Siapa sih yang belum pernah mendengar perumpamaan lima gadis bijaksana dan lima gadis yang bodoh ini?
1 “Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. 2 Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. 3 Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, 4 sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka. 5 Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. 6 Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia! 7 Gadis-gadis itupun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. 8 Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. 9 Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ. 10 Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. 11 Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu! 12 Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu. 13 Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.”[1]
Ada beberapa prinsip yang saya rasa kita semua sudah menangkap dari perumpamaan ini.
Pertama, kalau ada satu kata yang membedakan dua kelompok gadis ini, itu adalah kata persiapan. Kedatangan Tuhan itu hal yang pasti, meskipun waktunya kita tidak tahu. Di situlah pentingnya persiapan.
Mengapa kelima gadis bijaksana itu tidak mau membagi minyak mereka? Di mana kemudian prinsip kasih dan berbagi dalam Kekristenan? Kedua, hal menyambut kedatangan Tuhan bersifat pribadi, bukan tanggung jawab kolektif. Semua orang Kristen mungkin menanti-nantikan kedatangan Tuhan, tetapi persiapannya menjadi tanggung jawab pribadi masing-masing.
Prinsip ketiga dan keempat, baru saja saya menemukan. Mohon maaf kalau tafsiran kita berbeda di sini.
Di ayat 5 dituliskan bahwa mempelai pria itu, “lama tidak datang-datang juga”. Dalam bahasa Yunani digunakan kata “chronizo” yang secara harafiah berarti melambat-lambatkan. Apakah artinya Tuhan menunda-nunda kedatangan-Nya?

Keempat – ini yang saya jadikan judul khotbah ini – perhatikan bahwa kesepuluh gadis itu, semuanya tertidur. Digunakan kata “katheudo” yang rupanya punya makna metafor yang asik. Silakan buka kamus Strong, katheudo ini punya dua makna:
- to yield to sloth and sin
- to be indifferent to one’s salvation
Ini dua hal yang harus kita waspadai dalam persiapan di masa penantian ini. Satu, menyerah kepada kemalasan dan dosa. Kemalasan dalam mempersiapkan diri menyambut kedatangan Tuhan. Kedua, menjadi acuh tak acuh kepada Amanat Agung selagi kita menantikan kedatangan-Nya.
Ingat pernyataan Tuhan Yesus sesaat sebelum Dia naik ke sorga?
“Engkau tidak perlu mengetahu masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya … dan kami akan menjadi saksi-Ku”.[2]
Bagaimana mempersiapkan diri menyongsong kedatanga-Nya, dengan tetap teguh mengerjakan tugas yang diberikan-Nya kepada kita.
=======<0>=======
Jika tulisan saya berguna untuk Anda, bolehlah sedikit saweran untuk menyemangati saya berkarya.
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
