Allah menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati

Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa tanpa hukum Taurat; dan semua orang yang berdosa di bawah hukum Taurat akan dihakimi oleh hukum Taurat. Karena bukanlah orang yang mendengar hukum Taurat yang benar di hadapan Allah, tetapi orang yang melakukan hukum Tauratlah yang akan dibenarkan. Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela. Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus. Tetapi, jika kamu menyebut dirimu orang Yahudi dan bersandar kepada hukum Taurat, bermegah dalam Allah, dan tahu akan kehendak-Nya, dan oleh karena diajar dalam hukum Taurat, dapat tahu mana yang baik dan mana yang tidak, dan yakin, bahwa engkau adalah penuntun orang buta dan terang bagi mereka yang di dalam kegelapan, pendidik orang bodoh, dan pengajar orang yang belum dewasa, karena dalam hukum Taurat engkau memiliki kegenapan segala kepandaian dan kebenaran. Jadi, bagaimanakah engkau yang mengajar orang lain, tidakkah engkau mengajar dirimu sendiri? Engkau yang mengajar: “Jangan mencuri,” mengapa engkau sendiri mencuri? Engkau yang berkata: “Jangan berzinah,” mengapa engkau sendiri berzinah? Engkau yang jijik akan segala berhala, mengapa engkau sendiri merampok rumah berhala? Engkau bermegah atas hukum Taurat, mengapa engkau sendiri menghina Allah dengan melanggar hukum Taurat itu? Seperti ada tertulis: “Sebab oleh karena kamulah nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa lain.” Sunat memang ada gunanya, jika engkau mentaati hukum Taurat; tetapi jika engkau melanggar hukum Taurat, maka sunatmu tidak ada lagi gunanya. Jadi jika orang yang tak bersunat memperhatikan tuntutan-tuntutan hukum Taurat, tidakkah ia dianggap sama dengan orang yang telah disunat? Jika demikian, maka orang yang tak bersunat, tetapi yang melakukan hukum Taurat, akan menghakimi kamu yang mempunyai hukum tertulis dan sunat, tetapi yang melanggar hukum Taurat. Sebab yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah Yahudi, dan yang disebut sunat, bukanlah sunat yang dilangsungkan secara lahiriah. Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah.[1]

Dalam penggalan suratnya kepada jemaat di Roma, kali ini Paulus menohok salah satu kebanggaan bangsa Yahudi. Yang sering dibanggakan oleh bangsa Yahudi adalah mengenai Taurat dan sunat. Paulus mengatakan apakah gunanya memiliki hukum Taurat tetapi tanpa ketaatan kepadanya.

Karena bukanlah orang yang mendengar hukum Taurat yang benar di hadapan Allah, tetapi orang yang melakukan hukum Tauratlah yang akan dibenarkan.[2]

Di sinilah Paulus memunculkan konsep yang dalam teologi dikenal dengan nama suneidesis. Ini adalah istilah Yunani yang digunakan oleh Paulus untuk menunjukkan bahwa sekalipun bangsa lain tidak mengenal Taurat, tetapi Allah menanamkan suara hati, sebuah konsep kebenaran ilahi kepada mereka.

Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela.[3]

Dalam pemikiran agama Yahudi waktu itu, pengadilan Allah didasarkan pada ketaatan kepada Taurat. Maka tidak mungkin orang bukan Yahudi yang tidak memiliki Taurat akan mendapatkan sorga. Hal ini kemudian diluruskan oleh Paulus.

Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus.[4]

Mengenai sunat, betapa tegasnya Paulus menuliskan kalimat-kalimatnya.

Sebab yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah Yahudi, dan yang disebut sunat, bukanlah sunat yang dilangsungkan secara lahiriah. Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah.[5]

Dalam tulisannya ini, kita bisa melihat hati yang sama dari Paulus kepada orang Kristen. Kekristenan bukan tentang tanda-tanda lahiriah. Bukan tentang kita membawa-bawa Alkitab, bukan tentang aktivitas-aktivitas rohani maupun pelayanan. Jangan salah, membaca Alkitab dan berpelayanan adalah perlu. Tetapi jika hanya itu saja, maka tiadalah artinya. Apalah kebanggaan dari mempertontonkan kesalehan dan karunia, jika yang dicari adalah pujian dari manusia.

Mari mengejar pujian dari Allah yang menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]Roma 2:12-29
  2. [2]Roma 2:13
  3. [3]Roma 2:14-15
  4. [4]Roma 2:16
  5. [5]Roma 2:28-29

1 thought on “Allah menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.