Orang tua sebagai pendidik dan pengajar

Menjadi ayah dan ibu adalah doa yang hari-hari ini sedang kami panjatkan. Dan sekali waktu Tuhan menjawab doa saya ini dengan ayat ini.

Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu.[1]

Saya ingin membagikan kebenaran yang saya tangkap ini kepada Anda yang sudah menjadi orang tua, atau yang sedang mempersiapkan diri menjadi orang tua seperti kami. Tanggung jawab utama sebagai pendidik dan pengajar anak-anak ada di tangan orang tua. Masalahnya yang sering kami berdua temui sebagai pengajar dan guru di sebuah lembaga pendidikan, adalah tanpa disadari orang tua menyerahkan sepenuhnya pendidikan dan pengajaran anak-anak mereka kepada guru-guru di sekolah.

Hal ini dipandang sebagai sebuah kewajaran karena paling tidak dalam dunia pendidikan sekarang ini, anak-anak menghabiskan seperempat hari mereka bersama dengan guru-guru di sekolah. Kita jarang mencermati ini, 25% waktu anak-anak kita dalam sehari dihabiskan bukan dengan orang tua mereka. Begitu pulang dari sekolah, bukannya orang tua yang mereka temui, mereka akan disambut oleh instruktur les, intruktur kursus ini dan itu. Sesampainya orang tua pulang bekerja, energi kita sudah habis.

musar

musar

Sekali lagi, Alkitab mengingatkan kita hari ini bahwa tanggung jawab kita sebagai orang tua yang dititipi anak-anak ilahi ini untuk mendidik dan mengajar mereka. Amsal menggunakan kata musar untuk menunjuk kepada didikan. Kata ini lebih mengarah kepada pendisiplinan, koreksi, dan hukuman. Tanggung jawab orang tua untuk mendidik anak-anak adalah dalam rangka membawa mereka kepada jalan yang benar. Ketika anak-anak kita mulai melenceng, koreksi harus diberikan, itulah mendidik.

Sedangkan kata torah digunakan untuk kata ajaran. Torah di sini menunjuk kepada hukum, instruksi, arahan untuk membentuk kebiasaan dan karakter. Tanggung jawab orang tua dalam mengajar anak-anak adalah untuk membentuk karakter kehidupan mereka menjadi sempurna.

Maka, dengan menyadari besarnya tanggung jawab sebagai orang tua, saya mengajak kita semua menengok kehidupan kita masing-masing. Bagaimanakah kualitas pendidikan dan pengajaran yang kita berikan bagi anak-anak kita? Apakah kita sudah menjadi pendidik dan pengajar yang memberikan dampak dalam hidup anak-anak kita? Bagaimana caranya?

Saya sudah pernah mengkhotbahkannya, mari meneladani Sang Guru Agung. Selengkapnya bisa dibaca di tulisan saya yang berjudul Pengajar Yang Berkuasa. Kristus Yesus menunjukkan bagaimana menjadi pengajar yang berkuasa dengan menghidupi setiap apa yang dikatakan. Anak-anak kita belajar dengan melihat kehidupan kita. Kuasa dari didikan dan pengajaran kita nampak nyata saat mereka melihat apakah kita benar menghidupi apa yang kita katakan.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]Amsal 1:8

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.