Apakah hubungan upacara bendera dengan nasionalsime?

Upacara-bendera

Yup, saya sedang niat menulis tentang nasionalisme hari-hari belakangan ini. Apalagi setelah terbukanya fakta ada beberapa institusi pendidikan di wilayah Solo yang ternyata tidak mau menghormat bendera Merah Putih, tidak mau mengadakan upacara bendera, tidak mengajarkan Pancasila, tidak mengajarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya, tidak memasang atribut kebangsaan. Cuma, saya menunggu beberapa lama supaya isu ini akhirnya mencapai solusinya sendiri. Dan benar, rupanya berita terakhir menyatakan bahwa beberapa institusi pendidikan itu sudah bersedia sepakat untuk mengubah kebiasaan mereka sebelumnya.

Hari Sabtu tanggal 6 Juni 2011 kemarin, sahabat saya, mas Sigit Ari yang sedang merantau di luar Jawa kirim sms tentang nasionalisme. Seingat saya, kami sangat jarang berbincang tentang hal ini. Dia menceritakan adanya warga Indonesia yang berada di perbatasan yang memilih berpindah kewarganegaraan. Dia menyebutkan bahwa nasionalisme kebangsaan sekarang ini sudah banyak berkurang. Mengapa? Apa alasannya? Itulah yang saya ingin tulis di sini. Tapi sekali lagi, ini pendapat saya lho ya.

Pertama, kalau melihat rakyat di daerah perbatasan yang memilih pindah warga negara, saya berani mengatakan bahwa alasannya adalah dorongan ekonomi. Jaminan-jaminan ekenomi yang diberikan negara tetangga kita sepertinya jauh lebih menarik dan jauh lebih memberi kepastian daripada apa yang bisa disediakan negara ini. Hal ini diperparah dengan kenyataan – meskipun saya belum melihat sendiri daerah perbatasan – bahwa pemerataan kemajuan dan pembangunan yang sangat tidak merata.

Waktu sms-an dengan mas Sigit Ari, saya menyebutkan bahwa kita ini yang hidup di pulau Jawa yang menikmati kemajuan pembangunan ekonomi dengan segala fasilitasnya. Saya kok merasa bahwa masih banyak daerah yang belum merasakan hal ini. Maka, tidak bermaksud membenarkan pilihan pindah warga negara, tetapi saya melihat bahwa rakyat negeri ini masih begitu “merindukan” kepastian jaminan eknonomi dari pemerintahnya.

Saya rasa, kondisi semua yang terjadi di dalam bangsa ini sangat mempengaruhi nasionalisme dan kecintaan rakyat terhadap negara Indonesia. Sepertinya rakyat mengharapkan yang lebih dari pemerintah dan negara ini, tetapi itu semua tidak mereka lihat dan tidak mereka alami. Lunturlah cinta akan bangsa ini.

Kedua, penanaman nilai nasionalisme kebangsaan yang sudah memudar. Lihat kasus sekolah-sekolah yang ditemukan – tidak tahu apakah masih ada yang lain – tidak mengadakan upacara bendera. Kembali kepada pertanyaan di atas, apakah upacara bendera bisa meningkatkan nasionalisme? Apakah hafal Pancasila berarti punya rasa nasionalisme? Apakah hormat bendera setiap hari Senin bisa mengembangkan nasionalisme?

Saya juga tidak bisa menjawabnya, tetapi yang akan saya utarakan di sini adalah pengalaman saya selama ini. Ketika ada upacara bendera, ketika menyuarakan Pancasila, ketika menyanyikan Indonesia Raya, siswa sedari dini diajarkan untuk mengenal, memahami, dan pada akhirnya menyerap identitas-identitas kebangsaan Indonesia. Mereka akan mengenal dan mengerti bahwa Pancasila ada, Indonesia Raya tercipta karena pengorbanan banyak orang. Mereka akan menyadari bahwa supaya Merah Putih itu bisa dikibarkan di tanah ini, banyak orang rela mengorbankan seluruh jiwa raganya. Mereka akan tahu bahwa bangsa dan negara ini berdiri dengan harga yang sangat mahal.

Kalau oleh alasan tidak ada halaman, tidak ada tiang bendera, tidak ada anggaran untuk memfasilitasi itu semua, lalu anak-anak sama sekali tidak tahu Pancasila, tidak bisa lagu kebangsaannya sendiri, … ah … saya pikir itu alasan yang terlalu dibuat-buat. Waktu SD, lokasi sekolah saya ditempati dua SD, bisa dibayangkan bagaimana kalau harus upacara bendera. Waktu SMP, halaman sekolah saya tidak cukup untuk upacara bendera, sehingga setiap upacara harus menutup jalan raya di depan sekolah.

Saya tidak sedang mengatakan untuk mengembalikan pelajaran PMP atau penataran P4, saya hanya ingin mengatakan jika sekolah tidak lagi menanamkan nasionalisme dan cinta kebangsaan kepada siswa-siswi sejak dini, maka tinggal tunggu waktu saja untuk lihat apa jadinya negeri ini.

Ketiga, faktor lingkungan atau keluarga yang mengabaikan nilai-nilai nasionalisme. Harian Joglosemar mewawancari seorang wali murid yang mengatakan bahwa anak-anak tidak perlu diajari tentang nasionalisme, nanti pada waktunya mereka akan belajar sendiri. Wotz!!! Dengar ya bapak ibu orang tua, kalau Anda menunggu mereka belajar sendiri tentang nasionalisme, sekali waktu akan ada yang mengatakan kepada mereka kalau mereka harus cinta bangsa ini, caranya dengan mengebom simbol-simbol negara asing. Itukah yang Anda inginkan?

Kita semua mustinya cukup tahu, bahwa usia anak-anak dan remaja membutuhkan teladan. Kalau role-model yang mereka lihat setiap hari adalah orang-orang yang mengabaikan nilai-nilai nasionalisme dan kebangsaan, apa jadinya generasi ini kelak?

Banyak orang mengatakan kalau kapitalisme dan konsumerisme dunia barat sudah menggerogoti bangsa ini. Tetapi yang tanpa disadari adalah, banyak di antara mereka yang juga merusak bangsa ini dari dalam dengan mengabaikan nilai-nilai nasionalisme. Tinggal tunggu waktu saja, siapa yang lebih cepat menghancurkan bangsa ini, nilai-nilai dunia barat atau pengabaian kita akan nilai-nilai kebangsaan.

Adalah fakta bahwa bangsa ini berada dalam kondisi moral yang semakin merosot. Korupsi di mana-mana, ketidakjujuran sudah biasa, integritas pemerintah yang hilang, memang negera ini belumlah sempurna. Namun, kita tetap harus cinta bangsa ini sekalipun ada ketidaksempurnaannya. Merindukan yang idel sementara mengkritik yang nyata adalah bukti ketidakdewasaan. Sebaliknya, tinggal dalam kenyataan tanpa memperjuangkan yang ideal merupakan sikap puas dengan diri sendiri.

Tulisan ini adalah isi hati saya yang tidak rela Indonesia diinjak-injak. Jika Anda tidak cinta bangsa ini, maaf saja, pergi sajalah keluar dari negara ini! Jayalah Indonesia.

Referensi: http://harianjoglosemar.com/

 

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

1 thought on “Apakah hubungan upacara bendera dengan nasionalsime?

  1. stanis

    Bagi sekolah yang melarang/tidak menyelenggaran upacara bendera setiap hari snin mendingan dideportasi saja ke timika!!!!

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.