Kewowogen

      No Comments on Kewowogen

Sudah dua tahun ini saya menggunakan aplikasi Bible Reading Schedule – bisa dibaca di sini – sederhananya ini aplikasi Android tentang jadwal pembacaan Alkitab harian selama satu tahun. Rata-rata empat sampai lima pasal setiap harinya. Nah, seminggu kemarin jadwal saya begitu penuh. Karena takut tidak bisa memenuhi jadwal harian baca Alkitab, saya memutuskan untuk mendahului jadwal. Membaca lebih banyak pasal di awal pekan dan di sela-sela waktu. Dan tahu yang terjadi? Kalau di Jawa ini ada istilah kewowogen, itulah yang saya alami.

Silakan googling makna kewowogen ini. Gambaran sederhananya semacam overwhelming, too much – dalam artian negatif – berlebihan. Kalau kondisi perut semacam kekenyangan sampai mual karena terlalu banyak. Tubuh sudah tidak mau lagi menerima karena terlalu banyak. Saya tidak lagi bisa mencerna ayat-ayat dan pasal-pasal yang saya baca, karena rupanya menjadi terlalu banyak melebihi apa yang saya mampu. Bukan berarti saya tidak bisa membaca banyak pasal dalam sekali waktu. Saya pernah menyelesaikan program “1 hari 1 kitab” dan “30 hari selesai Alkitab”. Tetapi, ada pelajaran berharga di sini.

Pertama, sebagaimana tubuh jasmani kita memiliki jam biologis dan memory muscle, demikian juga tubuh rohani kita. Kebiasaan-kebiasaan baik yang ditanamkan ke dalam tubuh rohani kita akan memunculkan karakter-karakter ilahi. Sayangnya, hal yang sama juga terjadi terhadap kebiasaan-kebiasaan buruk. Menjadi lebih masuk akal saat rasul Paulus mengatakan kepada Timotius, “Latihlah dirimu beribadah”.[1]

Kedua, tidak ada pahlawan iman yang “tercipta” seketika. Para pahlawan iman di dalam Alkitab dibentuk lewat proses demi proses. Tidak ada sinar gama rohani yang membuat kita seketika sekuat Hulk, atau kecelakaan petir ilahi yang membuat kita secepat Flash. Nope, tidak ada yang seperti itu. Kita tidak bisa berdoa tanpa henti 24 jam dan berubah menjadi super rohani, atau berpuasa atau membaca Alkita selesai dalam satu jam kemudian memiliki iman seperti Abraham. Bahkan saya berani mengatakan tidak ada tumpangan tangan seorang pendeta yang seketika membuat kita berubah menjadi pahlawan-pahlawan iman. Ketaatan Tuhan Yesus pun tidak muncul seketika karena Dia adalah Anak Allah, Dia pun berjuang untuk taat.

Ketiga, memulai sebuah kebiasaan ilahi adalah sesuatu yang berat, tetapi yang lebih berat adalah menghidupi kebiasaan-kebiasaan ilahi itu secara berkesinambungan.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]1 Timotius 4:7

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.