Gadis tawanan tak bernama

      No Comments on Gadis tawanan tak bernama

Anak perempuan tak bernama, karena memang Alkitab tidak menyebut namanya. Hanya disebutkan seorang anak perempuan dari Israel yang menjadi tawanan orang Aram, dan kemudian menjadi pelayan bagi istri Naaman.

Siapa dia, dan apa yang dikerjakannya sehingga Allah mencatatkan namanya di dalam Buku Sejarah-Nya? Mari kita baca dalam 2 Raja-raja 5:1-14

<1> Naaman, panglima raja Aram, adalah seorang terpandang di hadapan tuannya dan sangat disayangi, sebab oleh dia TUHAN telah memberikan kemenangan kepada orang Aram. Tetapi orang itu, seorang pahlawan tentara, sakit kusta. <2> Orang Aram pernah keluar bergerombolan dan membawa tertawan seorang anak perempuan dari negeri Israel. Ia menjadi pelayan pada isteri Naaman. <3> Berkatalah gadis itu kepada nyonyanya: “Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya.” <4> Lalu pergilah Naaman memberitahukan kepada tuannya, katanya: “Begini-beginilah dikatakan oleh gadis yang dari negeri Israel itu.” <5> Maka jawab raja Aram: “Baik, pergilah dan aku akan mengirim surat kepada raja Israel.” Lalu pergilah Naaman dan membawa sebagai persembahan sepuluh talenta perak dan enam ribu syikal emas dan sepuluh potong pakaian. <6> Ia menyampaikan surat itu kepada raja Israel, yang berbunyi: “Sesampainya surat ini kepadamu, maklumlah kiranya, bahwa aku menyuruh kepadamu Naaman, pegawaiku, supaya engkau menyembuhkan dia dari penyakit kustanya.” <7> Segera sesudah raja Israel membaca surat itu, dikoyakkannyalah pakaiannya serta berkata: “Allahkah aku ini yang dapat mematikan dan menghidupkan, sehingga orang ini mengirim pesan kepadaku, supaya kusembuhkan seorang dari penyakit kustanya? Tetapi sesungguhnya, perhatikanlah dan lihatlah, ia mencari gara-gara terhadap aku.” <8> Segera sesudah didengar Elisa, abdi Allah itu, bahwa raja Israel mengoyakkan pakaiannya, dikirimnyalah pesan kepada raja, bunyinya: “Mengapa engkau mengoyakkan pakaianmu? Biarlah ia datang kepadaku, supaya ia tahu bahwa ada seorang nabi di Israel.” <9> Kemudian datanglah Naaman dengan kudanya dan keretanya, lalu berhenti di depan pintu rumah Elisa. <10> Elisa menyuruh seorang suruhan kepadanya mengatakan: “Pergilah mandi tujuh kali dalam sungai Yordan, maka tubuhmu akan pulih kembali, sehingga engkau menjadi tahir.” <11> Tetapi pergilah Naaman dengan gusar sambil berkata: “Aku sangka bahwa setidak-tidaknya ia datang ke luar dan berdiri memanggil nama TUHAN, Allahnya, lalu menggerak-gerakkan tangannya di atas tempat penyakit itu dan dengan demikian menyembuhkan penyakit kustaku! <12> Bukankah Abana dan Parpar, sungai-sungai Damsyik, lebih baik dari segala sungai di Israel? Bukankah aku dapat mandi di sana dan menjadi tahir?” Kemudian berpalinglah ia dan pergi dengan panas hati. <13> Tetapi pegawai-pegawainya datang mendekat serta berkata kepadanya: “Bapak, seandainya nabi itu menyuruh perkara yang sukar kepadamu, bukankah bapak akan melakukannya? Apalagi sekarang, ia hanya berkata kepadamu: Mandilah dan engkau akan menjadi tahir.” <14> Maka turunlah ia membenamkan dirinya tujuh kali dalam sungai Yordan, sesuai dengan perkataan abdi Allah itu. Lalu pulihlah tubuhnya kembali seperti tubuh seorang anak dan ia menjadi tahir.

Rupanya cuma satu hal yang gadis ini lakukan, yaitu mengatakan kepada istri Naaman, “Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya.” Ya … itu saja. Mengapa hal ini begitu penting hingga ditulis oleh Alkitab?

Bagi orang Israel, menjadi tawanan dan terbuang di negeri asing itu adalah aib yang sangat besar. Hal itu sama artinya memisahkan mereka dari TUHAN Allah. Maka kalau kita baca Alkitab di saat bangsa Israel terbuang, yang mereka nantikan adalah waktu kembalinya mereka ke tanah Yehuda. Dan itulah isi doa mereka, dan ada kecenderungan mereka mengutuk negeri tempat mereka dibuang.

Saat Naaman tiba-tiba terkena penyakit kusta, kemungkinan umum yang ada di pikiran gadis itu adalah dia akan merasa senang karena penculiknya, tuan di mana dia menjadi budak terkena kutukan. Ingat di masa itu kusta itu adalah penyakit yang tidak tersembuhkan dan sangat menular. Sehingga, para penderita penyakit kusta harus diasingkan dan hidup tersendiri. Kalaupun ada yang bisa menyembuhkan penyakit kusta, adalah TUHAN sendiri.

Tetapi apa yang dilakukan oleh gadis itu adalah memberitahukan bahwa ada harapan di tanah Israel. Mengalahkan semua naluri alamiahnya sebagai orang Israel yang tertawan, dia menjadi pemberita Injil. Perhatikan bahwa gadis ini tidak sekedar mengatakan bahwa ada nabi yang bisa menyembuhkan di tanah Israel, yang sesungguhnya gadis ini beritakan adalah, ada TUHAN Allah yang hidup yang mengalahkan semua kuasa penyakit.

Dan kita tahu bersama, bagaimana kisah ini berakhir. Pahlawan bagi Allah adalah pribadi-pribadi yang memberitakan Nama-Nya melalui kehidupannya di mana pun dan dalam kondisi apapun. Mari bersama, di manapun dan dalam kondisi apapun memberitakan berita sukacita di dalam Yesus Tuhan.

Saya akan mengingatkan bahwa Tuhan Yesus mengatakan kepada kita, “Kamu adalah garam dunia!” (Matius 5:13). Dia tidak memerintahkan kita supaya menjadi garam dunia, kita ADALAH garam dunia. Maka, berhentilah menjadikan gereja Anda seperti “gudang garam”, garamilah dunia!

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.