bukan berarti memakai jubah seperti Dia, menumbuhkan janggut sebagaimana Dia hidup, dan semua hal seperti itu kan?

Saya ingin membuka pikiran kita dengan pertanyaan berikut. Ketika Tuhan Yesus menetapkan perjamuan kudus di peringatan Paskah bersama para rasul-Nya, Dia mengatakan “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu”. Apakah hal ini berarti semua gereja yang mengadakan perjamuan kudus dengan menggunakan sloki — BUKAN cawan — tidak benar? Apakah hal ini berarti perjamuan kudus dengan sloki adalah sesat dan tidak Alkitabiah?

Kalau demikian, mengapa kita sering memaksa orang mengerjakan hukum-hukum agama yang tidak pernah dititahkan Tuhan Yesus sebagai Taurat yang sempurna? Bro, kekristenan itu dari dalam ke luar lho, dimulai dari hati. Bukankah Tuhan Yesus sendiri yang mengatakan demikian. Di atas semua nilai-nilai keagamaan itu ada yang terpenting, “keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan” (Matius 23:23).

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.