Tutup pasta gigi & Covid-19

Bukan karena sedang pandemi lalu mencocokkan tulisan. Ini tulisan awalnya saya beri judul “Kemubaziran tutup pasta gigi”, dan siap saya kirim ke salah satu media daring. Tapi sepertinya lebih cocok dengan kondisi sekarang, dengan sedikit perubahan jadilah ini tulisan.

Entah apa yang semacam ini juga terjadi di kamar mandi rumah Anda, tetapi ini yang terjadi di rumah kami.

Kasus 1. Saya masuk kamar mandi, hendak gosok gigi. O’ya, saya punya kebiasaan sikat gigi tidak saya letakkan di kamar mandi, tetapi saya punya tempat sendiri di kamar, supaya tidak tertukar. Pasta gigi ada di tempatnya, bentuk masih bagus, tutupnya masih terpasang di sana.

Kasus 2. Sama dengan yang pertama, tetapi sekarang tutup pasti gigi sudah tidak menempel di pasta gigi. Ini prosentase terbesar yang terjadi di rumah kami. Tutup pasta gigi sudah pindah tempat, bisa di atas tempat sabun lah, masuk di ember lah, masuk di bak air lah, yang jelas sudah tidak menempel di pasta giginya.

Kasus 3. Lebih parah lagi, tutup pasta gigi saya cari kemana-mana sudah tidak ada di area kamar mandi. Raib, entah di mana. Tidak lucu ‘kan kalau saya bilang tutup pasta giginya menguap. Atau jangan-jangan orang terakhir yang menggunakan pasta gigi tidak sengaja menelan tutupnya.

Tutup pasta gigi

Lalu apa hubungannya dengan Covid-19?

Saya rasa menutup kembali pasta gigi itu ‘kan sebenarnya berurusan dengan kebiasaan kita saja to. Dan itu adalah kebiasaan kecil yang sederhana. Tapi, yang saya pandang sederhana itu ternyata tidak sederhana bagi orang lain. Bagi saya, membuka tutup pasta gigi, mengoleskan pasta gigi di sikat gigi, lalu menutup kembali pasti gigi, baru melanjutkan ritual pasta gigi adalah sesuatu yang sepertinya otomatis. Tetapi, rupanya bagi orang lain, tidak semudah itu ternyata.

Siapa yang menyangka SARS-Cov-2 yang menakutkan itu bisa dikalahkan dengan kebiasaan kecil semacam mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir secara benar. Saya rasa sosialisasi cuci tangan yang benar ini sudah berjalan beberapa tahun yang lalu. Dan saya pada waktu itu adalah orang yang meremehkan hal ini. Bagi saya dulu, mencuci tangan itu yang penting ‘kan bersih dan kalau bisa menghilangkan bau yang tidak enak.

Siapa yang menyangka bahwa kebiasaan kecil 20 detik ini menjadi senjata ampuh yang bisa menyelamatkan nyawa kita. Tetapi, tidak semua orang punya kebiasaaan semacam ini. Saya memperhatikan mereka yang tidak terbiasa, terlihat gagu dan gagap dengan cara cuci tangan ini.

Di dalam Alkitab saya ada frase: “setia kepada perkara-perkara kecil”. Kadangkala saya menghidupi frase ini sampai hal-hal yang cukup ekstrim, dan saya bersyukur memiliki kebiasaan-kebiasaan kecil, yang ternyata menjadi hal-hal yang besar.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.