Gereja rumah: the new normal church?

Mungkin 2004 atau 2005, saya lupa tepatnya saat muncul gairah dalam doa dan pelayanan tentang namanya Gereja Rumah. Sudah jelas ada gambaran semacam apa Gereja Rumah itu, bagaimana mulai merintisnya. Waktu itu, buku-bukunya C. Peter Wagner yang banyak memberikan inspirasi. Sosok yang banyak disebut sebagai Profesor pertumbuhan gereja ini banyak memberikan gambaran melalui buku-bukunya. Beberapa judulnya masih saya ingat, sayang buku-buku itu ada rumah satunya, jadi tidak bisa lengkap menyebutkan. Churchquake, Church Planting For A Greater Harvest, The New Apostolic Churches, Gereja Saudara Dapat Bertumbuh, adalah beberapa judul di antaranya. Dan satu lagi yang tidak kalah penting adalah bukunya Wolfgang Simson, Houses That Change The World: The Return Of The House Churches.

Memang gairah itu seakan menghablur ditimpa oleh kenyataan pada satu dekade terakhir di mana gereja-gereja memilih membangun ibadah raya. Saya masih ingat waktu itu ada satu kalimat ditujukan ke saya. Tidak mungkin membangun gereja rumah yang berdiri sendiri. Gereja tanpa ibadah bukanlah sebuah gereja. Hanya kondisi ekstrem macam aniaya gereja yang bisa melahirkan gereja-gereja rumah.

Waktu itu apa yang ada di gambaran saya tentang Gereja Rumah? Sebuah persekutuan yang indah antara dua tiga keluarga yang berdekatan rumahnya. Tidak harus di hari Minggu, dipimpin oleh seorang diaken yang menyampaikan pengajaran yang Alkitabiah. Ditopang oleh karunia lima jawatan yang bisa melayani berkeliling. Dalam satu waktu para diaken berkumpul bersama dengan karunia lima jawatan, berdoa, membicarakan pelayanan, dan bahan pengajaran. Jika diperlukan gereja-gereja rumah bisa mengadakan ibadah raya bersama-sama.

Eh, saya baru tersadar hari Minggu kemarin, ketika foto-foto bersliweran di status Whatsapp, di media sosial, menampakkan keluarga-keluarga yang berkebaktian bersama-sama. Tanpa sadar, air mata saya menetes. Lebih dari 10 tahun, dan saya menyaksikan Covid-19 menjadi cara Allah bekerja, sekaligus menjawab doa saya.

Saya mendengar banyak kesaksian, bagaimana rumah-rumah dibuka untuk menampung satu atau dua keluarga tetangga supaya bisa kebaktian bersama. Saya melihat satu keluarga dari kakek hingga cucu yang berkebaktian bersama. Yang punya koneksi internet, akan terhubung dengan pelayanan online dari gerejanya. Yang tidak, kebaktian akan dipimpin satu orang yang dituakan. Blessing in disguise? Yes!

Rumah mertua saya dipinjam oleh salah satu gereja untuk mengadakan kebaktian di hari Minggu. Ruang tamu diisi tujuh delapan orang, termasuk kedua mertua saya, meskipun bukan gerejanya sendiri. Beberapa rumah lain juga dipinjam. Jadwal kebaktian diatur supaya gembalanya bisa berputar dari satu rumah ke rumah yang lain untuk menyampaikan kotbah.

Katanya Covid-19 tidak akan hilang dari kehidupan kita. Apakah artinya gereja rumah akan menjadi the new normal church? Saya tidak berani menjawabnya.

Mengapa sih begitu bergairah dengan gereja rumah? Saya hanya bisa menjawab ini. Kalau dulu kita hanya punya satu jala, dan sekarang ada beberapa jala, secara statistik, kemungkinan ikan yang ditangkap akan lebih banyak ‘kan?

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.