Reportase pribadi: bus Batik Solo Trans (BST)

Sebenarnya minggu lalu lihat bus Batik Solo Trans (BST) sudah aktif. Cuma belum sempat mencobanya. Kebetulan hari ini ada kesempatan untuk mencoba bus BST. Ini hanya reportase pribadi, saya sarankan Anda untuk mencobanya juga, nyaman kok. Reportase ini saya tulis dari pengalaman pribadi, sekaligus juga wawancara singkat dengan kondektur dan sopir bus BST selama perjalanan siang tadi. Sebenarnya sudah ada livetweet tadi siang, silakan baca di timeline saya.

Bus BST ini melayani dari jam 5 pagi sampai 6 sore. Sudah ada 15 armada bus BST yang siap melayani dalam dua jalur, A dan B. Setiap bus harus menempuh Palur ke Kartasuro dengan target waktu 70 menit, demikian juga sebaliknya. Tiket seharga Rp 3000 untuk dewasa dan Rp 1500 untuk anak-anak dan pelajar. Berbeda dengan Busway Transjakarta yang tiketnya dibeli di shelter, bus BST ini tiket dibeli di atas bus, dilayani oleh seorang kondektur. Karena tidak punya jalur khusus, bus BST ini tidak bisa melaju cukup kencang, apalagi Walikota Solo, Bp. JokoWi sudah mewanti-wanti para sopir untuk tidak melaju melebihi 40 km/jam. Waktu tadi mencoba, saya naik dari halte di depan PMI Solo dan turun di terminal Kartasuro. Dengan kondisi jalan yang macet, jarak itu ditempuh dalam waktu kurang lebih 63 menit. Jadi, meskipun kondisi jalan yang sibuk, saya berpandangan bus BST ini cukup cepat sebagai transportasi umum.

Di kota Solo ini, kendaraan pribadi — sepeda motor maupun mobil —¬†masih menjadi moda trasportasi yang dominan. Jika bus BST ini bisa dipertahankan performanya seperti yang sekarang, maka bisa menjadi alternatif “mass rapid transport” yang bagus. Tadi ada penumpang dari Jogja, yang cerita kalau bus Transjogja sekarang tidak lagi sebaik dulu. Jadi, bus BST ini musti dipertahankan kualitasnya.

Kondisi bus BST yang saya tumpangi masih sangat baik. Kebersihan masih terjaga, bahkan disediakan juga keranjang sampah di dalam bus. Sistem keamanan juga cukup lengkap. Ada kaca pelindung di kursi dengan pintu geser, supaya penumpang tidak terantuk pintu. Ada pintu darurat di sebelah belakang. Juga ada tabung pemadam api. Plus untuk sopir, disediakan dobel spion. Feature keamanan sudah cukup tersedia. Ada 21 kursi yang tersedia di setiap bus BST, cukup nyaman untuk diduduki.

Halte khusus bus BST juga sudah siap hampir 100%. Halte hanya untuk menaikkan dan menurunkan pemumpang. Di beberapa halte ada seorang pengawas yang bertugas memberitahu sopir tentang interval waktu antarbus. Rupanya hal interval waktu ini sangat diperhatikan. Saya melihat ada satu halte yang digunakan untuk nongkrong dan mengobrol, hal seperti ini perlu dapat perhatian khusus. Rasanya baik juga kalau ada staf pengamanan di setiap halte. Dalam masa promosi ini, penumpang yang naik dan turun tidak di halte khusus masih sedikit ditoleransi. Tetapi supir cukup disiplin mengingatkan penumpang yang seperti ini kalau besok-besok harus naik dan turun di halte BST. Sepertinya supir masih belum terbiasa untuk mengemudikan bus ini supaya berhenti tepat di pintu halte. Waktu naik dari halte ke bus, jarak masih cukup lebar, jadi musti melompat. Hal ini diperparah dengan mobil-mobil yang parkir cukup dekat dengan areal halte. Sehingga supir semakin kesulitan untuk memaju-mundurkan bus agar pas di depan pintu halte. Saran saya, hal parkir mobil ini harus segera dirapikan.

Rupanya saya tadi naik bus BST jalur A. Dimulai dari Palur kemudian lewat Jln. Ir. Sutami, di Tugu Cembengan berbelok ke barat masuk Jln. Kolonel Sutarto. Sampai di perempatan Panggung belok ke Selatan di Jln. Urip Sumoharjo, terus lewat Pasar Gede masuk ke Jln. Jend. Sudirman di depan Balaikota Solo. Sampai Gladag belok ke timur ke area Galabo di depan PGS. Menurut mbaknya kondektur — semua bus BST jalur A kondekturnya wanita — kalau jalur B dari Gladag masuk lewat Pasar Klewer terus ke Barat. Sementara dari PGS belok ke selatan di Jln. Kapten Mulyadi, kemudian di perempatan Baturono, belok ke barat ke Jln. Veteran. Terus sampai ke Tipes, kemudian belok ke utara di Jln. Bhayangkara. Di perempatan Baron belok ke barat masuk Jln. Dr. Radjiman, kemudian belok ke utara di Jln. Dr. Wahidin sampai bertemu Jln. Slamet Riyadi di perempatan Gendengan. Masuk ke Jln. Slamet Riyadi terus ke barat sampai di terminal Kartasuro yang baru.

Sementara rute ke arah timur dari terminal Kartasuro tetap lewat Jln. Slamet Riyadi terus ke timur sampai di Gladag, belok ke Jln. Jend. Sudirman, Jln. Urip Sumoharjo, Jln. Kolonel Sutarto, Jln. Ir. Sutami terus sampai ke Palur.

Beberapa saran saya untuk bus BST adalah sebagai berikut:

  1. Areal parkir di sekitar halte khusus harus ditertibkan
  2. Jumlah penumpang harus dibatasi, supaya kenyamanan penumpang tetap terjaga
  3. Rasanya perlu dipasang jalur/rute yang dilalui, dan dipasang di dalam bus
  4. Saya melihat kondektur yang tidak berasal dari Solo masih belum hapal nama daerah di Solo, perlu segera adaptasi

Demikian reportase pribadi saya tentang pengalaman naik bus BST. Ayo, silakan coba rame-rame. Kalau ada raa tidak puas, ada nomor pengaduannya kok. Yang jelas, pengalaman tadi siang naik BST cukup buat saya untuk memuji moda transportasi kota Solo yang baru ini, terlepas ada tidaknya kekurangan-kekurangan.

Img0002bImg0003bImg0004bImg0005cImg0006cImg0007bImg0008bImg0009bImg0010bImg0011bImg0012bImg0014a

 

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

1 thought on “Reportase pribadi: bus Batik Solo Trans (BST)

  1. opet

    buat pemilik blog ini, saya acungkan jempol untuk anda..informasi anda sangatlah membantu… thanks

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.