Yesus bukan jawaban untuk Covid-19

Yesus jawaban! Ini salah satu kalimat andalan orang Kristen, ada banyak lagunya juga toh. Tetapi, saya musti mengecewakan Anda, kali ini di masa pandemi Covid-19 ini, Yesus bukanlah jawabannya.

Tunggu dulu, saya bukannya tidak percaya kemahakuasaan Kristus, saya bukannya tidak percaya bahwa bilur-Nya mampu menyembuhkan segala sakit penyakit. Saya percaya — bahkan saya tahu persis — dengan sepatah kata saja yang Dia ucapkan, selesai ini pandemi. Tetapi, kok saya rasa Kristus tidak akan melakukannya.

Saya pernah mendengar kotbah yang mengatakan kalau pandemi ini adalah murka Allah, atau ada juga pengkotbah di mimbar yang menyampaikan bahwa Covid-19 ini adalah panah-panah iblis. Saya kok merasa kalau Covid-19 ini tidak ada hubungannya dengan urusan-urusan ilahi ya.

O’ya, saya sepakat dengan Anda kalau Anda mulai mengutip pernyataan Alkitab, bukankah Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan?

Homo Deus halaman 15

Saya hanya ingin mengatakan jangan menyalahkan iblis atau Tuhan, kalau sebenarnya pandemi Covid-19 dan banyak penyakit yang muncul sebelumnya adalah karena tingkah polah manusia. Mari mundur dua-tiga dekade ke belakang. Bukankah penyakit-penyakit yang muncul sebenarnya penyakit yang hidup bermula pada hewan. Mengapa kemudian bisa menular ke manusia?

Bukan hanya masalah pendemi Covid-19 ini sih. Saya selalu berpendapat bahwa masalah kesehatan dan umur panjang itu bukanlah tanggung jawab Tuhan.

Dalam hal Covid-19 ini saya setuju dengan Yuval Noah Harari dalam bukunya Homo Deus yang terbit pertama kali di tahun 2015. Pada halaman 15, dia menuliskan demikian:

Jadi, sementara kita tidak bisa tahu pasti bahwa suatu wabah baru Ebola atau galur flu tidak dikenal tidak akan melanda dunia dan membunuh jutaan orang, kita tidak akan menganggap ini sebagai bencana alam yang tidak terelakkan. Namun, kita akan melihatnya sebagai sebuah kegagalan manusiawi yang tidak bisa dimaklumi begitu saja dan menuntut pihak-pihak terkait untuk bertanggung jawab … bahwa manusia memiliki pengetahuan dan alat untuk mencegah wabah, dan jika sebuah epidemi ternyata tidak terkendali, itu karena manusia tidak kompeten, bukan karena kemarahan ilahi.

Lalu apa yang musti kita kerjakan? Lah, kok masih bertanya. Sudah jelas ‘kan:

  • Memakai masker
  • Mencuci tangan
  • Menjaga jarak

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.