Azazel: bukan siapa, melainkan mengapa

Kemarin saya menuliskan tweet, mempertanyakan siapa Azazel, karena memang bingung siapa ini.

[blackbirdpie id=”187177399534878721″]

Daripada sekedar memberitahu Anda tentang Azazel, bagaimana jika topik ini sekaligus jadi contoh praktik dari seri tulisan Belajar Alkitab. Jadi, sekaligus mempraktikkan prinsip-prinsip belajar Alkitab yang sudah saya tuliskan sebelumnya.

Ini prinsip-prinsip belajar Alkitab yang sudah saya tuliskan, bukan berdasarkan urutan lho ya:

  • Jangan seenaknya memenggal ayat
  • Jangan berhenti di satu ayat
  • Bacalah Perjanjian Lama dengan hati di Perjanjian Baru
  • Jangan malas mencatat
  • Ambil penerapan praktis
  • Ajukan pertanyaan yang tepat

Saya akan jujur bahwa meskipun sudah beberapa kali menyelesaikan pembacaan Alkitab, kitab Imamat adalah salah satu kitab yang selalu ingin selesaikan secepat mungkin 🙂 Gampang bosan kalau di kitab ini, padahal kalau mau belajar sungguh-sungguh ya musti dibaca dengan lambat to?

Kata Azazel hanya ditemukan tiga kali dalam Alkitab, itupun dalam satu kitab, dan dalam satu pasal, yaitu di Imamat 16:8,10,26. Dalam Alkitab bahasa Ibrani (bahasa asli Alkitab Perjanjian Lama), juga hanya ditemukan 3 kali di pasal ini.

Ingat prinsip “Jangan seenaknya memenggal ayat” dan “Jangan berhenti di satu ayat”, maka silakan dibaca seluruh pasal 16 kitab Imamat ini. Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) memberi pasal ini judul “Hari Raya Pendamaian”. Khusus berkaitan dengan Azazel, imam harus membawa dua ekor kambing jantan. Dijelaskan bahwa akan dibuang undi untuk menetapkan yang mana dikorbankan untuk TUHAN dan yang mana akan tetap hidup untuk Azazel.

Nah, sampai di sini dulu saya ingatkan akan prinsip “Bacalah Perjanjian Lama dengan hati di Perjanjian Baru”. Silakan baca Ibrani 10:1-6! Setelah membaca kitab Ibrani ini, saya berpikir bahwa pertanyaan “siapakah Azazel?” mungkin tidak tepat diajukan, dan pertanyaan yang lebih tepat untuk diajukan adalah “mengapa Azazel?”. Nah, di sini kita berada dalam prinsip “Ajukan pertanyaan yang tepat”.

Untuk menggali kebenaran tentang Azazel ini saya menggunakan alat bantu aplikasi My Sword for Android yang sudah terpasang di handphone saya. Saya mencatat – ingat prinsip “Jangan malas mencatat” – ada beberapa temuan tentang Azazel

  1. Dalam bahasa Ibrani, memang digunakan kata “azazel” yang oleh STRONG diterjemahkan sebagai “goat of departure; entire removal; scapegoat”.
  2. Ada tafsiran yang menyatakan bahwa Azazel adalah nama tempat di mana kambing jantan yang hidup dilepaskan.
  3. Ada yang menyebutkan bahwa Azazel ini istilah yang muncul sebelum zaman Musa, untuk menyebutkan sosok yang berlawanan dengan TUHAN Yahweh, asal muasal segala kenajisan dan kejijikan.

Kita tidak bisa menyalahkan ataupun membenarkan tafsiran yang muncul, karena memang punya alasan masing-masing. Tafsiran yang menyebutkan bahwa Azazel adalah sosok jahat menjelaskan alasan bahwa kambing jantan yang dikorbankan menggambarkan umat yang sudah dikuduskan dan diterima oleh TUHAN, sementara kambing jantan yang di atasnya ditanggungkan dosa seluruh umat, dikirimkan bersama dengan semua dosa dan kenajisan ke tempat asalnya, Azazel sendiri. Di sini lebih mengarah kepada prinsip tumbal, di mana kambing jantan yang hidup menggantikan seluruh umat.

Ada banyak yang menolak tafsiran ini karena dianggap mempersembakan korban kepada iblis, yang jelas bertentangan dengan hukum-hukum Perjanjian Lama, apalagi Perjanjian Baru. Pada penolakan ini, pembelaannya adalah kambing jantan yang menjadi hak Azazel ini tidak dikorbankan, tetap hidup dan dikirimkan, bukan dikorbankan.

Sementara yang menyebutkan bahwa Azazel adalah nama tempat menjelaskan kalau Azazel itu adalah nama bukit/gunung yang menjadi tujuan pembuangan kambing jantan yang hidup itu. Kalau Azazel adalah nama satu tempat yang spesifik, rasanya akan sulit dipahami mengingat selama di padang gurun, Israel berjalan berputar-putar. Dan saat sudah di tanah perjanjian, itu berarti kambing jantan ini akan dikirim dari Yerusalem ke gunung Azazel yang tidak jelas tempatnya.

Masalah saya dengan dua tafsiran ini adalah karena Alkitab sendiri menolak dua tafsiran ini. Alkitab tidak pernah memberikan referensi tempat bernama Azazel ataupun sesosok pribadi yang bernama Azazel. Maka secara pribadi, saya tidak bisa menerima dua tafsiran itu. Maka tinggal satu penjelasan yang tersisa.

Beberapa versi Alkitab menggunakan kata “scapegoat” sebagai ganti kata Azazel. Saya melihatnya sebagai pemaknaan yang sama. Scapegoat itu mungkin sepadan dengan idiom “kambing hitam” dalam bahasa Indonesia. Dalam banyak kamus bahasa Inggris, scapegoat didefinisikan sebagai “orang yang benar yang dipersalahkan untuk menanggung suatu konsekuensi”.

Mari perhatikan lagi Imamat 16. Dua kambing jantan itu dipilih untuk menjadi korban penghapus dosa bagi umat [1], sekali lagi korban penghapus dosa bagi umat. Selain itu ada juga korban penghapus dosa bagi imam dan keluarganya, yaitu seekor lembu jantan[2].

Sekarang, mari lihat teknisnya. Setelah imam membuang undi untuk menentukan mana kambing jantan yang dikorbankan, dan mana yang tetap hidup[3], maka satu kambing jantan dikorbankan dan diolah sebagai korban penghapus dosa[4]. Sementara kepada satu kambing jantan dibiarkan hidup, imam “harus meletakkan kedua tangannya ke atas kepala kambing jantan yang hidup itu dan mengakui di atas kepala kambing itu segala kesalahan orang Israel dan segala pelanggaran mereka, apapun juga dosa mereka; ia harus menanggungkan semuanya itu ke atas kepala kambing jantan”[5], kemudian menyuruh orang untuk melepaskannya ke padang gurun. Hal ini dilakukan untuk mengadakan pendamaian antara umat dengan TUHAN[6].

Ah, saya yakin Anda sudah jelas sebenarnya apa maknanya kan? Mengapa Alkitab memberikan penjelasan yang begitu sedikit tentang Azazel adalah karena Alkitab tidak ditujukan untuk menjawab siapa Azazel, tetapi menjelaskan mengapa Azazel. Apa itu? Silakan baca Ibrani 7:26-27

“Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga, yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban.”

Jelas kan, Yesus kita telah menjadi imam, dan sekaligus dua kambing jantan itu. Kristus Yesus sebagai Imam Agung itu, mempersembahkan diri-Nya sendiri sampai mati sebagai korban penghapus dosa kita semua, dan sekaligus Dia hidup untuk mengadakan pendamaian anatar kita dengan Allah. Oh … betapa agung dan mulia Tuhan kita. Yesus yang benar telah menjadi “scapegoat” yang mengangkut segala kesalah[7] dan mengadakan “entire removal” (=penghapusan total) segala dosa kita.

Nah, saya meninggalkan prinsip “Ambil penerapan praktis” menjadi tugas Anda. Kalau Kristus Yesus yang adalah Imam Besar Agung itu mengorbankan diri-Nya untuk kita, menjadi “scapegoat” menebus dan menanggung hukuman yang seharusnya kita terima, apa yang kita kerjakan? Apakah kita masih akan terus mau hidup dalam dosa? Apakah kita masih mau terus dibelenggu kedagingan dan hawa nafsu dunia?

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]ayat 5
  2. [2]ayat 6
  3. [3]ayat 7-8
  4. [4]ayat 9, 22
  5. [5]ayat 20-21
  6. [6]ayat 10
  7. [7]Imamat 16:22

2 thoughts on “Azazel: bukan siapa, melainkan mengapa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.