Covid-19 & ayat Alkitab

      No Comments on Covid-19 & ayat Alkitab

Semenjak pandemi Covid-19 menyerang negara ini, banyak ayat-ayat Alkitab bersliweran di media sosial saya. Senang sih lihat orang jadi lebih rohani daripada biasanya, harapannya sih benar-benar rohani, bukan sekedar kelihatan rohani.

Benar, banyak ayat yang dipakai menunjukkan kecocokan dengan kondisi pandemi Covid-19. Sampai saya bertanya-tanya, jangan-jangan kita ini sedang perang ayat. Oh, di agama sana kitab sucinya ada ayat tentang Corona, lalu kita cari-carilah ayat yang cocok di Alkitab kita. Saya harap tidak demikian.

Perbandingan Yesus 26:20
Perbandingan Yesaya 26:20 MySword

Memang apa salahnya mengutip ayat Alkitab, toh memang sesuai dengan kondisi saat ini? Tidak salah, silakan saja, tidak ada yang melarang kok. Cuma, saya mengingatkan begini ya. Ketika kita mempelajari Alkitab, mohon diingat ini, setiap teks pasti muncul dari konteks.

Lah terus? Musti belajar tafsiran Alkitab dulu, musti jadi ahli teologia dulu? Nah kan, jadi marah to. Tidak perlu kuliah teologia dulu mempelajari Alkitab, maksud saya adalah, jangan melepas teks dari konteksnya.

Saya beri contoh ya. Salah satu ayat yang akhir-akhir ini muncul dikutip dari Yesaya 26:20.

Mari bangsaku, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintumu sesudah engkau masuk, bersembunyilah barang sesaat lamanya, sampai amarah itu berlalu.[1]

Apa salahnya dengan ayat itu? Bukannya cocok dengan kondisi sekarang? Tidak boleh mengutip ayat itu? Nah, marah lagi. Silakan saja pakai ayat itu, saya tidak melarang kok. Boleh saja Anda mengutip ayat itu selama – sekali lagi selama – perspektif Anda menganggap kondisi sekarang sebagai amarah Tuhan.

Lhoh kok? Nah itu di ayat itu ‘kan kondisinya sedang dalam amarah Tuhan to? Mangga, silakan kalau perspektif Anda demikian. Apakah pandemik Covid-19 itu merupakan amarah Tuhan? Silakan dijawab.

Memang salah dengan perspektif demikian? Nah, tiga kali marah ‘kan. Tidak ada yang salah dengan perspektif masing-masing. Perspektif itu ‘kan pilihan Anda untuk memandang sesuatu, itu hak Anda.

Saya hanya ingin menawarkan perspektif yang lain. Bagaimana jika kita tidak memandang pandemi ini sebagai amarah, tulah, atau hukuman Tuhan; bagaimana jika kita memandangnya sebagai sebuah KESEMPATAN?

  • kesempatan untuk lebih banyak waktu dengan keluarga;
  • kesempatan untuk belajar mengucap syukur dalam segala perkara;
  • kesempatan untuk berbuat lebih banyak kebaikan;
  • dan tentu saja kesempatan untuk bertobat?

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]Yesaya 26:20

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.